Friday, July 16, 2010

هل تعرف كم قيمة الشعر في رأسك

Menghitung Nikmat Rambut
Tuesday, 27 October 2009 15:09
Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Pernahkah kita mensyukuri atas karunia rambut yang diberikan Allah pada kita?

Oleh: Syaefudin*

Ada yang menganggap bahwa rambut adalah mahkota. Oleh karenanya, tak aneh jika banyak orang mengidamkan kepala yang terus ditumbuhi rambut. Sesekali, mereka berkunjung ke salon khusus rambut. Bahkan, ada pula yang berkala mengunjungi salon untuk sekedar menata dan memanjakan penampilan mahkota kepalanya.

Di sisi lain, ada juga yang bersikap biasa saja terhadap setiap helai rambut di tubuhnya. Mereka acuh, atau bahkan bersikap biasa saja dengan rambut yang dipunya. Tak ada waktu rutin ke salon, apalagi berkeramas khusus dengan tujuan merawat mahkota kepala.

Terlepas dari itu semua, pernahkah kita menghitung berapa besar nilai setiap helai rambut yang Allah berikan? Jadi, tak hanya merawat dan menjaga rambut agar tetap tumbuh serta elok dipandang mata. Apalagi, membiarkan begitu saja nikmat fisik yang Allah amanahkan kepada manusia. Namun, hendaknya kita mencoba menghitung berapa nilai karunia Sang Pencipta dari hanya helaian rambut di setiap jengkal kulit manusia. Dengan itu, harapannya manusia lebih bisa bersyukur dengan setiap pemberian Rabb-nya.

Sejatinya, untaian rambut di kepala bukan sekedar mahkota. Ia juga berguna sebagai pelindung tubuh, khususnya kulit kepala dari bahaya sinar ultraviolet. Setidaknya, itulah hasil penelitian ilmuwan Australia baru-baru ini.

Harga Helai Rambut

Rambut, sebagai pelindung tubuh dari panas sekaligus pemanis rupa manusia adalah nikmat Allah yang tak terkira. Betapa tidak, bila dihitung harga setiap helainya maka yang ada malah manusia akan tercengang lantaran besarnya jumlah ‘kekayaan’ yang Sang Pencipta titipkan kepada mereka.

Penghitungan paling mudah yaitu membandingkan sejumlah rambut yang dimiliki, misalnya di kepala, dengan harga seutas rambut dan biaya penanamannya ke kulit manusia. Pencangkokan tersebut merupakan salah satu cara mutakhir untuk memperbaiki penampilan. Para pakar membuat dan mengembangkan teknologi penanaman rambut bagi siapa saja, baik yang berkepala botak maupun yang hanya ingin melebatkan rambut.

Di salah satu klinik penanaman rambut di Hongkong, untuk menanam sehelai rambut membutuhkan dana sebesar $ 20 (HKD). Bila ditukar dengan nilai rupiah, setiap rambut dihargai Rp 25.459 (data Bank Indonesia pada 20 Oktober 2009). Itu hanya biaya pembelian seutas rambut, belum biaya jasa konsultasi dokter, uji pemeriksaan awal, dan pengobatan.

Bila jumlah rata-rata rambut yang dimiliki manusia normal sebanyak 80 helai/cm2 kulit kepala (orang Asia) atau 120 helai/cm2 kepala (orang Eropa), paling sedikit uang yang harus disiapkan untuk penanaman rambut sekitar Rp 2.036.720 sampai Rp 3.055.080 untuk setiap cm2-nya. Atau, jika rata-rata kepala manusia normal mengandung 100.000 utas rambut berarti setiap orang harus membayar sejumlah Rp 2.545.900.000 atau sekitar 2.5 Milyar! SubhaanaLlaah.

Nilai tersebut lebih mengejutkan bila melihat kenyataan, bahwa rambut manusia ternyata tak hanya tumbuh sekali seumur hidup. Namun, bisa berulang kali. Bayangkan saja, bila setiap 10 tahun sekali rambut tersebut rontok semua dan harus ditanam ulang, maka berapa banyak uang yang perlu dibayarkan seseorang berumur 60 tahun?

Belum lagi jika orang tua memiliki anak, dan ketika anak lahir diwajibkan membayar biaya penanaman rambut. Bayangkan jika anaknya 2, 3, 4 atau lebih, maka berapa triliun yang perlu disiapkan? Ini sekedar rambut di kepala, belum di alis, bulu mata, dan tempat lainnya.

Syukuri Nikmat Allah ايها الإنسان اذكروا نعمة الله عليكم"

Demikianlah perhitungan karunia Allah hanya dari utasan rambut, belum yang lainnya. Sungguh besar kasih sayang-Nya sehingga tak sepeser pun dikeluarkan manusia untuk mendapatkan mahkota penghias raga. Maka sepatutnyalah manusia berterima kasih atas pemberian nikmat yang tak pernah ia minta ini, namun begitu saja diberi lantaran kasih sayang Allah yang tak terbatas pada manusia. Sebaliknya tidaklah pantas manusia yang lemah bersikap congkak di dunia.

Andai saja manusia mau berpikir dengan keagungan dan kemurahan Sang Pencipta, niscaya ia akan terus bersyukur dan senantiasa menghiasi diri dengan amal ibadah. Hal ini telah Allah ingatkan dalam Al Qur’an: “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az Zumar 39:66)

Bagi manusia yang telah mengerti akan besarnya pemberian Allah, lalu diikuti syukur atas apa yang diterimanya maka Sang Pemilik nikmat akan tambahkan lagi karunia lainnya sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim 14: 7).

Ilustrasi :wikipedia.org

Penulis adalah Asisten Dosen Metabolisme di Departemen Biokimia, FMIPA-IPB.





Referensi:

1. Dr. Bertram Medical Hair Transplant Center (2009). Our Pricing Policy. Hairtransplant.hk, June, 2009. (http://www.hairtransplant.hk/price.htm, terkunjungi pada 29 Juli 2009).

2. P&G Beauty Science. Hair Facts. Pg.Com, July, 2009. (http://www.pg.com/science/haircare/hair_twh_23.htm, terkunjungi pada 30 Juli 2009).

3. Alvio P. Parisi et al. 2009. Solar Ultraviolet Protection Provided by Human Head Hair. Photochemistry and Photobiology, 85: 250–254.



Jum'at, 16 Juli 2010





IKLAN BARIS
www.mitra-haji.com
UMROH GRATIS ? Cukup Ajak 8 Orang.
DICARI Agen & Perwakilan Se-Indonesia
www.quranseluler.com
Hp Qur'an
Hp Qwerty dengan fitur Al Qur'an, Hadits, Doa Haji, YM, Facebook, Internet
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.arthadinar.com
Artha dinar, investasi yang aman, mudah dan menguntungkan
TERKAIT
TAFAKUR
Kelahiran Alam Semesta dalam Al-Quran
Rahasia Cinta di Balik Sungut Nyamuk
Mengupil, Rahasia Ilmiah yang Belum Terpecahkan (Bagian 2-Habis)
Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012 [Bagian 4-Tamat]
Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012 [Bagian 3]

IklanDownloadHubungi Kami
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved

Thursday, July 15, 2010

احمدية ضال ومضل في فهم قوله تعالي " لااكراه في الدين"

Home Kajian & Ibrah
Menolak Relativisme “Iman” dan “Kufur”
Tuesday, 05 August 2008 09:25
Paham relativ melahirkan ‘isme’ baru yang disebut dengan “bingungisme”. Paham seperti ini sudah tak mampu membedakan mana haq dan mana bathil
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *

Konsep aqidah dalam Islam –Al-Quran dan sunnah—dijelaskan oleh Allah s.w.t. dan Nabi Muhammad s.a.w. dengan sangat detail. Maka istilah ‘iman-kufur’ bukan terminologi relatif. Ia merupakan istilah “final”, tidak bisa dikutak-katik lagi. Keduanya selalu vis-a-vis, laiknya terma-terma yang lain, semisal: haq-batil, thayyib-khabits, dsb.

