Hukum Hipnotis dalam Syariat Islam
Friday, 29 October 2010 13:49 E-mail | Print | PDF
Hukum haram itu, dapat juga berubah menjadi mubah atau boleh, jika ditujukan untuk hal yang bermanfaat bagi obyek
.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ustad yang Insyaallah dirahmati Allah Swt. Mohon penjelasan tentang hukum "HIPNOTIS" menurut syariat Islam. Saya merasa tergerak mempertanyakan ini, karena akhir akhir ini ada acara baru di TV yang menggelitik rasa keimanan.. Dipertontonkan dalam adegan TV itu, sang penghipnotis bisa menghilangkan, mengendalikan/mengontrol kesadaran seseorang sehingga yang terhipnotis melakukan hal hal atas kontrol sang penghipnotis selama dia kehendaki. Kadang kadang memang terlihat mengagumkan dan bahkan menimbulkan adegan adegan lucu; seperti: si terhipnotis menerima telepon dengan sepatu setelah mendengar dering telepon, dan lain-lainnya. Kadang juga dipakai untuk membentuk pikiran alam bawah sadar yang diyakini mampu membuat orang cepat menggapai kesuksesan. Bagaimana Islam memandang hal ini? jazakumullah.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Saudaraku seiman, seiring perjalanan waktu memang akan selalu muncul fenomena baru atau dianggap baru yang perlu diketahui seorang mukmin dalam perspektif syariat, termasuk dalam hal ini hipnotis. Namun perlu dicermati, bahwa hukum yang kita berikan kepada sesuatu adalah buah dari pengetahuan kita terhadap sesuatu itu (al-hukm 'ala al-syai' far' 'an tashawwurih).
Untuk itu pengertian hipnotis menjadi penting, di mana hipnotis adalah membuat atau menyebabkan seseorang dalam keadaaan hipnosis yaitu keadaan seperti tidur karena sugesti. Pada taraf permulaan orang di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali. (Jakarta: KBBI) 354.
Dalam kondisi seperti ini, seseorang berada dalam kendali pemberi sugesti. Ini terjadi karena dia (korban hipnotis) telah terbawa memasuki gelombang otak tertentu yaitu alfa (8-12 Hz), theta (4-8 Hz) alias pikiran bawah sadar (irrasional) dan keluar dari pikiran sadar (rasional). Akibatnya, obyek hipnotis dapat diperintahkan melakukan apapun, baik yang ma'ruf maupun yang mungkar; tanpa ia sadari dan tanpa daya tolak dari dirinya. Bahkan mau ditambah ataupun dikurangi ingatannya (memori) juga dapat dilakukan. Sebagaimana yang pernah saya saksikan secara langsung dan diperkuat keterangan seorang ahli, obyek tersebut (suyet) tak ubahnya seperti robot.
Pada dasarmya, ditinjau dari sisi caranya yang murni melalui sugesti kata-kata yang sangat normal dan bebas dari unsur syirik itu, hipnotis tidak haram. Adapun bila terdapat unsur-unsur syirik itu, misalnya dengan meminta bantuan jin, maka baru dari caranya saja sudah haram. Tetapi bila ditinjau dari sisi dampak yang cukup fatal terhadap obyek tersebut –walaupun umumnya temporer- saya cenderung mengatakan haram.Apalagi dengan tujuan permainan dan lebih-lebih kejahatan. Sebab tindakan itu berlawanan dengan dua di antara lima tujuan syariat yaitu menjaga agama (hifdz al-din), akal (hifdz al-aql), kehormatan (hifdz al-'ird), jiwa (hifdz al-nafs), dan harta (hifdz al-mal),.
Menghilangkan kesadaran rasional bertentangan dengan tujuan menjaga akal. Sedangkan dampak ikutan yang menjadikan manusia tunduk kepada sesama manusia tanpa pertimbangan apapun adalah penghinaan atas kehormatan seorang manusia. Yang jelas ini bertentangan dengan tujuan syariat yang tersebut ke tiga di atas.
Hukum haram itu, dapat juga berubah menjadi mubah atau boleh, jika ditujukan untuk hal yang bermanfaat bagi obyek. Dan secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan tanpa menimbulkan efek samping negatif . Tentunya hal ini harus dilakukan oleh orang kompeten yang amanah. Misalnya hipnotis dalam rangka pengobatan penyakit kejiwaan; seperti stres yang sulit diungkap penyebabnya. Dengan begini, penanganan melalui hipnotis bebas syirik ini dapat dilakukan atau yang biasa disebut dengan hipnoterapi. Begitu pula penyakit kejiwaan seperti trauma, minder dan sebagainya hingga berubah menjadi sehat bebas trauma, menjadi pribadi yang percaya diri, semangat untuk meraih kejayaan juga boleh ditangani melalui hipnotis ini. Wallahu a'lam.
Form Konsultasi
Tuesday, December 14, 2010
حكم الأضحي للميت
Wa'alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh
Saudaraku seiman yang dirahmati Allah, sungguh Allah yang Maha Penyayang memberikan pantulan sifatnya itu kepada seluruh makhluknya. Termasuk dari cermin curahan kasih sayang itu adalah dorongan seorang anak untuk berbakti kepada orang tua yang telah menyayanginya dalam sepanjang umurnya. Dan –al-hamdulillah- syariat telah membuka pintu yang sangat luas bagi seseorang untuk melaksanakan kewajiban berbakti ini semenjak sang orang tua dalam kondisi hidup maupun telah meninggal, bahkan –saat hidup- dalam kondisi muslim maupun kafir.
Berbakti saat orang tua dalam kondisi hidup sungguh terlalu banyak untuk disebutkan. Tetapi untuk berbakti dalam kondisi orang tua telah meninggal sudah cukup berkurang bentuknya, walaupun –bisa jadi justru- lebih diharapkan dan lebih bermanfaat dari pada saat hidupnya. Diantara bentuk-bentuk berbakti itu yang disepakati bolehnya adalah mendoakannya dan bersedekah dengan menghadiahkan pahalanya kepadanya. Termasuk dalam hal berbakti ini adalah apa yang anda tanyakan yaitu berkurban untuk mereka walaupun secara hukum tidak disepakati.
Wahbah al-Zuhaili (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh: III/634) membagi pendapat ulama menjadi tiga. Pertama, pendapat ulama madzhab al-Syafi'i yang menyatakan bahwa seseorang tidak boleh berkorban atas nama orang lain tanpa izinnya, begitu pula untuk yang telah meninggal tanpa ada wasiat untuk itu, bila berwasiat, maka jadi boleh. Hujjah beliau adalah firman Allah:" dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya " (QS.al-Najm:39). Dan kalaupun dilaksanakan sebab adanya wasiat, maka pelaksana wasiat dan orang lain yang kaya tidak boleh memakannya. Kedua, dari kalangan madzhab Maliki, mereka menjelaskan bahwa tanpa adanya penunjukan kepada hewan tertentu sebelum matinya, maka tindakan berkurban untuk mayit tersebut adalah makruh. Sedangkan –ketiga- ulama Hanafiyah dan Hanabilah keduanya menegaskan atas kebolehan tindakan tersebut baik atas dasar wasiat maupun tidak. Mereka juga menambahkan bahwa tidak ada perbedaan dalam perlakuan terhadap daging hewan tersebut. Hanya saja Hanafiyah mengharamkan bagi pekurban untuk memakan dagingnya bila kurban itu atas dasar wasiat dari orang yang sudah meninggal.