Oleh karenanya, isu-isu keagamaan yang berkaitan dengan konsep ini sangat mudah untuk diidentifikasi dan dihukumi. Kasus Ahmadiyah, misalnya, sebenarnya tidak ada seorangpun yang meragukan letak “benar-salah”nya. Oleh karenanya, kaum liberal-sekular yang mengusung konsep “relativisme” salah besar ketika menyatakan bahwa Ahmadiyah itu dalam Islam. Karena pengertian Al-Quran dan al-Sunnah saja sudah ‘tidak lulus’. Pada gilirannya, mereka sama sesatnya. Karena ‘man tasyabbaha biqawmin fahuwa minhum’.من تشبه بقوم فهو منه) اوكما قال رسول الله)

Kaum liberal, sangat lihai dalam memanipulasi ayat-ayat yang menurut mereka mendukung konsep pemikirannya. Misalnya, Qs. Al-Baqarah [2]: 256 selalu dijadikan bamper oleh mereka. Kata ‘laa ikraaha fi al-diin’, senantiasa dijadikan entry-point untuk menusukkan ‘jarum’ relativisme ini. Di sini mereka ingin menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Karena agama itu sama, sama-sama benar. Ia ibarat “jari-jari”: banyak tapi menuju satu titik –tengah—yang satu (Allah). Bahkan ada yang menyatakan bahwa perbedaan agama itu letaknya pada tatara eksoteris saja. Pada tataran eksoteris’nya semua agama adalah sama,sebenrnya yang dimaksud ayat diatas
bahawa Allah tidak memaksa seseorang memeluk suatu agama,tetapi setelah memeluk satu maka wajiblah orang itu melaksanakan hukum-hakam agama yang dianuti itu,sebagai contoh orang Islam wajib melakukan apa yang dituntut dalam Islam mengikut undang-undang yang telah ditetapkan dalam Islam,bukan boleh buat atau tinggalkan sesuka hati.

Jika dilihat secara kritis, kata ‘laa ikraaha’ sebenarnya seperti yang dikatakan oleh Imam al-Harali, seperti yang dikutip oleh al-Biqa’i, bahwa di sana ada “pemaksaan halus” (al-ikraah al-khafiy). (Lihat, Imam Burhan al-Din Abu al-Hasan Ibrahim ibn ‘Umar al-Biqa’i (w. 885 H), Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1995), I: 500). Kenapa? Bukan karena agama itu sama-sama benar, tapi kerana “kebenaran dan kesesatan” telah jelas (qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy). Ini adalah sindiran dari Allah s.w.t.

Iman x kufur dalam Islam jelas konsekuensinya, tidak kabur. Kerana jika ada iman, maka akan tak ada kufur. Jika ada kebenaran maka tak ada kesesatan. Tidak mungkin semua agama itu “benar” atau seluruhnya “salah”. Ini justru merusak konsep agama dan ajarannya. Dengan sangat gamblang, Allah s.w.t. menjelaskan bahwa siapa yang secara “lapang dada” kufur (menjadi kafir), maka ia akan mendapat murka Allah dan mendapat azab yang pedih (Qs. Al-Nahl [16]: 106). Mereka itulah yang menurut Allah: (1) lebih mencintai dunia daripada akhirat; (2) dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya, sehingga menjadi lalai (ghafil); (3) dan di akhirat merugi (Qs. Al-Nahl [16]: 107-109). Jika kekufuran itu “relatif”, maka Allah akan menjadikan konsekuensinya juga “relatif”, tidak mutlak seperti yang kita lihat di atas.

Masalah “iman x kufur” tidak sesederhana yang dikemukakan oleh kaum Sepilis (penganut sekularisme, pluralisme dan liberalisme, red). Apa yang mereka kemukakan adalah ‘kulit-kulit’ konsep iman. Maka wajar jika hasilnya relatif. Maka ketika ada zikir ‘Anjinghu Akbar’, dalam pandangan mereka tidak bermasalah. Karena itu adalah lisan, bukan hati, katanya. Bisa jadi hatinya penuh dengan keimanan kepada Allah s.w.t.

Ini bisa dibalikkan dengan: bagaimana jika hati pengucapnya penuh dengan ‘Anjinghu Akbar’? Karena menurut Imam al-Biqa’i –ketika menjelaskan surat al-Nahl di atas—, hakikat iman-kufur itu berkaitan dengan hati, bukan lisan. Lisan hanya sekadar pengekspresi (mu’abbir) dan penerjemah serta pengenal (tarjuman mu’arrif) apa yang ada dalam hati...(Ibid., II: 314). Nah, jika yang keluar dari lisan itu bersih, indikasi bahwa hati itu bersih. Sebaliknya, jika setiap yang keluar dari lisan itu adalah kata-kata keji, kotor, hujatan, ini mengindikasikan bahwa sang hati ketika itu sedang ‘sakit kronis’.

Maka, fenomena munculnya aliran-aliran sesat di Negara Islam tidak harus melahirkan perdebatan panjang di kalangan umat Islam. Karena masalahnya jelas, masalah aqidah. Dan aqidah timbangannya adalah Al-Quran-Sunnah.

Salamullah Lia Eden; Ahmadiyah –baik Qadyaniyah maupun Lahore—; al-Qiyadah al-Islamiyah Ahmad Moshaddeq, dsb adalah aliran-aliran sesat. Dan kesesatan ini adalah fixed price, tidak mungkin ditawar lagi apalagi direlatifkan. Kenapa? Karena jelas bertentangan dengan Al-Quran-Sunnah. Dan pada gilirannya, relativisme ini melahirkan ‘isme’ baru yang disebut dengan “bingungisme”. Sehingga kaum Sepilis yang menyatakan bahwa semua agama itu benar sebenarnya terjebak oleh self-relativism mereka sendiri. Bukankah ini membingungkan?
Dalam Islam hanya terdiri dua(2)Rukun,iaitu enam(6)Rukun Iman dan lima(5)rukun Islam,dimana Rukun Iman semua orang Islam yang masih hidup wajib mempercayai dengan enam perkara Iman itu,tetapi rukun Islam kita diminta melaksanakan yang kita mampu sahaja,sebagai contoh orang miskin tidak diwajibkan membayar zakat begitujuga haji kerana Allah tidak membebani hamba-Nya كما في قوله تعالي " لايكلف الله نفسا إلا وسعها)
والملاحظة في هذه المسألة : اما ان تدخل الي الإسلام كافة اوتتركه كافة)
* Penulis adalah staf pengajar di PP. Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Peminat dan intens dalam Qur’anic-Hadith Studies & Christology. Sekarang sedang mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU) di Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) di Institut Studi Islam Darussalam, Gontor-Ponorogo, Jawa Timur



Jum'at, 16 Juli 2010




IKLAN BARIS
www.mitra-haji.com
UMROH GRATIS ? Cukup Ajak 8 Orang.
DICARI Agen & Perwakilan Se-Indonesia
www.quranseluler.com
Hp Qur'an
Hp Qwerty dengan fitur Al Qur'an, Hadits, Doa Haji, YM, Facebook, Internet
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.arthadinar.com
Artha dinar, investasi yang aman, mudah dan menguntungkan

IklanDownloadHubungi Kami
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved

Sunday, July 11, 2010

خلق العالم وحدوثه

Kelahiran Alam Semesta dalam Al-Quran
Thursday, 10 June 2010 13:34
Penjelasan teori gravitasi ternyata sudah tertulis dalam Al-Quran. Jauh sebelum para ilmuwan berpikir

Hidayatullah.com--Alam semesta kita terbentuk sekitar 13,7 milyar tahun lalu melalui sebuah peristiwa yang dikenal dengan ledakan besar (Big Bang). Sebelum terjadinya peristiwa itu tidak ada energi, tidak ada materi, tidak ada ruang dan waktu. Hingga energi materi beserta ruang dan waktu keluar dari suatu kekuatan yang sangat dahsyat yang berasal suatu titik singularitas dengan temperatur dan kerapatan yang sangat tinggi. Maka sesuai dengan Q.S : Al-Anbiyaa’ ayat 30 : “Dan tidaklah orang-orang kafir itu melihat bahwa sama’ (ruang-waktu) dan ardh (ruang-materi) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya.”

Materi yang pertama kali muncul pada saat itu berbeda dengan materi antarbintang yang membentuk matahari dan bumi serta planet-planet. Sebab materi yang menyusun bintang-bintang dalam galaksi terutama terdiri dari molekul, atom, nukleus, dan elektron. Sedangkan kilatan yang ditemukan Wilson dan Penzias pada tahun 1964 sebagai radiasi gelombang mikro yang mengisi seluruh jagad raya, membuktikan alam semesta lahir dalam ledakan yang mengerikan dalam suhu yang tiada tara tingginya. Pada suhu 1032 derajat tak hanya molekul dan atom saja yang tidak tahan; nukleus dan proton serta neutron yang membentuknya pun terurai menjadi zarah-zarah materi yang tidak dikenal di alam kita yang telah dingin ini.

Gejala inflasi mendorong alam membesar secara eksponensial. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. Adz-Dzariyaat ayat 47 : “Dan sama’ (ruang-waktu) itu Kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya Kami-lah yang meluaskannya.“

Suhu alam saat itu sangat tinggi, diperkirakan dalam waktu seperjuta trilyun-trilyun-trilyiun sekon setelah penciptaan suhu alam berkisar sepuluh juta trilyun-trilyun derajat. Pendinginan yang sangat cepat akibat inflasi, menyebabkan materialisasi energi secara berangsur bersamaan dengan terciptanya alam-alam lain, selain alam semesta ini. Kemunculan energi berada pada fase pertama dan materi nyata pada fase yang kedua sesuai dengan Q.S. Fushshilat ayat 9, “ Katakanlah patutkah kalian kufur kepada yang telah menciptakan ardh (ruang-materi) dalam dua yaum (fase) dan kalian mempersekutukan-Nya; padahal Dia Tuhan semesta alam.”