Sayangnya begitu selesai Wahbah menyajikan ketiga pendapat tersebut, beliau tidak memberikan penguatan pada salah satu diantaranya. Namun, dalam kitab lain dapat dijumpai bahwa Abu Dawud dalam kitab Sunannya membuat judul khusus yang memperkuat pendapat yang mendukung pendapat terakhir. Beliau memberi judul bab " Bab al-udhiyyah 'an al-mayyit"(Bab berkurban untuk orang mati). Dalam bab ini ia mencantumkan hadis dari Hanasy ia berkata:" Aku melihat Ali berkurban dengan dua kambing, maka aku bertanya:" Apa ini?" Ali menjawab:" Sesungguhnya Rasulullah s.a.w berwasiat kepadaku agar aku berkurban untuknya, maka aku berkurban untuknya"(HR. Abu Dawud). Hadis ini diperkuat dengan hadis lain yang shahih tentang apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w di mana beliau beberpa kali berkurban tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk umatnya. 'Aisyah r.a mengisahkan bahwa Rasulullah menyembelih kambing kurban seraya berkata:" Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan ummat Muhammad" (HR. Muslim) Padahal maklum sekali bahwa keluarga Nabi ada yang masih hidup, ada pula yang telah meninggal begitu pula umatnya. Hadis senada juga diriwayatkan oleh al-Hakim dengan sanad yang shahih. Dalam semua kondisi ini tidak ada riwayat yang melarang pekurban dan kelurganya untuk memakan sebagian daging kurban tersebut.
Pendapat demikian adalah pendapat yang di dukung oleh Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim dan juga difatwakan oleh al-Lajnah al-Da'imah li al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta' Saudi (jilid XI/417, fatwa tanggal 20 Februaru 2002). Dengan keterangan ini semoga menjadi kemantapan anda untuk melaksanakan niat berbakti kepada orang tua melalui kurban, sekaligus tanpa khawatir kekurangan pahala tatkala dihadiahkan untuk orang tua. Semoga Allah berkenan menerimanya. Wallahu a'lam
Form Konsultasi
Saudaraku seiman yang dirahmati Allah, sungguh Allah yang Maha Penyayang memberikan pantulan sifatnya itu kepada seluruh makhluknya. Termasuk dari cermin curahan kasih sayang itu adalah dorongan seorang anak untuk berbakti kepada orang tua yang telah menyayanginya dalam sepanjang umurnya. Dan –al-hamdulillah- syariat telah membuka pintu yang sangat luas bagi seseorang untuk melaksanakan kewajiban berbakti ini semenjak sang orang tua dalam kondisi hidup maupun telah meninggal, bahkan –saat hidup- dalam kondisi muslim maupun kafir.
Berbakti saat orang tua dalam kondisi hidup sungguh terlalu banyak untuk disebutkan. Tetapi untuk berbakti dalam kondisi orang tua telah meninggal sudah cukup berkurang bentuknya, walaupun –bisa jadi justru- lebih diharapkan dan lebih bermanfaat dari pada saat hidupnya. Diantara bentuk-bentuk berbakti itu yang disepakati bolehnya adalah mendoakannya dan bersedekah dengan menghadiahkan pahalanya kepadanya. Termasuk dalam hal berbakti ini adalah apa yang anda tanyakan yaitu berkurban untuk mereka walaupun secara hukum tidak disepakati.
Wahbah al-Zuhaili (al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh: III/634) membagi pendapat ulama menjadi tiga. Pertama, pendapat ulama madzhab al-Syafi'i yang menyatakan bahwa seseorang tidak boleh berkorban atas nama orang lain tanpa izinnya, begitu pula untuk yang telah meninggal tanpa ada wasiat untuk itu, bila berwasiat, maka jadi boleh. Hujjah beliau adalah firman Allah:" dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya " (QS.al-Najm:39). Dan kalaupun dilaksanakan sebab adanya wasiat, maka pelaksana wasiat dan orang lain yang kaya tidak boleh memakannya. Kedua, dari kalangan madzhab Maliki, mereka menjelaskan bahwa tanpa adanya penunjukan kepada hewan tertentu sebelum matinya, maka tindakan berkurban untuk mayit tersebut adalah makruh. Sedangkan –ketiga- ulama Hanafiyah dan Hanabilah keduanya menegaskan atas kebolehan tindakan tersebut baik atas dasar wasiat maupun tidak. Mereka juga menambahkan bahwa tidak ada perbedaan dalam perlakuan terhadap daging hewan tersebut. Hanya saja Hanafiyah mengharamkan bagi pekurban untuk memakan dagingnya bila kurban itu atas dasar wasiat dari orang yang sudah meninggal.
Sayangnya begitu selesai Wahbah menyajikan ketiga pendapat tersebut, beliau tidak memberikan penguatan pada salah satu diantaranya. Namun, dalam kitab lain dapat dijumpai bahwa Abu Dawud dalam kitab Sunannya membuat judul khusus yang memperkuat pendapat yang mendukung pendapat terakhir. Beliau memberi judul bab " Bab al-udhiyyah 'an al-mayyit"(Bab berkurban untuk orang mati). Dalam bab ini ia mencantumkan hadis dari Hanasy ia berkata:" Aku melihat Ali berkurban dengan dua kambing, maka aku bertanya:" Apa ini?" Ali menjawab:" Sesungguhnya Rasulullah s.a.w berwasiat kepadaku agar aku berkurban untuknya, maka aku berkurban untuknya"(HR. Abu Dawud). Hadis ini diperkuat dengan hadis lain yang shahih tentang apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w di mana beliau beberpa kali berkurban tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk umatnya. 'Aisyah r.a mengisahkan bahwa Rasulullah menyembelih kambing kurban seraya berkata:" Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan ummat Muhammad" (HR. Muslim) Padahal maklum sekali bahwa keluarga Nabi ada yang masih hidup, ada pula yang telah meninggal begitu pula umatnya. Hadis senada juga diriwayatkan oleh al-Hakim dengan sanad yang shahih. Dalam semua kondisi ini tidak ada riwayat yang melarang pekurban dan kelurganya untuk memakan sebagian daging kurban tersebut.
Pendapat demikian adalah pendapat yang di dukung oleh Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim dan juga difatwakan oleh al-Lajnah al-Da'imah li al-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-Ifta' Saudi (jilid XI/417, fatwa tanggal 20 Februaru 2002). Dengan keterangan ini semoga menjadi kemantapan anda untuk melaksanakan niat berbakti kepada orang tua melalui kurban, sekaligus tanpa khawatir kekurangan pahala tatkala dihadiahkan untuk orang tua. Semoga Allah berkenan menerimanya. Wallahu a'lam
Form Konsultasi
Thursday, December 2, 2010
عاق الوالدين وكيفية حله
ســــــــتـها قبل الاستفحال ..«عاكظ» تفتح الملف الشائك
قضايا عقوق الوالدَيْن تتصاعد في المحاكــــم .. الأبناء في السجون .. والجـهات تتبرأ
تحقيق: نعيم تميم الحكيم
«أم محمد» سيدة مسنة، توجهت إلى المحكمة الجزئية في جدة لرفع قضية عقوق ضد ابنها الذي تهجم عليها وحاول ضربها، ليحكم عليه بالسجن جراء الجريمة التي اقترفها، والتي تخالف الشرع والقيم والمروءة والأخلاق الحميدة.
أم محمد واحدة من 120 أما وأبا يتوجهون شهريا لمحاكم جدة لرفع قضايا عقوق ضد أبنائهم المتمردين، خصوصا أن القانون يعتبر أن الاعتداء على أحد الوالدين بالضرب من الجرائم الكبيرة الموجبة للتوقيف ما لم يحصل تنازل.
هذا الازدياد المضطرد في حالات العقوق دفع المحكمة الجزئية في جدة بمناشدة الجهات الأكاديمية والهيئات المختصة ومؤسسات المجتمع المدني إلى دراسة وتشخيص هذه الظاهرة والحد منها قبل تفشيها.