Untuk kata yaum di sini tidak ditafsirkan sebagai hari, karena pada saat itu bumi belum terbentuk, maka definisi hari yang berasal dari perputaran rotasi bumi selama 24 jam tentunya tidak dapat digunakan, maka yaum dipahami sebagai jangka waktu; periode atau fase.

Kelahiran materi dalam ruang alam memunculkan spin partikel sub nuklir, elektron, photon hingga ditetapkan sebagai gaya gravitasi, nuklir kuat, nuklir lemah dan elektromagnetis. Keempat gaya tersebut juga telah dijelaskan dalam Al-Quran Q.S. Fushshilat ayat 10 “Dan atasnya Dia ciptakan rawasiy dan memberkahinya serta menentukan aqwatnya dalam empat yaum sebagai jawaban bagi yang bertanya.”

Yang perlu dipahami rawasiy dalam ayat ini umumnya ditafsirkan sebagai gunung-gunung di bumi, yang notabene pada saat penciptaan alam semesta tentunya belumlah ada. Maka pengertian yang dapat kita ambil adalah tambatan. Seperti tambatan kapal, sesuatu yang sangat kokoh dan sangat sukar digoyangkan. Apakah yang terdapat dalam materi yang masih berbentuk partikel sub nuklir yang bersifat kokoh dan sukar digoyang?

Seorang Fisikawan akan menjawab spin atau gerak pusaran pada materi, itulah yang memiliki sifat tersebut, sebab gerak berputar pada partikel sub nuklir pada materi pada umumnya menimbulkan momentum putar yang lestari. Sedangkan untuk aqwat dapat dipahami sebagai catu muatan –muatan yang merupakan sumber kekuatan atau gaya (gaya gravitasi, gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, dan gaya elektomagnetis) dalam empat yaum ( tahapan).

Gaya-gaya tersebut berperan besar dalam pembentukan jagad raya yang kita kenal sekarang ini, 1) Gaya elektromagnetik bertanggung jawab atas terbentuknya atom, molekul dan benda. 2) Gaya nuklir kuat membentuk nukleon (zarah proton dan neutron) dalam semua inti atom.3) Gaya nuklir lemah, berperan dalam gejala peluruhan radioaktivitas beta pada inti atom tertentu. 4) Gaya gravitas bekerja dalam semua partikel benda yang memiliki masa termasuk energy. Ketiga gaya tersebut tersebut dapat dijelaskan hubungan antara satu dengan yang lainnya melalui Quantum Field Theory (QFT) atau standard model, kecuali gaya gravitasi. Sedangkan gaya gravitasi dapat diterangkan melalui Te

Namun jika hukum QFT diaplikasikan pada hukum GR hasilnya menjadi tidak masuk di akal. Perkembangan selanjutnya dikembangkanlah suatu teori yang mampu menjelaskan keempat gaya ini, yaitu teori dawai, atau string theory yang dipopulerkan oleh Stephen Hawking.

Penjelasan mengenai teori ini pun ternyata sudah tertulis dalam Al-Quran, yang ternyata jauh sebelum para ilmuwan berpikir mengenai teori-teori tersebut. Allah telah menjelaskan Sunatullah-Nya dalam firman-firman-Nya.

Sunatullah dalam teori-teori Fisika

Teori Relativitas Umum atau General Relativity Theory , membuka lembaran baru dunia sains di abad ke 20. Teori yang dicanangkan oleh Albert Einstein ini mengubah pemahaman dunia mengenai teori gravitasi Newton. Merujuk pada Teori Relativitas Umum, diketahui bahwa setiap benda memiliki massa dan menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung. Teori ini telah membuka persepsi cakrawala baru mengenai cara pandang kita terhadap alam semesta, orbit planet-planet, evolusi bintang dan galaksi, teori Ledakan Besar (Big Bang), dan juga lubang hitam (Black Holes). Namun teori ini sendiri tidak dapat diaplikasikan bersama-sama dengan teori mekanika kuantum yang merupakan tiga gaya yang berpengaruh besar dalam pembentukan alam semesta.

Quantum Field Theory merupakan teori mekanika kuantum yang melandasi cara pandang kita secara teoritis mengenai perilaku partikel subatomik yang telah dipelajari dan diamati selama separuh abad ke 20. Teori ini dapat mendeskripsikan secara tepat perilaku dan kandungan partikel-partikel dasar. Tetapi teori ini sendiri hanya berlaku jika gravitasi begitu lemah hingga dapat ditiadakan. Teori partikel ini hanya bekerja pada saat kita menganggap gravitasi itu tidak ada.

Selama ini beberapa rumusan telah dikembangkan untuk mengawinkan kedua teori besar tersebut, namun menghasilkan rumusan matematis yang inkonsisten, kemungkinan-kemungkinan negative, dan ketakterhinggaan yang tidak bermakna. Merujuk pada laman Supersymmetry Phenomenology by Hitoshi Murayama, dinyatakan bahwa kunci dari penggabungan kedua teori tersebut mungkin terdapat pada keberadaan supersymmetry antara partikel gaya dan materi.

Supersymmetry adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa pada setiap partikel terdapat superpartner yang memiliki gerak pusaran (spin) yang berbeda ½ putaran. Supersymmetry mampu menggabungkan tiga gaya, nuklir kuat, nuklir lemah dan elektromagnetik hingga menjadi seimbang dengan persentase akurasi yang tinggi.

Hal lain yang menarik dari Supersymmetry ini adalah keberadaannya merupakan syarat utama dari teori dawai (string theory), satu-satunya teori yang dapat menjelaskan keempat gaya pembentuk alam semesta.

Satu-satunya teori yang dapat menjembatani medan gravitasi dengan ketiga gaya lain adalah ketika diaplikasikan dalam superstring theory. Teori dawai mengungkapkan bahwa asal muasal partikel adalah sejenis dawai atau senar. Ia bisa tertutup, seperti lingkaran atau terbuka seperti sehelai rambut. Dawai bebas bergetar dan akibat getaran yang berbeda menghasilkan partikel yang berbeda pula. Sebuah vibrasi atau nada membuat dawai muncul sebagai elektron dan lainnya sebagai proton. Dalam teori ini, partikel terbagi dalam dua kategori, yaitu boson (gaya) dan fermion (materi).

Boson hanya melingkupi partikel gaya semacam photon, pembawa gaya elektromagnetis, gluon, pembawa gaya nuklir kuat, dan graviton, pembawa gaya gravitasi, sedangkan fermion adalah partikel materi yang membentuk diri kita dimiliki oleh elektron atau quark. Getaran yang menghasilkan partikel Boson berada pada 26 dimensi ruang waktu sedangkan fermion berada pada 10 dimensi ruang waktu.

Teori yang melandasi hal ini berawal dari Original string theory hanya berlaku pada Boson, tetapi dengan memperkenalkan supersymmetry dalam Bosonic String Theory, dapat diperoleh teori baru yang menjelaskan baik gaya maupun materi yang membentuk alam semesta ini. Supersymmetry adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa pada setiap partikel terdapat superpartner yang putarannya berbeda setengah putaran atau dengan kata lain dalam Boson (partikel gaya) terdapat pasangan Fermion-nya (partikel materi), hal ini kurang lebih sama dengan kenyataan bahwa dalam materi terdapat anti materi. Teori yang melibatkan fermion dalam teori dawai di bagi dalam lima tipe yaitu tipe 1, tipe 2A, tipe 2B dan dua teori dawai heterotik. Teori dawai heterotik ini pula yang mengisyaratkan bahwa alam yang kita huni memiliki kembaran yang hanya dapat dihubungkan dengan medan gravitasi, walaupun demikian hukum alam yang berlaku berbeda dari alam yang kita tinggali.

Pada perkembangannya string theory pun berevolusi menjadi beberapa teori-teori, menghasilkan Theory of Everything dan yang terbaru adalah M-theory yang dikembangkan oleh Edward Witten pada tahun 1995. Pada tataran fisika teoritis M-theory adalah proposal matematis yang menyatukan kelima superstring theory yang berdimensi sepuluh, menjadi teori tunggal yang berdimensi sebelas. Kesebelas dimensi itu adalah satu dimensi waktu, tiga dimensi ruang yang kita tinggali, dan tujuh dimensi parallel yang tersembunyi.

Maka benarlah penjelasan dalam Al-Quran dalam Q.S. Fushshilat ayat 12 : “Lalu diciptakan-Nya tujuh langit (tujuh ruang alam) dalam dua tahap, dan pada setiap langit (ruang alam) Dia mewahyukan urusannya masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui”

Q.S At-Talaaq ayat 12 : “Allah yang menciptakan tujuh langit (tujuh ruang alam) dan tujuh bumi padanannya (materi masing-masing alam). Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. ". [Tia Atisa, diintisarikan dari buku Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Kealaman oleh Prof. Achmad Baiquni, Msc. Phd]


Senin, 12 Juli 2010





IKLAN BARIS
www.mitra-haji.com
UMROH GRATIS ? Cukup Ajak 8 Orang.
DICARI Agen & Perwakilan Se-Indonesia
www.quranseluler.com
Hp Qur'an
Hp Qwerty dengan fitur Al Qur'an, Hadits, Doa Haji, YM, Facebook, Internet
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.arthadinar.com
Artha dinar, investasi yang aman, mudah dan menguntungkan
TERKAIT
TAFAKUR
Kelahiran Alam Semesta dalam Al-Quran
Rahasia Cinta di Balik Sungut Nyamuk
Mengupil, Rahasia Ilmiah yang Belum Terpecahkan (Bagian 2-Habis)
Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012 [Bagian 4-Tamat]
Menguak Misteri Ilmiah Kiamat 2012 [Bagian 3]

IklanDownloadHubungi Kami
© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved

هل الحق من عند الله أم من عند الإنسان نفسه

Home Opini Pemikiran
Soal Kebenaran, Benarkah Relatif?
Monday, 15 March 2010 15:08
Pluralisme agama adalah keyakinan penuh kontradiksi dan problematik, maka tidak selayaknya diyakini oleh orang yang masih mampu berpikir rasional



Oleh: Zarnuzi Ghufron*



SELAIN mengatakan bahwa tentang sesat dan benar yang tahu hanya Tuhan, kaum Islam liberal-pluralis juga mengatakan bahwa kebenaran adalah relatif(نسبي). Dengan ini, seolah-olah mereka ingin menyimpulkan: bahwa manusia itu tidak bisa membezakan mana yang sesat dan mana yang benar, kerana yang sesat tak dapat dipastikan dan yang benar juga tak jelas yang mana. Akibat cara berpikir macam ini, maka tak heran jika mereka tak pernah khawatir kalau berbuat salah.

Ada sebuah pertanyaan yang yang mesti dijawab oleh mereka: jika Tuhan dengan tegas memerintahkan umat manusia untuk menghindari kesesatan karena akan dibalas neraka bagi pelakunya dan Tuhan juga memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dengan balasan surga dan neraka bagi yang menolaknya, lalu bagaimana jika kesesatan dan kebenaran itu sendiri tidak bisa dimengerti dan diketahui oleh manusia. Dengan demikian, bagi Allah, perintah tersebut menjadi sia-sia, dan bagi manusia hal itu adalah tanggung jawab yang tidak akan sanggup mereka lakukan (تكليف بما لايطاق), kerana mereka diberi perintah dan akan diberi sanksi jika melanggar, tapi tak jelas isi perintah-Nya.

Jika sesat dan kebenaran tak jelas maksudnya, maka bagi manusia keduanya ibarat sebuah nama tanpa ada pemiliknya (الإسم بلا المسمي) atau sifat tapi tak ada yang disifati (الصفة بدون الموصوف) atau lafadz tak bermakna.

Hal semacam ini sebenarnya bertentangan dengan pernyataan kaum liberal sendiri; bahwa lafadz adalah pertanda dari sebuah realitas atau ma'na dan realitas itu lebih dahulu ada dari lafadz tsb.

Mencari Kebenaran

Faham relativisme kebenaran adalah bagian dari pluralisme agama yang mengatakan bahwa kebenaran pemahaman tentang Tuhan bagi setiap pemeluk agama adalah relatif, kerana mereka sama-sama ingin mencari Tuhan, tapi Tuhan bersifat metafisik dan transendental, hingga akhirnya manusia menjadi beragam dalam memahami Tuhan yang absolut tersebut. Pemahaman manusia ini kemudian diwujudkan dengan nama-nama dan simbol-simbol yang saling berbeza antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya.

Agama-agama, menurut Fritjhof Schuon, pengasas faham Kesatuan Transenden Agama-agama (transcendent unity of religions) dibagi menjadi dua: tingkat eksoterik (ظاهريو) dan esoterik (باطنية). Pada tingkat eksoterik agama-agama mempunyai Tuhan, teologi, ajaran yang berbeza. Namun pada tingkat esoterik agama-agama itu menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tak terbatas.

Dari keterangan di atas dapat kita fahami bahwa kaum pluralis menganggap bahwa akidah semua agama adalah hasil karya manusia, dan pemahaman tentang Tuhan adalah hasil pencarian dan spekulasi manusia sendiri, tidak ada sumber dari Tuhan sendiri yang menjelaskan atau kalau boleh dikatakan manusialah yang menciptakan Tuhan-Tuhan mereka sendiri. Karena setiap agama membuat definisi sendiri-sendiri tentang siapa Tuhan, seperti apa sifat dan nama-Nya, sehinngga wajar jika hasilnya berbeza-beza.

Jika anggapan mereka demikian, maka teori pluralisme agama ini sebenarnya dengan sendirinya tidak berlaku dalam agama Islam, kerana asumsi kaum pluralis adalah bahwa pemahaman Tuhan oleh semua agama adalah hasil ciptaan manusia, dan asumsi tersebut ternyata berbeza dengan kenyataan yang ada di dalam agama Islam. Pengetahuan umat Islam tentang Allah, dengan nama-nama-Nya dalam asmaul husna dan segala sifat-Nya adalah bersifat "tauqifiyah", yaitu dari Allah sendiri yang diperkenalkan kepada manusia melalui wahyu yang Dia turunkan kepada para Nabi yang Dia utus, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Bukan ciptaan umat Islam atau Nabi itu sendiri, dan di dalam agama Islam tidak ada jalan spekulasi untuk berkata tentang Tuhan

Oleh kerana itu, Allah swt. dalam Al-Quran mengatakan bahwa orang yang berkata tentang Tuhan tanpa ada landasan wahyu adalah orang yang berkata tentang Tuhan tanpa pengetahuan.
ومن الناس من يجادل في الله بغير علم ولا هدي ولاكتاب منير(8"( الحج
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya (yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil).” (QS, Al Hajj:08)

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS, Al Baqoroh:169)

"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?." (QS, Yunus:68)

Orang yang ingin memahami sesuatu tanpa didasari ilmu pengetahuan maka tiada cara kecuali dengan mengira-ngira, berhipotesa atau bersepekulasi, karena kalau sudah ada ilmu pengetahuan yang meyakinkan pasti tidak perlu bersepekulsi. Dan orang yang meyakini sesuatu dari hasil spekulasi maka sebenarnya dia telah meyakini sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan hal tersebut. Meyakini sesuatu yang tidak meyakinkan adalah keyakinan problematik, lalu kenapa diyakini?!

Dari masalah ini dapat kita metahui pula tentang pentingnya perutusan seorang Rasul sebagai penerima wahyu Tuhan. Keyakinan awal umat manusia adalah sama, bahwa alam dunia ini memiliki sang pencipta, yang menciptakan dan yang mengatur alam dunia ini atau mereka sebut Tuhan. Tapi, manusia tak bisa mengetahui secara pasti tentang siapa itu Tuhan, siapa nama-Nya dan bagaiman sifat-sifat-Nya. Akhirnya mereka saling berspekulasi tentang Tuhan. Dengan ini menjadi pentinglah diutusnya Rasul sebagai utusan Tuhan yang menujukan tentang siapa sebenarnya itu Tuhan, dan segala hal terkait dengan keberadaan-Nya agar manusia tidak terus-menerus bersepekulasi.