وقد علقت محكمة جدة الجرس بإعلانها تسجيل زيادة ملحوظة في قضايا العقوق بنسبة 20 في المائة في العام الجاري، موضحة أن مكتب قاض واحد تلقى 14 دعوى عقوق من آباء ضد أبنائهم، متهمين إياهم بعدم الطاعة، والتلفظ على الوالدين، والتهجم، ومحاولات الاعتداء، فيما بلغ متوسط عدد قضايا العقوق لدى كل قاض في المحكمة الجزئية في جدة ومحكمة الأحداث سبع قضايا عقوق في الشهر الواحد، ويبلغ متوسطها في الشهر الواحد 120 قضية، وما مشكلة سمر البدوي مع والديها ببعيدة الذكر عن الرأي العام.
هذه الأرقام تثير الغرابة والدهشة معا، كونها تحصل في بلاد الحرمين وضمن مجتمع إسلامي يعلم فيه النشء بر الوالدين وخطورة عقوقهما في المسجد والمدرسة ووسائل الإعلام، مما يعني أن هناك خللا ما في طبيعة الرسالة الموجهة أو آلياتها وقنواتها الموصلة.
«عكاظ» فتحت هذا الملف الشائك وتساءلت عن أسباب تنامي قضايا العقوق في محاكم جدة، وهل وصلت لحد الظاهرة، وهل النسبة متماثلة مع المحاكم الأخرى في باقي مناطق المملكة؟. واستقصت عن دور الجهات المعنية من الشؤون الإسلامية والتربية والتعليم والشؤون الاجتماعية والشورى والجهات الأكاديمية ومركز الملك عبد العزيز للحوار الوطني وجمعية حقوق الإنسان ومؤسسات المجتمع المدني وغيرها في حل هذه المشكلة عبر الجهود المنوطة بها، إضافة لدورها في إعداد الدراسات والأبحاث العلمية، كما بحثت مكامن الخلل في الوسائل المستخدمة لتوجيه الرسائل التوعوية، وخلصت إلى التوصيات المقترحة للحد من المشكلة في سياق التحقيق التالي:
بداية يؤكد القاضي في المحكمة الجزئية في جدة الدكتور محمد الموجان أن النسبة التي تستقبلها المحكمة في جدة مرتفعة خصوصا خلال العام الجاري، مبينا أنه لا يمر أسبوع إلا وتمر قضية أو قضيتان عليه، وأرجع الموجان أن معظم حالات العقوق ضد الأمهات والآباء تأتي من أبناء مدمنين للمخدرات والمسكرات أو يعانون من ضيق ذات اليد والبطالة وعدم وجود وظيفة مما يحوله لعالة على أمه وأبيه، الذين قد يعانون من مشاكل عديدة وإذا لم يستجيبوا لمطالبه المادية فإنه قد يتطاول عليهم بالسب أو الضرب.
وحصر الموجان الفئة العمرية العاقة التي ترفع ضدها القضايا ما بين 17 إلى 30 عاما، وعد الموجان الأمراض النفسية والاكتئاب والضغوط الحياتية والبطالة من أهم الأسباب التي يبرر بها الأبناء عقوقهم لآبائهم.
وبين الموجان أن القضاة يبذلون جهدهم لحل القضايا وديا، مشددا على أن معظم الحالات تنتهي بتنازل أحد الأبوين عن سجن ابنه بعد الحكم، مستذكرا قضية سيدة تقدمت بتنازل عن ابنها العاق المسجون ليصوم معها في شهر رمضان الماضي.
الحل الودي
وذكر الموجان أن القضاة يجتهدون في حل هذه القضايا والحد منها من خلال نصح الشباب وتذكيرهم بخطورة العقوق وفق ما جاء في الكتاب والسنة، إضافة لمحاولة توظيف الشباب وإيجاد مصدر رزق لمن يعانون البطالة.
ورفض الموجان القول بأن النسبة الكبرى من قضايا العقوق تقع من غير السعوديين، بقوله «معظم القضايا ضمن شريحة السعوديين بل إن نسبة السعوديين في ازدياد مستمر ونحن نغفل عن ذلك، لذا علينا التنبه ودراسة هذه الإشكالية ومحاصرتها قبل أن تنتشر بشكل أكبر».
ولاحظ الموجان أن قضايا العقوق ضد البنات قليلة قياسا بالقضايا المرفوعة ضد الأولاد، وأرجع أسباب عقوق البنات إلى عضلهن من قبل آبائهن والسيطرة الذكورية في المنزل، ونفى الموجان تشابه نسبة العقوق بين محاكم جدة وباقي محاكم المملكة، مبينا عدم معرفته بذلك.
وهنا يوضح رئيس المحكمة الجزئية في الرياض الدكتور صالح آل الشيخ أن قضايا العقوق التي ترد إلى محكمة الرياض ليست قليلة لكنها لا تقارن بالرقم الكبير لمحكمة الرياض، مضيفا «توجد قضايا عقوق لكنها ليست بالرقم الكبير وتتمثل في عدم الاهتمام بالوالدين وإهمالهم والتلفظ عليهم، لكنها نادرا ما تصل للاعتداء الجسدي».
وأرجع آل الشيخ أسباب هذه القضايا إلى تعاطي الأبناء العاقين للمخدرات والمسكرات أو رغبة الابن بالاستقلال في حياته، فتصطدم تلك الرغبة بإرادة الأب الذي يريد أن يكون الابن تحت جناحه، مما يولد ردة فعل من الابن تجاه والديه، وعد آل الشيخ عدم الإنفاق على الوالدين أحد أهم الأسباب لعقوق الأبناء لآبائهم إضافة لوجود فجوة بين الآباء والأبناء تساهم في حصول العقوق.
أسباب العقوق
ولم يذهب المستشارون الأسريون بعيدا عن رأي القضاة في تحليل أسباب ارتفاع قضايا العقوق في المحاكم بخلاف ما يحدث في المنازل من مشاكل بين الآباء والأبناء تحمل في طياتها قضايا عقوق لا تصل إلى أروقة المحاكم، وهو ما أكده رئيس لجنة التكافل الأسري في إمارة المنطقة الشرقية والمستشار الأسري الدكتور غازي الشمري، مبينا أن العديد من قضايا العقوق تصلهم في الإمارة بمعدل أربع إلى خمس قضايا في الشهر الواحد، مضيفا «عندما افتتحنا اللجنة في الإمارة لم نكن نتوقع أن تصلنا قضايا عقوق بهذا العدد، لأننا كنا نظن أن اللجنة ستعالج قضايا العنف والابتزاز وغيرها من القضايا الأسرية الشائكة».
ورأى الشمري أن سبب كثرة هذه القضايا يعود لضعف الوازع الديني عند الأبناء، والإعلام الفاسد الذي يصور حرية الشباب دون التقيد بدين أو عرف أو احترام لأم وأب واتباع نماذج غربية متحررة تغذي ثقافة تمرد الأبناء على الآباء، وبين الشمري أن سلوك العقوق هو سلوك دخيل على بلد إسلامي، فهو صنيعة إعلامية غربية، ولاحظ الشمري أن هناك فجوة كبيرة بين المشايخ ووسائل الإعلام ساهمت في انعدام وجود حوار يساهم في حل كثير من المشاكل الاجتماعية مثل العقوق.
وأشار الشمري إلى أنه مهما بذلت من جهود من قبل المدرسة والمسجد في التوعية بخطورة العقوق، فإن هناك وسائل حديثة تهدم ما يبنى في البيوت والمدارس والمساجد.
آثار سلبية
وبين الشمري بعض الآثار السلبية للعقوق في المجتمع من انعدام البركة وانتشار الجرائم، مؤكدا على أن معظم المجرمين ومدمني المخدرات والإرهابيين هم عاقون لآبائهم وأماتهم، بل إن بعضهم وصل به الحال لمحاولة تفجير أبويه بحزام ناسف إذا وقف في طريقه.