Selain itu para Rasul menerima wahyu dan memberi tahu umat manusia bahwa di balik alam nyata ini ada alam lain, alam yang sekarang tak mampu diketahui oleh panca indera, tapi hal itu ada dan ternyata mempunyai hubungan dengan manusia, yaitu alam ghaib, seperti malaikat, jin, syaitan, surga, neraka, surga, alam mahsar, hisab. Dari semua hal yang bersifat transendental dan metafisik tersebut semuanya tidak bisa diketahui kecuali dengan informasi yang dapat dipercaya(al khobar as shodiq), yaitu wahyu dari yang Maha Mengetahui (Allah swt.) yang diturunkan kepada orang yang jujur, terpercaya dan terjaga dari kesalahan, yaitu para Rasul. Jika tidak, maka tiada pilihan lain bagi manusia kecuali tidak mengakui adanya yang transenden dan metafisik tersebut atau mengakuinya tapi dengan jalan hipotesa atau spekulasi dan hal ini tidak meyakinkan karena hipotesa tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Bukti Kebenaran

Telah kita ketahui sebelumnya bahwa pengetahuan umat Islam tentang Tuhan dan yang lain yang bersifat metafisik adalah dari al khobar as shodiq,(الخبر القطعي) karena manusia tidak bisa mengetahui secara langsung dengan panca indera. Dan di antara hal yang membuktikan bahwa isi khobar tersebut adalah benar-benar meyakinkan, di antaranya sebagai berikut:



Khobar tersebut. telah diterima dari sekian banyak Rasul yang dapat dipercaya, mulai dari Nabi Adam as. Sampai Nabi Muhammad saw. dan kondisi antar satu Nabi dengan Nabi yang lainnya adalah sangat plural baik dari segi masa, tempat atau negara, tabiat umat mereka, kondisi sosial dan budaya waktu itu, dan lain-lain. tapi khobar tersebut tetap sama isinya. Hal ini bisa terjadi karena yang menurunkan wahyu tersebut adalah satu (Allah swt.) dan yang menerima(para Rasul) orang yang jujur, dan isi sebuah berita, selama tetap asli, berita tersebut tidak terpengaruh oleh kondisi waktu, tempat, sosial, dan kultur sang penerima berita, dan juga bila ada sebuah berita yang dikabarkan kepada semisal "si A", kemudian diberitakan lagi yang lain semisal ke "si B", tapi isinya ternyata berbeda, berarti ada salah satu dari keduanya yang dibohongi. Dan mustahil Allah swt berbohong kepada Rasulnya.
Dan sangat mustahil seandainya setiap Nabi dan Rasul berspekulasi secara sendiri-sendiri, tapi mampu menghasilkan hasil spekulasi yang sama dari segala sisi dari masalah yang dispekulasikan.

Masalah akidah adalah naw' al khobar (jenis berita), oleh karena itu akidah para Nabi dan Rasul adalah sama. Berbeda dengan syari'at, syari'at adalah nuu' al insa (jenis pengadaan) sehingga bisa berbeda-beda, karena untuk mengatur kehidupan umat yang berbeza-beza.

Kesimpulan

Relativitas kebenaran pengetahuan tentang Tuhan oleh umat beragama hanya bisa terjadi bila seluruh umat beragama "tanpa terkecuali" memperoleh pengetahuan tersebut lewat akal budi mereka, dengan berhipotesa, spekulasi atau sejenisnya, tanpa ada wahyu yang dapat dijadikan petunjuk, hingga tidak bisa dipastikan mana yang benar dan mana yang salah, seperti yang dianggap kaum pluralis sendiri. Tapi, telah kita ketahui bahwa pengetahuan tentang yang transendental tersebut tidak dapat diketahui dengan benar kecuali dengan al khobar as shodiq dan sejak dahulu para Rasul telah menerima khobar tersebut.

Maka dengan ini, dari sekian banyak pengetahuan tentang Tuhan yang tadinya mungkin relatif, menjadi tidak relatif lagi, karena yang lain masih berhipotesa, dan belum bisa memastikan benar tidaknya dan al khobar as shodiq yang pasti benar telah memastikan hipotesa-hipotesa tersebut salah.

Dan realitas yang ada bahwa dari sekian banyak pemahaman umat beragama tentang Tuhan semuanya saling kontradiksi, dan sifat di antara dua hal atau lebih yang saling kontradiksi adalah saling membatalkan di antara yang satu dengan yang lainnya, tidak bisa benar secara bersamaan. Dan al khobar as shodiq telah menunjukan mana yang benar.

Di dalam akidah Islam tidak ditemukan dan diterima keyakinan yang kontradiksi, karena hal itu tidak rasional. Pluralisme agama adalah keyakinan penuh kontradiksi dan problematik, maka tidak selayaknya diyakini oleh orang yang masih mampu berpikir rasional. Dan pernyataan kaum liberal/pluralis yang mengatakan bahwa akidah Islam terpengaruh sosial dan kultur waktu turunnya wahyu adalah pernyataan yang keluar karena tidak faham objek masalah.

Ingat! Kondisi sosial dan kultur antarsatu Nabi dengan yang lainnya adalah lebih plural dari kondisi sekarang, tapi kenapa tidak berpengaruh, hal ini yang harus mereka jawab. Dan seandainya mereka mengatakan bahwa relativitas kebenaran terletak pada pemahaman wahyu tersebut, bukan pada kebenaran wahyunya, maka dengan ini ilmu matematika bukan lagi ilmu pasti lagi bagi mereka, karena wahyu mengatakan Tuhan itu hanya satu. Jika pemahaman hanya satu masih relatif kebenarannya, maka satu tambah satu belum tentu dua, tapi masih relatif, mungkin dua, tiga, dan seterusnya. Wallahu a'lam bisshowab.

*)Penulis adalah mahasiswa Fakultas Syari'ah Univ. Al Ahgaff, Hadramaut, Yaman. Dan sekarang menjadi Ketua Forum Diskusi Mahasiswa Indonesia (FoKus-Indo)di Unv. Al Ahgoff



Senin, 12 Juli 2010 Iklan Bariswww.mitra-haji.com
UMROH GRATIS ? Cukup Ajak 8 Orang.
DICARI Agen & Perwakilan Se-Indonesia www.quranseluler.com
Hp Qur'an
Hp Qwerty dengan fitur Al Qur'an, Hadits, Doa Haji, YM, Facebook, Internet www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517 www.arthadinar.com
Artha dinar, investasi yang aman, mudah dan menguntungkan Pemikiran & OpiniKritik terhadap Metode Studi Al-Qur’an Liberal
Perzinaan, Warisan 3 Pesohor Indonesia untuk Dunia
Kado Ulang Tahun untuk Polri
Peterporn, Sexting dan Perlindungan Anak
Israel dan “Anjing pengawal” AS di Timur Tengah


IklanDownloadHubungi Kami© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved

Friday, July 9, 2010

تسخير الكون ليس مجانا للإنسان

Ketundukandan kepatuhan Alam Kepada Kita bukan percuma
Thursday, 15 April 2010 18:06
Ketundukan (sam’an wa tha’atan) lahir, berbanding lurus dengan keadilan dan kasih sayang pemimpin

Oleh: Shalih Hasyim*

SESUNGGUHNYA kehadiran manusia di muka bumi ini di samping sebagai abdullah, pula sebagai khalifatullah (mandataris Allah SWT). Tugas pertama menegakkan nilai-nilai agama (iqamatud din). Tugas ini jika berjalan dengan baik, berefek pada kehidupan yang berkualitas secara lahir dan batin, dalam skala kehidupan individu (hayatan thayyibah), keluarga (sakinah, mawaddah wa rahmah), masyarakat (qaryah mubarakah), negara (baladan amina), dan kumpulan beberapa negara (global state) (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Islam hadir menjaga enam kebutuhan primer manusia. Yaitu menjaga jiwa, akal, harta, agama, keturunan, dan kehormatan diri dari kontaminasi penyimpangan. Islam bersahut-sahutan dengan fitrah manusia. Fitrah manusia senang dengan sesuatu yang dikenali hati (ma’ruf), kejujuran, kesantunan, kesejukan, dan lain-lain. Dan mengingkari sesuatu yang diingkari hati (mungkar), kebohongan, kepalsuan, kekerasan, dan lain-lain.

Tugas yang kedua adalah sebagai wakil Allah SWT (khalifah), untuk mengelola dan memakmurkan alam semesta dan isinya (siyastud dunya) agar berjalan secara harmonis. Bersahabat, bahkan tunduk kepada manusia.

Jika kita merujuk Al-Quran dan Al-Hadits, ada beberapa istilah kepemimpinan, yang menunjukkan fungsi yang diembannya sekaligus.

Pertama, Imam. Dari kata imam berkembang menjadi umm (yang dirujuk, diteladani, induk). Kemudian lahir kata amam (yang selalu berada di depan). Istilah pertama mengajarkan sejatinya menjadi pemimpin itu dituntut mengedepankan keteladanan. Kemudian lahir pula kata ummat. Berarti pemimpin yang legitimed itu bukan sebatas konstitusional formal, juga berpihak kepada masyarakat bawah. Sehingga keberadaannya dirindukan dan dicintai.

Kedua, Khalifah. Dari istilah ini menggambarkan bahwa pemimpin yang ideal itu memiliki komitmen untuk menggulirkan proses regenerasi. Tidak mempertahankan status qua. Hal ini karena umur pemimpin itu hanya seputar 60-70 tahun. Jika terlambat dalam mewariskan nilai dan amal kepada generasi pelanjut, akan terjadi kemandekan, stagnan.

Ketiga, waliyyul amr. Wali artinya mencintai dan melindungi. Amr maknanya urusan penting bawahannya. Istilah ini melukiskan bahwa pemimpin itu mencintai yang dipimpinnya dan melayani (berkhidmah) serta memetakan dan mengurai kerumitan urusan yang mereka hadapi.

Keempat, ra’in. Rain secara kebahasaan artinya menggembala. Artinya, kualitas kepemimpinan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh seringnya berdiplomasi dan berorasi (katsratur riwayah), tetapi diukur dari katsratur ri’ayah (mutu pelayannanya), dan katsratul istima’ (banyak mendengar keluhan yang dipimpinnya).

Taskhir

Keempat fungsi kepemimpinan di atas jika diimplementasikan dalam lingkungan sosial, akan melahirkan taskhir (ketundukan yang dipimpinnya). Ketundukan (sam’an wa tha’atan) lahir, berbanding lurus dengan keadilan dan kasih sayang pemimpin. Jadi, ketundukan itu tidak datang secara tiba-tiba (instan), tetapi melalui proses yang panjang (konstan). Taskhir (ketundukan alam semesta kepada manusia) sebagai khalifah, terdapat dalam al-Quran surat al-Hajj (22) : 65 juga bersyarat.

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Konsep taskhir pada ayat di atas perlu dijadikan pelajaran moral. Karena akhir-akhir ini kita kenyang dengan bencana yang bersumber dari udara, laut dan darat, bahkan di perut bumi (dengan kejadian tanah longsor). Akhirnya dalam hati kita menyisakan pertanyaan penting, di manakah letak ketundukan alam terhadap tuannya (manusia)? Mengapa akhir-akhir ini alam berubah menjadi tidak bersahabat?

Ternyata, taskhir dalam Islam tidak lahir secara instan (kebetulan), tanpa syarat. Ketundukan alam kepada manusia, tidak secara cuma-cuma (gratis). Alam semesta ini tunduk selama manusia menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan cara yang benar. Manakala manusia tidak mengelola alam dengan baik, bahkan mengeksploitasinya secara berlebih-lebihan tanpa mengindahkan rambu-rambu, bahkan menumpahkan darah dan air mata, maka tidak ada jaminan alam mempertontonkan ketundukan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum (30) : 41).

Menurut Shofwatut Tafasir oleh Syaikh Ali Ash Shabuni, yang dimaksud dengan kalimat “bimaa kasabat aidinnas” adalah disebabkan oleh dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia.

Jadi ketundukan kita kepada ketentuan Allah SWT yang tertulis (kalimatullah) akan berefek pada keharmonisan lingkungan sosial kita (khalqullah). Suka bersedekah bisa dicintai yang diberi dan menolak bencana. Banyak membaca Al-Quran bisa menghindarkan kepikunan di masa tua. Tua-tua berbudi, makin tua makin mengabdi. Yang senang silaturrahim memiliki umur kedua dan kekayaannya berlimpah. Suka main perempuan mempercepat ketuaan. Yang suka memberi akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Yang menanam kebaikan akan memanen. Yang senang beramal shalih akan meninggikan derajat pemiliknya, menghapus dosanya, membantunya dalam mengurai kerumitan hidup.Yang suka minum-minuman keras, syaraf-syaraf otaknya mengalami disfungsi. Yang senang berjudi, melahirkan mental pemalas, dan lain-lain.

Manakala para pemimpin, pejabat, penggede negeri, dimana pun dan kapan saja, tidak lagi memihak kepada umat (akar rumput), tidak mengedepankan keadilan, kemaslahatan publik, mengabaikan akal sehat dan hati nurani, para pebisnis menghalalkan segala cara, para ulama dan umara sudah kehilangan obyektifitas, dan mempertontonkan subyektifitas untuk kepentingan pemodal dan yang memiliki akses khusus dengan kekuasaan, saat itu bencana akan mengintai manusia, baik pada pagi malam hari ketika istirahat, pada pagi hari ketika sedang bermain-main, pada siang hari ketika berusaha.

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al Araf (7) : 97-98).

Bencana wabah kerapkali dipicu oleh berbagai penyimpangan, pelanggaran pola pikir dan perilaku manusia. Perilaku alam raya makrokosmos berbanding lurus dengan perilaku manusia mikrokosmos. Kehancuran bangsa-bangsa besar yang pernah jaya pada zaman dahulu disebabkan oleh pelanggaran yang mereka lakukan.

Ummat Nuh yang keras kepala ditimpa bencana banjir.

“Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (QS. An Najm (53) : 52).

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur [*] telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud (11) : 40)

Yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan.

Bangsa Saba’ yang semula makmur, tetapi tidak pandai mensyukurinya, diganti oleh Allah SWT dengan banjir besar. Pohon yang menghasilkan buah yang ranum diganti dengan pohon cemara dan bidara.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar [meruntuhkan bendungan Ma’rib] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr [Atsl sejenis pohon cemara, Sidr sejenis pohon bidara].” (QS. Saba (34) : 15-16).

Umat Nabi Shalih yang hedonistik dan menerapkan pola hidup serba boleh, ditimpa virus yang ganas dan gempa bumi.

“Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, Di dalam kebun-kebun serta mata air, Dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.” (QS.Asysyu’ara’ (26) : 146-149).

Ummat Luth yang hobi perilaku homoseksual ditimpa gempa yang dahsyat.

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji [homoseksual]. Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih Suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. tidak Adakah di antaramu seorang yang berakal?." (QS. Hud (11) : 78).

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa Kami tidak mempunyai keinginan [syahwat terhadap wanita ] terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya Kami kehendaki." (QS. Hud (11) : 79).

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud (11) : 82).

Demikian pula kaum ‘Ad, mereka terpuruk, ketika kejahatan yang mereka lakukan mencapai grafik yang tinggi, pemimpin mereka terdiri dari orang-orang yang zhalim dan berbuat kerusakan di negeri, tiada seorang pun yang merdeka melakukan kebaikan.

“Dan itulah kisah kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah, Tuhan mereka, dan mereka mendurhakai para rasul-Nya dan mematuhi perintah para penguasa mereka yang berlaku sewenang-wenang lagi menentang kebenaran.” (QS. Hud (11) : 59).

Bangsa Bani Israil yang suka membangkang, berbuat kriminal, memalsu kitab suci, ditimpa berbagai bencana, kehinaan di dunia ini dalam waktu yang lama. Ketika kesewenang-wenangan Fir’aun telah mencapai puncaknya, berlakulah kuasa Allah untuk menghancurkan kesulitan mereka dan mengangkat martabat bangsa ini (Israel) yang selama ini mereka hinakan. Kehendak Allah pun terwujudlah melalui kelahiran seorang anak laki-laki yang bernama Musa di kalangan Bani Israil. Dan kehendak dan pengaturan Allah pula manakala anak ini mesti dibesarkan oleh keluarga Fir’aun dan dididik di istananya.

Maka ketika ia diangkat menjadi Rasul, Allah menetapkan janji agar ia menyelamatkan kaumnya dari perbudakan yang dilakukan oleh bangsa Mesir itu. Musa pun lalu memberi advis kepada Fir’aun dengan lemah lembut, namun Fir’aun ternyata tidak sudi dinasehati. Selanjutnya datanglah peringatan Allah secara berulang-ulang kepada Fir’aun dan kaumnya yang diikuti dengan munculnya bahaya kelaparan, badai dan topan, banjir darah, merajalelanya belalang yang memangsa ladang-ladang mereka, serta munculnya wabah berupa kutu dan katak yang amat merepotkan mereka. Kendatipun demikian, semuanya itu ternyata tidak mengurangi pembangkangan dan kesombongan mereka sedikitpun.

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al Araf (7) : 133).

Ketika hujjah (argumentasi) yang disampaikan kepada mereka itu telah dianggap cukup, maka turunlah adzab Allah. Musa as berhasil keluar dari Mesir dengan izin Allah, sedangkan Fir’aun bersama kaumnya ditenggelamkan di lautan, dan sejak itu terbawa tenggelam pula keperkasaan bangsa Mesir yang telah berjalan berabad-abad itu tanpa mampu tegak kembali.

“Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (QS. Al Qashash (28) : 40).

Sesudah itu datanglah masa-masa kejayaan bagi Bani Israil. Sesudah mereka memperoleh kemenangan atas bangsa Mesir ini, kekuasaan atas dunia inipun kini berada di tangan mereka – suatu kekuasaan yang mereka peroleh setelah sekian lamanya mereka dihina dan dilecehkan.

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir`aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. Al Araf (7) : 137).