واتفق عضو لجنة إصلاح ذات البين المستشار والداعية الدكتور علي المالكي مع ما جاء به الشمري عن خطورة العقوق على المجتمع، مؤكدا على مسألة تناميه من خلال ما يصلهم من قضايا في اللجنة والتي تصل أحيانا للقتل وبعضها إلى تشريد الأسر وتشتيتها، مبينا أنهم في اللجنة يعملون جادين في مناصحة الأطراف وخصوصا الشباب وتذكيرهم بالله تعالى، وربما تحتاج بعض القضايا إلى إحالتها للجهات المعنية لاتخاذ اللازم وذلك لاستفحالها.
وحمل المالكي الإعلام مسؤولية تفشي العقوق في المجتمع قائلا «من الأسباب عدم تبني الإعلام لإيجاد صور تربوية تحيي مثل هذه المبادىء لدى أبنائنا من المشاهدين وغياب الصورة والدور الذي يجب أن يكون عليه إعلامنا، بل إنه مع الأسف أصبح الإعلام معول هدم لكثير من ثوابت الأمة».
وانتقد المالكي بعض خطباء المساجد الذين اشتغلوا بمواكبة قضايا العالم ونسى أهم قضية وهي قضية مستقبل أبنائنا في البر والوفاء مع الوالدين، وواصل المالكي هجومه على بعض المعلمين الذين حملهم جزء من المسؤولية، فهم كما وصفهم آلات مبرمجة يعشقون ساعة الانصراف دون أن يحملون لواء الدعوة إلى الله وإصلاح المجتمعات.
ولي الأمر
واعتبر المالكي، أن ولي الأمر الملك عبد الله بن عبد العزيز، ضرب أروع الأمثلة في صور البر بوالديه وذلك من خلال تسمية كثير من المشاريع الخيرية والجامعات العلمية باسم والديه؛ حتى لا ينساهم التاريخ من الدعاء والوفاء.
وشدد المالكي على أنه لا يوجد ناجح ولا موفق إلا وله سر في البر.
واختلف مدير فرع وزارة الشؤون الاجتماعية السابق والمستشار الأسري الدكتور علي الحناكي مع رأي سابقيه، في تحميل مسؤولية تنامي قضايا العقوق للآباء والأمهات بإهمالهم لأبنائهم وانشغالهم عنهم وعدم منحهم الحب والاحترام والعاطفة والاهتمام، مضيفا «يظن بعض الآباء والأمهات أن مسؤوليتهم تنحصر في تأمين المأكل والمشرب والحاجات المادية فقط، متناسين الحاجات المعنوية والعاطفية والنفسية للأبناء والتي تعد أكثر أهمية».
وشدد على وجود آباء وأمهات لا يتحملون مسؤوليات أبنائهم، بالتالي ينشغل الأبناء بوسائل التقنية الحديثة «كاللابتوب والبي بي» ويخلق له عالما خاصا بعيدا عن أبويه وبالتالي فإن العلاقة بين الطرفين تتقلص فلا يهتم الأب بابنه أو ابنته ومع من يجلس ويتحدث، وعند وجود أية مشكلة تجد ردة الفعل من قبل الأبناء تجاه أبويهم نتيجة الإهمال الأسري والحرمان العاطفي.
ولاحظ الحناكي أن هذه المشكلة تتكرر في بيوت الأكاديميين والمتعلمين وليس الأسر بسيطة التعليم فقط، مشددا على أن غياب الحوار في المنزل واستقلالية الأبناء أحد أبرز العوامل في ظهور قضايا العقوق، إضافة للطمع المالي فيما يملكه الأب أو الأم من مال.
رقم كبير
وأشار الدكتور علي إلى أن المسؤولية مشتركة في الحد من ازدياد قضايا العقوق بين وسائل الإعلام والجهات التربوية والإرشادية وحتى مراكز الأحياء والعمد والذين يجب أن يكون لهم دور من خلال ملاحظتهم لبعض القضايا في أحيائهم ومحاولة حلها بشكل ودي، معتبرا وصول الرقم إلى 120 قضية في الشهر رقما كبيرا يحتاج إلى مراجعة لمعرفة الأسباب وحلها.
لكن المشرف على كرسي الحسبة وقضايا الشباب في جامعة الملك عبد العزيز الدكتور نوح الشهري، يرى أنه لا يمكن الجزم بأن المشكلة كبيرة إلا من خلال دراسات علمية وبحثية تقارن عدد حوداث العقوق التي تحدث في المملكة بشكل عام مقارنة بعدد السكان وطبيعة القضايا؛ حتى يحكم على المشكلة بأنها ظاهرة أو مجرد حالات شاذة، نافيا أن تكون مشكلة العقوق ظاهرة في المجتمع السعودي، مرجعا إنتشار هذه المشكلة وكثرتها في المحاكم في الآونة الأخيرة إلى الانفتاح الإعلامي والمجتمعي، إضافة لوجود الشبكة العنكبوتية والفضائيات والتي جعلت الأبناء يعيشون في عزلة اجتماعية عن أبويهم وعن المحيط من حولهم، بعيدا عن الأجواء الأسرية المثالية المسكونة بالإحساس، الاهتمام، العطف، الحنان، والمحبة فيحاول الأبناء اللجوء للعلاقات المحرمة والانحراف والمحصلة النهائية هي الخلاف مع الأبوين الذي قد ينتهي بحدوث العقوق.
لكن رئيس اللجنة الاجتماعية والأسرة في مجلس الشورى الدكتور طلال بكري فضل تحميل المسؤولية للانفتاح المجتمعي المبالغ فيه، مشيرا إلى أن المجتمع لم يعد كما كان في السابق واختلطت الأعراف والعادات الاجتماعية السعودية القائمة على تعاليم الدين واحترام الأسرة بالعادات والتقاليد التي جلبتها العمالة الوافدة، مضيفا أن مشاكل الحياة الاقتصادية المعقدة مع قلة الوزاع الديني والأخلاقي دفعت العديد من الأبناء للتمرد على آبائهم، «وحصلت الكثير من قضايا العقوق التي نسمع عنها ونراها على صفحات الصحف»، محملا عدم تحمل المسؤولية من قبل الآباء جزء من المشكلة.
تحميل المسؤولية
واعترف الدكتور بكري بعدم تطرق مجلس الشورى لمناقشة هذه المشكلة رغم ضخامة الرقم الذي أعلنته محكمة جدة الجزئية، قائلا «نناقش العديد من قضايا الشباب، لكن للأمانة فإن تنامي قضايا العقوق لم نتطرق له ولم نناقشه بالشكل المطلوب، لكن ربما يكون أحد المواضيع المناقشة إذ دعت الحاجة لذلك»، واعتبر الدكتور بكري أن المشكلة لم تصل لدرجة الظاهرة، محملا جميع الجهات المعنية مسؤولية تنامي القضايا وكثرتها.
وأمام اعتراف بكري بقصور الشورى في مناقشة القضية وتحمل الجهات مسؤولية تناميها، بدورها أنبرت الجهات بالدفاع عن جهودها في تكريس مفاهيم البر ومحاولة محاصرة المشكلة قبل استفحالها بكل الوسائل المتاحة، فوزارة الشؤون الإسلامية على لسان رئيس لجان تقييم الأئمة والخطباء في فرعها في الرياض الدكتور عزام الشويعر برأ خطباء المساجد من تهمة القصور، مبينا أن خطباء المساجد في المملكة يقومون بدورهم بالتوعية ببر الوالدين والتنبيه من خطورة العقوق، فلا يكاد تمر خطبة في مسجد في المملكة إلا ونجد فيه خطبا تتحدث عن خطورة العقوق مستمدة منهجها من الكتاب والسنة والقصص الواقعية المستمدة من الحياة، والبعد عن القصص الخيالية.