Allah pun telah melebihkan mereka atas umat-umat yang lain. Dan Kami lebihkan kamu sekalian atas seluruh penghuni alam semesta ini, tetapi pewarisan dan kelebihan yang diberikan kepada mereka itu disertai dengan persyaratan agar mereka tetap berbuat baik. Allah Swt berfirman melalui ucapan Musa as: Kamu sekalian akan diberi pusaka di bumi ini, tetapi Allah akan mencermati apa yang akan kalian lakukan. Ini merupakan persyaratan yang tidak saja berlaku atas Bani Israil, melainkan berlaku pula atas semua bangsa yang dipusakai kejayaan di muka bumi.

“Kemudian Kami jadikan pengganti-pengganti mereka di muka bumi sesudah mereka, untuk Kami lihat apa yang akan kalian lakukan.” (QS. Yunus (10) : 14).

Dan ketika mereka mengingkari perintah Tuhan mereka dengan melakukan manipulasi Kalam Allah, mengganti yang haq dengan kebatilan, mengikuti perilaku para pendusta, berkhianat, memakan barang haram, merusak janji, mendewasakan emas dan perak, rakus dan tamak, pengecut, senang berfoya-foya membunuh Nabi-nabi mereka tanpa hak, menentang orang-orang yang menyerukan kebenaran, dan lebih mentaati orang-orang yang mengajak kejahatan daripada para pemimpin yang menyeru kebajikan, Allah pun mencabut pertolongan-Nya kepada mereka dan mengambil kembali pusaka itu, sehingga mereka pun menjadi sasaran anak panah penguasa-penguasa Iraq, Yunani dan Romawi, serta terusir dari negeri mereka, untuk kemudian selamanya terlantar di belahan bumi yang manapun: putus asa dan menderita, dan bahkan tidak akan lagi bisa menetap dengan aman di bagian bumi yang manapun untuk selamanya. Satu di antara laknat Allah yang ditimpakan kepada mereka semenjak seribu tahun ini mereka belum pernah sekalipun menemukan tempat yang baik untuk mereka diami. Sehingga, sekarang ini mereka berusaha merampok bumi Palestina.

Alam Menjadi Ganas

Hujan yang tadinya sebagai sumber air bersih dan pembawa rahmat, tiba-tiba menyebabkan banjir yang melululantahkan areal kehidupan manusia. Rahmat, yang mendatangkan kebaikan berbalik menjadi laknat, menjauhkan dari maslahat.

Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman (QS. Al Anam (6) : 99).

“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.” (QS. Al Baqarah (2) : 59).

Angin yang semula berperan dalam proses penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan dan mendistribusi awan, tiba-tiba tampil ganas membabat segala sesuatu yang dilewatinya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah (2) : 164).

“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (QS. Fushshilat (41): 16).

Laut yang tadinya jinak (harmonis) melayani dan tunduk terhadap mobilitas manusia, tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilewatinya.

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al Hajj (22) : 65).

Dan apabila lautan dijadikan meluap (QS. At Takwir (81) : 6).

Disparitas flora dan fauna yang tadinya tumbuh berkembang mengikuti hukum-hukum ekosistem, tiba-tiba berkembang menyalahi pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia, sehingga kesulitan memenuhi koposisi kebutuhan karbohidrat dan proteinnya secara seimbang. Ini semua menjadi isyarat bahwa taskhir tidak sepatutnya membuat manusia congkak dan arogan. Taskhir hanyalah titipan dari Allah SWT.

“Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Kami untuk menyihir Kami dengan keterangan itu, maka Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu." (QS. Al Araf (7): 132).

Ahli hikmah mengatakan : Apabila kamu menggotong mayat ke kuburan, ingatlah suatu saat kamu akan digotong. Dan apabila kamu diserahi urusan kamu, ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan). Dari perkataan bijak tersebut mengajarkan, ternyata kehidupan di dunia ini, jabatan yang melekat, termasuk jiwa manusia, hanya hak guna (tidak permanen), ada masa akhir. [Kudus, April 2010/www.hidayatullah.com]

*)Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com


Jum'at, 09 Juli 2010





IKLAN BARIS
www.mitra-haji.com
UMROH GRATIS ? Cukup Ajak 8 Orang.
DICARI Agen & Perwakilan Se-Indonesia
www.quranseluler.com
Hp Qur'an
Hp Qwerty dengan fitur Al Qur'an, Hadits, Doa Haji, YM, Facebook, Internet
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.arthadinar.com
Artha dinar, investasi yang aman, mudah dan menguntungkan
www.muslimgaleri.com
Jilbab, Busana Muslim dan Buku Islam Online
TERKAIT
TAZKIYATUN NAFS
Wajah Suram Dunia Materialisme Kita !
Agar “Pensiun” Kita Lebih Berkah
Pengaruh Psikologis Nafsu Lawwamah
Cara Lain Memandang Penyakit
Kiat Jitu Mengelola Krisis Makna Kehidupan

حكم الإختلاط بين الرجل والمرأة وانواعه

Kapan Ikhtilath Dibolehkan? Apa Adabnya?
Wednesday, 19 May 2010 14:06 HUKUM
Lelaki wajib menolong wanita yang tersesat sendirian di padang pasir, walau ia bukan mahramnya, dan ikhtilath boleh jika dipenuhi adab-adabnya

Hidayatullah.com--Salah seorang ulama terkemuka di Arab Saudi, Syeikh Dr. Abdul Latif bin Abdul Aziz Alu As Syeikh, turut ambil bagian dalam kontroversi ikhtilath, yaitu percampuran antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di satu tempat. Kontroversi ikhtilath ini menjadi permasalahan besar di Kerajaan, serta menjadi perbincangan yang hangat di berbagai media masa di Arab Saudi. Demikian dilansir oleh Al-Arabiya.net (17/5).

Syeikh Abdul Latif menilai bahwa pendapat orang-orang yang tidak membolehkan adanya ikhtilath dalam keadaan darurat itu masih kurang tepat menurut tujuan hukum Islam. Karena menurutnya, di dalam hukum Islam jelas terdapat perbedaan antara ikhtilath yang diperbolehkan dan ikhtilat yang diharamkan.

Dia menambahkan bahwa ikhtilat yang didasarkan pada toleransi, tidak bertentangan dengan apa-apa yang telah dinyatakan dalam buku-buku dan fatwa-fatwa kelompok yang mengharamkannya.

Mantan Asisten Dua Sekjen Hai’ah Kibar Ulama ini juga mengatakan, semua ulama telah sepakat bahwa tujuan diletakkannya syariat Islam adalah untuk menjaga kebutuhan manusia yang sangat penting, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa dan raga, akal, keturunan, dan yang terakhir adalah menjaga harta. Kelima poin ini dalam istilah fiqahnya disebut dengan Dharuriyat.

Jika salah satu dari lima dharuriyat ini hilang, maka kemashlahatan manusia juga tidak akan terwujudkan. Bahkan hanya akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran umat manusia.

Dalam kontroversi ikhtilath ini, para ulama terbagi menjadi dua pendapat dan dua kelompok. Ada yang mengharamkannya secara mutlak, dan ada juga yang membolehkannya selama tidak melanggar syari'at Islam.

Dia menjelaskan lagi bahwa syariat Islam telah dirancang sedemikian rupa agar manusia mudah untuk menjalankannya, bukan malah dipersulit atau menjadi beban. Dan sekarang bisa dilihat bagaimana ikhtilat itu sudah tidak bisa dihindari, terutama di tempat-tempat umum seperti di pasar dan di Masjidil Haram ketika musim haji. Maka Syeikh Abdul Latif menilai bahwa ikhtilat seperti ini merupakan ikhtilath yang ada pada ranah dharurah.

Ia menegaskan lagi bahwa ikhtilath seperti ini bukanlah masalah yang baru-baru ini saja muncul. Masalah ini sudah ada sejak zaman dulu, dan bahkan ketika zaman tasyri' atau zaman dibentuknya syariat Islam, yaitu pada masa Rasulullah SAW.

Namun, tambahnya lagi, tidak ada syariat Islam yang mengharamkannya secara mutlak. Lebih dari itu, syariat Islam justru membolehkan adanya ikhtilath ketika di Masjidil Haram, saat pelaksaan haji.

Beliau juga menyebutkan adab-adab yang harus dipenuhi, hingga ikhtilath dibolehkan. Hal ini tentu saja berbeda dengan ikhtilath yang diperbolehkan. Ikhtilath yang diperbolehkan tentu memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi, sebagai berikut:

1. Diwajibkan bagi perempuan untuk menutup aurat. Sesuai dengan ayat Al Qur'an: "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 59)

2. Diwajibkan untuk penjaga pandangan (ghaddul bashar), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Seperti yang dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 30: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat", dan ayat 31: "Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya."muka dan tangan.