ولفت الشويعر إلى أن الوزارة نبهت على الائمة باستخدام أسلوب النبي صلى الله عليه وسلم، بالترغيب ببر الوالدين والترهيب من عقوقهم، وأشار الشويعر إلى أنه ضمن منهج كل خطيب في خطبهم كل عام التحدث على مواضيع العقيدة والتوحيد أولا ومن ثم بر الوالدين في المقام الثاني، وأكد الشويعر على أن الوزارة تنبه على الخطباء في الدورات التي تعطى لهم بضرورة الحديث عن حقوق الله سبحانه وتعالى، ومن ثم الوالدين وكذلك حق الأبناء على الآباء، «ونعلهم الطريقة المثلى لإيصال الرسالة بشكل بسيط ومحبب ومقبول لدى كل فئات المجتمع».
الدور التربوي
ولم يكن موقف دور وزارة التربية والتعليم إلا مشابها لدور الشؤون الإسلامية بالدفاع عن دورها من خلال مدير عام التوجيه والإرشاد عبد الكريم بن سليمان الجربوع الذي بين أن الوزارة لها دور في الحد من تنامي قضايا العقوق، من خلال نقاط ثلاث؛ المناهج الدراسية التي تتضمن موضوعات عن بر الوالدين واحترامهما وتقديرهما، وتنظيم معظم المواد الدراسية والأنشطة المصاحبة لها في جميع مراحل التعليم، إضافة لوجود القدوة الصالحة في الأسرة والمدرسة والمجتمع.
وبين الجربوع أن دورالتوجيه والإرشاد يتمثل من خلال لجنة التوجيه والإرشاد في المدرسة، إضافة للدور الذي يقوم به المرشد الطلابي وقائيا وإنمائيا في توعية الطلاب نحو البر بوالديهم، وكذلك من خلال البرامج التدريبية الموجهة للطلاب حول تنمية الشخصية وأهمية احترام الوالدين، لما لهما من شأن عظيم وقدر جليل في ظل تعليم وقيم ديننا الإسلامي التي تحث على ذلك وبناء العلاقات الإيجابية مع الآخرين، ومن خلال برامج التوعية الإسلامية والنشاط الطلابي في هذا الجانب بما يعزز التنشئة الدينية والاجتماعية لدى الطلاب.
الدور الإعلامي
واعتبر المتحدث الرسمي باسم وزارة الثقافة والإعلام عبد الرحمن الهزاع أن دور الوزارة ليس كافيا للتقليل من قضايا العقوق وانتشاره في المجتمع، مشيرا إلى أن الوزارة ترصد مثل هذه المشاكل وتلقط الإشارات الدالة على وجود مشكلة ما في المجتمع ومن ثم تحاول أن تعالجها عبر وسائل الإعلام المرئية والمقروءة والمسموعة.
وشدد الهزاع على أن مناقشة مسألة تنامي قضايا الطلاق في المجتمع بحاجة لأن تكون ردة الفعل عليها بحجم المشكلة، وذلك لن يأتي إلا عبر دراسات علمية تعطي مؤشرات هل نحن سائرون في الطريق الصحيح؟.
ولفت الهزاع إلى أن الوزارة تتحمل مسؤولياتها كاملة بتوعية المجتمع بخطورة العقوق والطرق المؤدية له عبر قنواتها التسع وإذاعاتها وجميع الصحف المحلية. ودعا الهزاع جميع الجهات لحل المشكلة، فالقضية تكاملية خصوصا أن الرقم يعتبر عاليا.
الدور الاجتماعي
واعتبر مدير فرع وزارة الشؤون الاجتماعية في منطقة مكة المكرمة عبد الله آل طاوي أن قضايا العقوق التي تأتيهم في فرع الوزارة في مكة قليلة ونادرة ولا تشكل ظاهرة، وغالبا ما تكون عن طريق لجنة إصلاح ذات البين، مبينا أن الوزارة لديها مستشارين وباحثين يقومون بعمل دراسة عن المشكلة ووضع حلول عاجلة لها، وحلها بشكل ودي بعيدا عن إيصالها إلى أروقة المحاكم. ولفت آل طاوي إلى أن الوزارة تعالج الابن العاق بحل السبب الذي جعله يعق أبويه، فإن كان مريضا نفسيا يعاني من ضيق ذات اليد فإنه يلحق بالضمان الاجتماعي ويصرف له، وإذا كان مدمنا فإنه يوجه للعلاج، وإذا كان يعاني من البطالة فإنه يساعد حتى يجد وظيفة ملائمة. وأوضح آل طاوي إلى أن المعنفين من النساء الكبيرات اللاتي يتعرضن لعنف من أبنائهن فإنهن يلحقن بدار الحماية حتى تحل مشاكلهن.
واتفق مدير فرع جمعية حقوق الإنسان في منطقة مكة المكرمة الدكتور حسين الشريف مع رأي آل طاوي بأن قضايا العقوق لا تشكل ظاهرة في المجتمع، مبينا أن دور الجمعية يقتصر على التدخل في حال وجود ظلم من قبل أحد الطرفين بحق الطرف الآخر، مشيرا إلى أن الجمعية تدرس القضية وتتبناها في حال ثبت الظلم لرفعه عن الجهة المظلومة، موضحا وجود حالات ينتهك فيها الآباء حق أبنائهم أو العكس، وقد يحكم القاضي بحكم يخالف الحقيقة، فدورنا حينها التدخل ومحاولة إعطاء كل ذي حق حقه.
وشدد الشريف على أن الجمعية تشدد على منع استخدام الأبوين أو الأبناء حقوقهم في رفع القضايا في المحاكم على بعضهم أو استخدام العنف، مطالبا الشؤون الإسلامية والمدراس ووسائل الإعلام بإيلاء مسألة ارتفاع قضايا العقوق أهمية في حلها، إضافة لتعزيز دور الجهات البحثية.
بحوث علمية
بدوره، اعترف عميد معهد البحوث والدراسات الاستشارية في جامعة أم القرى الدكتور سمير بن حسن قاري بوجود قصور من قبل الجهات الأكاديمية في حل المشاكل الاجتماعية، مشيرا إلى أن مسار البحث العلمي في مجال الدراسات الاجتماعية في المنطقة يتضمن احتمالات وفرص تقدم كبيرة، نظرا لجديته وامتلاكه آليات تصحيح ذاتي سوف تنعكس بشكل إيجابي على مساراته في المستقبل، وإن ما يعزز إمكانات تحققها وجود نماذج رائدة وناجحة كنموذج مركز البحوث والدراسات الاستشارية في جامعة أم القرى.
وأشار قاري إلى أن مسؤولية المجتمع العلمي الأكاديمي تبرز في وضع حقل دراسات ظاهرة العقوق على خارطة البحث العلمي الجاد، ما يؤدي إلى زيادة الوعي بمشاكلها، ويؤدي إلى اتخاذ خطوات عملية نحو إنهاء معاناة الكثير من الأسر المسلمة. واشترط قاري أن يكون البحث العلمي في هذا المجال مستوفيا شروط البحث العلمي والتقييم الموضوعي النقدي للظاهرة، ومنتهيا دائما بنتائج ومقترحات عملية مرتبة وفقا لشروط تحقيقها وإمكانياته ومصاغة بلغة واضحة قابلة للتنفيذ أو للترجمة في سياسات وخطط اجتماعية سديدة واقتراح حلول ناجحة، الأمر الذي يتطلب أولا حوارا متصلا ومتواصلا بين الأكاديميين والمؤسسات الاجتماعية والجهات المعنية لصياغة رؤية مشتركة ووضع برامج بحثية على درجة عالية من الواقعية.
من جانبه، أشار مدير عام إدارة الدراسات والنشر في مركز الملك عبد العزيز للحوار الوطني الدكتور محمد الشويعر أن المركز لاحظ هناك فجوة كبيرة في المجتمع فأطلق مشروع الحوار الأسري، حيث وجد إقبالا كبيرا وحماسا من المجتمع بكافة أطيافه وكان له أثر طيب في ردم الهوة، مما يساهم في تقليل قضايا العقوق.
ولفت الشويعر إلى أنهم في المركز أعدوا دراسة تحت الطبع تحوي أبرز المشاكل الأسرية وغطينا فيها جميع الجوانب، وأوضح الشويعر أن المركز يتعامل مع المشاكل من الجانب الفكري، مشيرا إلى أنهم قد يدرسون قضية ازدياد العقوق في المجتمع إن دعت الحاجة لذلك.
التوصيات
وخلص الباحثون المشاركون في القضية إلى ضرورة دراسة هذه القضايا من قبل الجهات البحثية لوضع الحلول، إضافة لتضافر جهود جميع الجهات المعنية للحد من المشكلة قبل تزايدها، ونشر ثقافة الحوار الأسري في المجتمع، وشددوا على أهمية تعزيز دور المسجد والعلماء والدعاة بالترغيب في البر والترهيب من العقوق، وأكدوا على دور المدرسة والمنهج والأنشطة في تعزيز الانتماء الأسري.
كما شددوا على ضرورة إيجاد حلول لما يعانيه الشباب من بطالة وفراغ ومشاكل حياتية، وتعزيز دور مراكز الأحياء والعمد في احتواء المشاكل الأسرية، وأكدوا على أهمية عمل دورات للمقبلين على الزواج بطرق التعامل مع الأبناء، والتشديد على مسألة تحمل الآباء لمسؤولياتهم تجاه أبنائهم وأداء حقوقهم، والإكثار من الأناشيد والكليبات والأفلام والبرامج في وسائل الإعلام التي تدعو لبر الوالدين وتحذر من العقوق.
قضايا عقوق الوالدَيْن تتصاعد في المحاكــــم .. الأبناء في السجون .. والجـهات تتبرأ
تحقيق: نعيم تميم الحكيم
«أم محمد» سيدة مسنة، توجهت إلى المحكمة الجزئية في جدة لرفع قضية عقوق ضد ابنها الذي تهجم عليها وحاول ضربها، ليحكم عليه بالسجن جراء الجريمة التي اقترفها، والتي تخالف الشرع والقيم والمروءة والأخلاق الحميدة.
أم محمد واحدة من 120 أما وأبا يتوجهون شهريا لمحاكم جدة لرفع قضايا عقوق ضد أبنائهم المتمردين، خصوصا أن القانون يعتبر أن الاعتداء على أحد الوالدين بالضرب من الجرائم الكبيرة الموجبة للتوقيف ما لم يحصل تنازل.
هذا الازدياد المضطرد في حالات العقوق دفع المحكمة الجزئية في جدة بمناشدة الجهات الأكاديمية والهيئات المختصة ومؤسسات المجتمع المدني إلى دراسة وتشخيص هذه الظاهرة والحد منها قبل تفشيها.
وقد علقت محكمة جدة الجرس بإعلانها تسجيل زيادة ملحوظة في قضايا العقوق بنسبة 20 في المائة في العام الجاري، موضحة أن مكتب قاض واحد تلقى 14 دعوى عقوق من آباء ضد أبنائهم، متهمين إياهم بعدم الطاعة، والتلفظ على الوالدين، والتهجم، ومحاولات الاعتداء، فيما بلغ متوسط عدد قضايا العقوق لدى كل قاض في المحكمة الجزئية في جدة ومحكمة الأحداث سبع قضايا عقوق في الشهر الواحد، ويبلغ متوسطها في الشهر الواحد 120 قضية، وما مشكلة سمر البدوي مع والديها ببعيدة الذكر عن الرأي العام.
هذه الأرقام تثير الغرابة والدهشة معا، كونها تحصل في بلاد الحرمين وضمن مجتمع إسلامي يعلم فيه النشء بر الوالدين وخطورة عقوقهما في المسجد والمدرسة ووسائل الإعلام، مما يعني أن هناك خللا ما في طبيعة الرسالة الموجهة أو آلياتها وقنواتها الموصلة.
«عكاظ» فتحت هذا الملف الشائك وتساءلت عن أسباب تنامي قضايا العقوق في محاكم جدة، وهل وصلت لحد الظاهرة، وهل النسبة متماثلة مع المحاكم الأخرى في باقي مناطق المملكة؟. واستقصت عن دور الجهات المعنية من الشؤون الإسلامية والتربية والتعليم والشؤون الاجتماعية والشورى والجهات الأكاديمية ومركز الملك عبد العزيز للحوار الوطني وجمعية حقوق الإنسان ومؤسسات المجتمع المدني وغيرها في حل هذه المشكلة عبر الجهود المنوطة بها، إضافة لدورها في إعداد الدراسات والأبحاث العلمية، كما بحثت مكامن الخلل في الوسائل المستخدمة لتوجيه الرسائل التوعوية، وخلصت إلى التوصيات المقترحة للحد من المشكلة في سياق التحقيق التالي:
بداية يؤكد القاضي في المحكمة الجزئية في جدة الدكتور محمد الموجان أن النسبة التي تستقبلها المحكمة في جدة مرتفعة خصوصا خلال العام الجاري، مبينا أنه لا يمر أسبوع إلا وتمر قضية أو قضيتان عليه، وأرجع الموجان أن معظم حالات العقوق ضد الأمهات والآباء تأتي من أبناء مدمنين للمخدرات والمسكرات أو يعانون من ضيق ذات اليد والبطالة وعدم وجود وظيفة مما يحوله لعالة على أمه وأبيه، الذين قد يعانون من مشاكل عديدة وإذا لم يستجيبوا لمطالبه المادية فإنه قد يتطاول عليهم بالسب أو الضرب.
وحصر الموجان الفئة العمرية العاقة التي ترفع ضدها القضايا ما بين 17 إلى 30 عاما، وعد الموجان الأمراض النفسية والاكتئاب والضغوط الحياتية والبطالة من أهم الأسباب التي يبرر بها الأبناء عقوقهم لآبائهم.
وبين الموجان أن القضاة يبذلون جهدهم لحل القضايا وديا، مشددا على أن معظم الحالات تنتهي بتنازل أحد الأبوين عن سجن ابنه بعد الحكم، مستذكرا قضية سيدة تقدمت بتنازل عن ابنها العاق المسجون ليصوم معها في شهر رمضان الماضي.
الحل الودي
وذكر الموجان أن القضاة يجتهدون في حل هذه القضايا والحد منها من خلال نصح الشباب وتذكيرهم بخطورة العقوق وفق ما جاء في الكتاب والسنة، إضافة لمحاولة توظيف الشباب وإيجاد مصدر رزق لمن يعانون البطالة.
ورفض الموجان القول بأن النسبة الكبرى من قضايا العقوق تقع من غير السعوديين، بقوله «معظم القضايا ضمن شريحة السعوديين بل إن نسبة السعوديين في ازدياد مستمر ونحن نغفل عن ذلك، لذا علينا التنبه ودراسة هذه الإشكالية ومحاصرتها قبل أن تنتشر بشكل أكبر».
ولاحظ الموجان أن قضايا العقوق ضد البنات قليلة قياسا بالقضايا المرفوعة ضد الأولاد، وأرجع أسباب عقوق البنات إلى عضلهن من قبل آبائهن والسيطرة الذكورية في المنزل، ونفى الموجان تشابه نسبة العقوق بين محاكم جدة وباقي محاكم المملكة، مبينا عدم معرفته بذلك.