3. Bagi perempuan agar menjaga sikap ketika berbicara, sehingga tidak membuat orang lain berniat untuk berbuat yang tidak baik. "Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." (Al-Ahzab: 32)

4. Ketika berjalan, diharapkan tetap tenang dan tidak memperlihatkan perhiasan. "Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan." (Al-Nuur: 31)

5. Tidak dengan gaya yang berlebihan dan bermacam-macam.

6. Meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat, atau yang mengundang laki-laki untuk melakukan tindakan yang tidak baik.

7. Tidak diperbolehkan bagi perempuan memakai pakaian atau perhiasan apapun seperti wangi-wangian yang kuat, yang bisa menimbulkan syahwat bagi laki-laki.

8. Menghindari adanya sentuhan antar lelaki dan perempuan.

9. Hendaknya ikhtilath masih dalam batas-batas kewajaran, sesuai dengan kebutuhan, dan tidak melampaui batas.

10. Tidak melampaui batas gender antara lelaki dan perempuan sehingga adab dan moral antara keduanya tetap terjaga.

11. Tetap ingat kepada Allah SWT dan merasa selalu dalam pengawasan-Nya, serta takut kepada-Nya. Karena hal yang seperti itu dapat mencegah kita untuk tidak melakukan perbuatan yang diharamkan.

12. Dianjurkan adanya sanksi bagi siapa saja yang melanggar ketentuan-ketentuan di atas tadi.

13. Ikhtilath tidak dilakukan secara sengaja, melainkan karena dalam keadaan darurat dan kebutuhan.


Beda, khalwat dan ikhtilath

Syeikh Abdul Latif juga secara tegas membedakan antara khalwat dan ikhtilath. Khalwat adalah menyendirinya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada suatu tempat yang tidak dilihat orang banyak, tanpa adanya muhrim perempuan. Dan khalwat seperti ini jelas diharamkan oleh syari'at Islam. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadist: "Tidaklah berkhalwat antara laki-laki dan perempuan kecuali terdapat muhrimnya".

Namun Syeikh Abdul Latif menerangkan lagi, juga terdapat khalwat yang diperbolehkan ketika dalam keadaan darurat. Seperti di kala seorang wanita tersesat sendirian di padang pasir, maka wajib bagi laki-laki, walau bukan mahramnya memberikan pertolongan. [sadz/aby/sbq/www.hidayatullah.com]

Thursday, July 8, 2010

Tokek

Home Konsultasi Konsultasi Syariah
Hukum Mengkonsumsi dan Bisnis Tokek
Saturday, 29 May 2010 16:32 E-mail | Print | PDF
Apakah hukumnya mengkonsumsi dan mengoleksi tokek?

Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh

Saat ini pemburuan dan bisnis tokek sedang marak, sehingga harganya begitu tinggi. Dari informasi yang berkembang, konon ada tokek harganya bisa mencapai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Pemanfaatan tokek pun bermacam-macam, dikonsumsi sebagai obat dan sebagai koleksi. Untuk itu saya mau bertanya, apakah hukumnya mengkonsumsi dan mengoleksi tokek?

Wassalamu alaikum

Ahmad, Surabaya



Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Memang benar saudaraku –rahimakallah- bahwa tahun-tahun terakhir ini tokek menjadi komoditas yang diburu orang. Hal itu tidak lain karena harga jualnya yang begitu luar biasa mahal, sebagaimana pengakuan pebisnis pada sebuah media cetak. Meskipun cukup populer dan menggiurkan, sikap hamba Allah yang konsisten pasti terdorong untuk mengkonsultasikan kepada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui kaidah yang disarikan dari keduanya. Untuk itu, dalam mengkaji masalah ini dapat melalui tahapan berikut:

Pertama, kaidah dasar mayoritas ulama ushul menyatakan: ”al-Ashl fi al-asyya’ al-ibahah illa ma dalla al-dalil ‘ala al-tahrim.” Artinya pada dasarnya hukum asal segala hal adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Berdasar pada kaidah yang diambil dari berbagai ayat dan hadis ini, hukum dasar dari tokek adalah halal. Masalahnya adalah, adakah dalil yang sahih dan definitif mengenai keharamannya.

Kedua, terdapat dalil yang bersifat umum tentang pengharaman setiap hal yang buruk (khabits), sebagaimana tercantum dalam surat al-A’raf : 157. Pengharaman itu tidak terbatas pada masalah konsumsi, tetapi juga macam-macam model pernikahan, ucapan, dan perbuatan. Begitu pula berbagai ragam transaksi ekonomi (al-Sa’di,Taisir al-Karim al-Rahman, I:305, al-Nasafi, I:395). Adapun terkait dengan konsumsi hewani, al-Qur’an justru memberikan perincian sekaligus batasan yang final –alias tidak mungkin bertambah- dengan mengatakan: ”Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”.(QS. Al-An’am:145). Ayat ini memang Makkiyyah, tetapi secara konsisten Allah menegaskan pembatasan pengharaman hewan pada empat hal ini pada ayat-ayat lain, yaitu al-Nahl:173 sampai surat periode Madinah al-Maidah:1 dan 3 serta al-Baqarah:173.

Ibn Qudamah meriwayatkan bahwa Ibn Abbas dan Aisyah r.a berpegang pada pemahaman yang demikian itu. Bahkan setelah membaca ayat 145 dari al-An’am itu Ibn Abbas berkata: ”Apa yang selain itu adalah halal” (al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, I:1612). Korelatif dengan penegasan yang berulang sampai empat kali serta pendapat Ibn Abbas itu, Imam Malik tegas berpegang bahwa yang haram dari jenis hewan adalah empat kategori tersebut. (al-Razi, al-Tafsir al-Kabir,VII:8). Konsekuensinya bila ada hadis sahih yang berindikasi pengharaman, maka harus dipahami bahwa hukumnya maksimal adalah makruh, kecuali bila berakibat madharrat (membahayakan kesehatan). Oleh karena itu, dalam madzhab Imam Malik tokek adalah halal dan boleh dikonsumsi dengan syarat disembelih secara syar’i (al-Kharsyi, Syarh Mukhtashar Khalil , I:483)

Ketiga, tak terbantahkan bahwa terdapat hadis shahih yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dan juga para imam hadis, di mana Rasulullah menganjurkan untuk membunuh tokek. Nabi bersabda: ”Barang siapa yang membunuh tokek dengan sekali pukul, maka ia mendapatkan pahala seratus kebaikan, dan bila ia membunuhnya pada pukulan kedua, maka ia mendapatkan pahala kurang dari itu, dan bila pada pukulan ketiga, maka ia mendapatkan pahala kurang dari itu." (HR.Muslim). Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari, Ummu Syuraik r.a mengatakan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh tokek. Berdasar pada hadis ini jumhur ulama yaitu Hanafiyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah mengatakan, bahwa tokek -yang termasuk dalam hewan melata (hasyarat)- adalah hewan yang haram dikonsumsi. Alasannya, (a) karena Nabi menyuruh untuk membunuhnya, (b) tokek termasuk hewan melata yang berkategori hal-hal yang buruk (khabaits) sebagaimana tercantum dalam surat al-A’raf:157. (Wahbah, al-Fiqh al-Islamy, III:508, al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah,XVII:297) serta (c) Nabi menamainya fuwaisiq (hewan kecil yang jahat), sebagaimana dalam riwayat al-Bukhari. Namun, sungguh sulit diterima akal adanya tambahan jenis hewan yang dilarang dengan hukum haram setelah empat kali ditegaskan dalam al-Qur’an, bahwa yang haram hanya empat kategori sebagaimana di atas. Sebab, adanya tambahan berarti inkonsistensi terhadap pernyataan pembatasan yang sangat kokoh dengan diulang empat kali dalam al-Qur’an.

Oleh karena itu saya pribadi cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa hukum mengonsumsi tokek adalah halal tapi makruh, demikian pula dengan menjualnya. Adapun memelihara apalagi menernaknya, maka jelas-jelas bertentangan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk membunuhnya walaupun hikmah dan alasan di balik itu perlu pembahasan tersendiri. Selebihnya, sikap bijak orang yang berusaha mengejar predikat muttaqin adalah meninggalkan dan mengorbankan kesempatan untuk menikmati sebagian yang halal -apalagi makruh-, demi menghindari hal yang bermasalah secara hukum. Nabi bersabda: ”Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sebelum ia meninggalkan apa yang tidak berdosa, demi menghindari yang berdosa” (HR.al-Turmudzi, Ibn Majah dan al-Hakim). Walllahu a’lam.

Form Konsultasi

Kamis, 08 Juli 2010





IKLAN BARIS
www.quranseluler.com
Hp Qur'an
Hp Qwerty dengan fitur Al Qur'an, Hadits, Doa Haji, YM, Facebook, Internet
www.serbaadamuslim.com
GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517
www.arthadinar.com
Artha dinar, investasi yang aman, mudah dan menguntungkan
www.muslimgaleri.com
Jilbab, Busana Muslim dan Buku Islam Online