وهنا يوضح رئيس المحكمة الجزئية في الرياض الدكتور صالح آل الشيخ أن قضايا العقوق التي ترد إلى محكمة الرياض ليست قليلة لكنها لا تقارن بالرقم الكبير لمحكمة الرياض، مضيفا «توجد قضايا عقوق لكنها ليست بالرقم الكبير وتتمثل في عدم الاهتمام بالوالدين وإهمالهم والتلفظ عليهم، لكنها نادرا ما تصل للاعتداء الجسدي».
وأرجع آل الشيخ أسباب هذه القضايا إلى تعاطي الأبناء العاقين للمخدرات والمسكرات أو رغبة الابن بالاستقلال في حياته، فتصطدم تلك الرغبة بإرادة الأب الذي يريد أن يكون الابن تحت جناحه، مما يولد ردة فعل من الابن تجاه والديه، وعد آل الشيخ عدم الإنفاق على الوالدين أحد أهم الأسباب لعقوق الأبناء لآبائهم إضافة لوجود فجوة بين الآباء والأبناء تساهم في حصول العقوق.
أسباب العقوق
ولم يذهب المستشارون الأسريون بعيدا عن رأي القضاة في تحليل أسباب ارتفاع قضايا العقوق في المحاكم بخلاف ما يحدث في المنازل من مشاكل بين الآباء والأبناء تحمل في طياتها قضايا عقوق لا تصل إلى أروقة المحاكم، وهو ما أكده رئيس لجنة التكافل الأسري في إمارة المنطقة الشرقية والمستشار الأسري الدكتور غازي الشمري، مبينا أن العديد من قضايا العقوق تصلهم في الإمارة بمعدل أربع إلى خمس قضايا في الشهر الواحد، مضيفا «عندما افتتحنا اللجنة في الإمارة لم نكن نتوقع أن تصلنا قضايا عقوق بهذا العدد، لأننا كنا نظن أن اللجنة ستعالج قضايا العنف والابتزاز وغيرها من القضايا الأسرية الشائكة».
ورأى الشمري أن سبب كثرة هذه القضايا يعود لضعف الوازع الديني عند الأبناء، والإعلام الفاسد الذي يصور حرية الشباب دون التقيد بدين أو عرف أو احترام لأم وأب واتباع نماذج غربية متحررة تغذي ثقافة تمرد الأبناء على الآباء، وبين الشمري أن سلوك العقوق هو سلوك دخيل على بلد إسلامي، فهو صنيعة إعلامية غربية، ولاحظ الشمري أن هناك فجوة كبيرة بين المشايخ ووسائل الإعلام ساهمت في انعدام وجود حوار يساهم في حل كثير من المشاكل الاجتماعية مثل العقوق.
وأشار الشمري إلى أنه مهما بذلت من جهود من قبل المدرسة والمسجد في التوعية بخطورة العقوق، فإن هناك وسائل حديثة تهدم ما يبنى في البيوت والمدارس والمساجد.
آثار سلبية
وبين الشمري بعض الآثار السلبية للعقوق في المجتمع من انعدام البركة وانتشار الجرائم، مؤكدا على أن معظم المجرمين ومدمني المخدرات والإرهابيين هم عاقون لآبائهم وأماتهم، بل إن بعضهم وصل به الحال لمحاولة تفجير أبويه بحزام ناسف إذا وقف في طريقه.
واتفق عضو لجنة إصلاح ذات البين المستشار والداعية الدكتور علي المالكي مع ما جاء به الشمري عن خطورة العقوق على المجتمع، مؤكدا على مسألة تناميه من خلال ما يصلهم من قضايا في اللجنة والتي تصل أحيانا للقتل وبعضها إلى تشريد الأسر وتشتيتها، مبينا أنهم في اللجنة يعملون جادين في مناصحة الأطراف وخصوصا الشباب وتذكيرهم بالله تعالى، وربما تحتاج بعض القضايا إلى إحالتها للجهات المعنية لاتخاذ اللازم وذلك لاستفحالها.
وحمل المالكي الإعلام مسؤولية تفشي العقوق في المجتمع قائلا «من الأسباب عدم تبني الإعلام لإيجاد صور تربوية تحيي مثل هذه المبادىء لدى أبنائنا من المشاهدين وغياب الصورة والدور الذي يجب أن يكون عليه إعلامنا، بل إنه مع الأسف أصبح الإعلام معول هدم لكثير من ثوابت الأمة».
وانتقد المالكي بعض خطباء المساجد الذين اشتغلوا بمواكبة قضايا العالم ونسى أهم قضية وهي قضية مستقبل أبنائنا في البر والوفاء مع الوالدين، وواصل المالكي هجومه على بعض المعلمين الذين حملهم جزء من المسؤولية، فهم كما وصفهم آلات مبرمجة يعشقون ساعة الانصراف دون أن يحملون لواء الدعوة إلى الله وإصلاح المجتمعات.
ولي الأمر
واعتبر المالكي، أن ولي الأمر الملك عبد الله بن عبد العزيز، ضرب أروع الأمثلة في صور البر بوالديه وذلك من خلال تسمية كثير من المشاريع الخيرية والجامعات العلمية باسم والديه؛ حتى لا ينساهم التاريخ من الدعاء والوفاء.
وشدد المالكي على أنه لا يوجد ناجح ولا موفق إلا وله سر في البر.
واختلف مدير فرع وزارة الشؤون الاجتماعية السابق والمستشار الأسري الدكتور علي الحناكي مع رأي سابقيه، في تحميل مسؤولية تنامي قضايا العقوق للآباء والأمهات بإهمالهم لأبنائهم وانشغالهم عنهم وعدم منحهم الحب والاحترام والعاطفة والاهتمام، مضيفا «يظن بعض الآباء والأمهات أن مسؤوليتهم تنحصر في تأمين المأكل والمشرب والحاجات المادية فقط، متناسين الحاجات المعنوية والعاطفية والنفسية للأبناء والتي تعد أكثر أهمية».
وشدد على وجود آباء وأمهات لا يتحملون مسؤوليات أبنائهم، بالتالي ينشغل الأبناء بوسائل التقنية الحديثة «كاللابتوب والبي بي» ويخلق له عالما خاصا بعيدا عن أبويه وبالتالي فإن العلاقة بين الطرفين تتقلص فلا يهتم الأب بابنه أو ابنته ومع من يجلس ويتحدث، وعند وجود أية مشكلة تجد ردة الفعل من قبل الأبناء تجاه أبويهم نتيجة الإهمال الأسري والحرمان العاطفي.
ولاحظ الحناكي أن هذه المشكلة تتكرر في بيوت الأكاديميين والمتعلمين وليس الأسر بسيطة التعليم فقط، مشددا على أن غياب الحوار في المنزل واستقلالية الأبناء أحد أبرز العوامل في ظهور قضايا العقوق، إضافة للطمع المالي فيما يملكه الأب أو الأم من مال.
رقم كبير
وأشار الدكتور علي إلى أن المسؤولية مشتركة في الحد من ازدياد قضايا العقوق بين وسائل الإعلام والجهات التربوية والإرشادية وحتى مراكز الأحياء والعمد والذين يجب أن يكون لهم دور من خلال ملاحظتهم لبعض القضايا في أحيائهم ومحاولة حلها بشكل ودي، معتبرا وصول الرقم إلى 120 قضية في الشهر رقما كبيرا يحتاج إلى مراجعة لمعرفة الأسباب وحلها.
لكن المشرف على كرسي الحسبة وقضايا الشباب في جامعة الملك عبد العزيز الدكتور نوح الشهري، يرى أنه لا يمكن الجزم بأن المشكلة كبيرة إلا من خلال دراسات علمية وبحثية تقارن عدد حوداث العقوق التي تحدث في المملكة بشكل عام مقارنة بعدد السكان وطبيعة القضايا؛ حتى يحكم على المشكلة بأنها ظاهرة أو مجرد حالات شاذة، نافيا أن تكون مشكلة العقوق ظاهرة في المجتمع السعودي، مرجعا إنتشار هذه المشكلة وكثرتها في المحاكم في الآونة الأخيرة إلى الانفتاح الإعلامي والمجتمعي، إضافة لوجود الشبكة العنكبوتية والفضائيات والتي جعلت الأبناء يعيشون في عزلة اجتماعية عن أبويهم وعن المحيط من حولهم، بعيدا عن الأجواء الأسرية المثالية المسكونة بالإحساس، الاهتمام، العطف، الحنان، والمحبة فيحاول الأبناء اللجوء للعلاقات المحرمة والانحراف والمحصلة النهائية هي الخلاف مع الأبوين الذي قد ينتهي بحدوث العقوق.
لكن رئيس اللجنة الاجتماعية والأسرة في مجلس الشورى الدكتور طلال بكري فضل تحميل المسؤولية للانفتاح المجتمعي المبالغ فيه، مشيرا إلى أن المجتمع لم يعد كما كان في السابق واختلطت الأعراف والعادات الاجتماعية السعودية القائمة على تعاليم الدين واحترام الأسرة بالعادات والتقاليد التي جلبتها العمالة الوافدة، مضيفا أن مشاكل الحياة الاقتصادية المعقدة مع قلة الوزاع الديني والأخلاقي دفعت العديد من الأبناء للتمرد على آبائهم، «وحصلت الكثير من قضايا العقوق التي نسمع عنها ونراها على صفحات الصحف»، محملا عدم تحمل المسؤولية من قبل الآباء جزء من المشكلة.
تحميل المسؤولية
واعترف الدكتور بكري بعدم تطرق مجلس الشورى لمناقشة هذه المشكلة رغم ضخامة الرقم الذي أعلنته محكمة جدة الجزئية، قائلا «نناقش العديد من قضايا الشباب، لكن للأمانة فإن تنامي قضايا العقوق لم نتطرق له ولم نناقشه بالشكل المطلوب، لكن ربما يكون أحد المواضيع المناقشة إذ دعت الحاجة لذلك»، واعتبر الدكتور بكري أن المشكلة لم تصل لدرجة الظاهرة، محملا جميع الجهات المعنية مسؤولية تنامي القضايا وكثرتها.
وأمام اعتراف بكري بقصور الشورى في مناقشة القضية وتحمل الجهات مسؤولية تناميها، بدورها أنبرت الجهات بالدفاع عن جهودها في تكريس مفاهيم البر ومحاولة محاصرة المشكلة قبل استفحالها بكل الوسائل المتاحة، فوزارة الشؤون الإسلامية على لسان رئيس لجان تقييم الأئمة والخطباء في فرعها في الرياض الدكتور عزام الشويعر برأ خطباء المساجد من تهمة القصور، مبينا أن خطباء المساجد في المملكة يقومون بدورهم بالتوعية ببر الوالدين والتنبيه من خطورة العقوق، فلا يكاد تمر خطبة في مسجد في المملكة إلا ونجد فيه خطبا تتحدث عن خطورة العقوق مستمدة منهجها من الكتاب والسنة والقصص الواقعية المستمدة من الحياة، والبعد عن القصص الخيالية.
ولفت الشويعر إلى أن الوزارة نبهت على الائمة باستخدام أسلوب النبي صلى الله عليه وسلم، بالترغيب ببر الوالدين والترهيب من عقوقهم، وأشار الشويعر إلى أنه ضمن منهج كل خطيب في خطبهم كل عام التحدث على مواضيع العقيدة والتوحيد أولا ومن ثم بر الوالدين في المقام الثاني، وأكد الشويعر على أن الوزارة تنبه على الخطباء في الدورات التي تعطى لهم بضرورة الحديث عن حقوق الله سبحانه وتعالى، ومن ثم الوالدين وكذلك حق الأبناء على الآباء، «ونعلهم الطريقة المثلى لإيصال الرسالة بشكل بسيط ومحبب ومقبول لدى كل فئات المجتمع».
الدور التربوي
ولم يكن موقف دور وزارة التربية والتعليم إلا مشابها لدور الشؤون الإسلامية بالدفاع عن دورها من خلال مدير عام التوجيه والإرشاد عبد الكريم بن سليمان الجربوع الذي بين أن الوزارة لها دور في الحد من تنامي قضايا العقوق، من خلال نقاط ثلاث؛ المناهج الدراسية التي تتضمن موضوعات عن بر الوالدين واحترامهما وتقديرهما، وتنظيم معظم المواد الدراسية والأنشطة المصاحبة لها في جميع مراحل التعليم، إضافة لوجود القدوة الصالحة في الأسرة والمدرسة والمجتمع.
وبين الجربوع أن دورالتوجيه والإرشاد يتمثل من خلال لجنة التوجيه والإرشاد في المدرسة، إضافة للدور الذي يقوم به المرشد الطلابي وقائيا وإنمائيا في توعية الطلاب نحو البر بوالديهم، وكذلك من خلال البرامج التدريبية الموجهة للطلاب حول تنمية الشخصية وأهمية احترام الوالدين، لما لهما من شأن عظيم وقدر جليل في ظل تعليم وقيم ديننا الإسلامي التي تحث على ذلك وبناء العلاقات الإيجابية مع الآخرين، ومن خلال برامج التوعية الإسلامية والنشاط الطلابي في هذا الجانب بما يعزز التنشئة الدينية والاجتماعية لدى الطلاب.
الدور الإعلامي
واعتبر المتحدث الرسمي باسم وزارة الثقافة والإعلام عبد الرحمن الهزاع أن دور الوزارة ليس كافيا للتقليل من قضايا العقوق وانتشاره في المجتمع، مشيرا إلى أن الوزارة ترصد مثل هذه المشاكل وتلقط الإشارات الدالة على وجود مشكلة ما في المجتمع ومن ثم تحاول أن تعالجها عبر وسائل الإعلام المرئية والمقروءة والمسموعة.
وشدد الهزاع على أن مناقشة مسألة تنامي قضايا الطلاق في المجتمع بحاجة لأن تكون ردة الفعل عليها بحجم المشكلة، وذلك لن يأتي إلا عبر دراسات علمية تعطي مؤشرات هل نحن سائرون في الطريق الصحيح؟.
ولفت الهزاع إلى أن الوزارة تتحمل مسؤولياتها كاملة بتوعية المجتمع بخطورة العقوق والطرق المؤدية له عبر قنواتها التسع وإذاعاتها وجميع الصحف المحلية. ودعا الهزاع جميع الجهات لحل المشكلة، فالقضية تكاملية خصوصا أن الرقم يعتبر عاليا.
الدور الاجتماعي
واعتبر مدير فرع وزارة الشؤون الاجتماعية في منطقة مكة المكرمة عبد الله آل طاوي أن قضايا العقوق التي تأتيهم في فرع الوزارة في مكة قليلة ونادرة ولا تشكل ظاهرة، وغالبا ما تكون عن طريق لجنة إصلاح ذات البين، مبينا أن الوزارة لديها مستشارين وباحثين يقومون بعمل دراسة عن المشكلة ووضع حلول عاجلة لها، وحلها بشكل ودي بعيدا عن إيصالها إلى أروقة المحاكم. ولفت آل طاوي إلى أن الوزارة تعالج الابن العاق بحل السبب الذي جعله يعق أبويه، فإن كان مريضا نفسيا يعاني من ضيق ذات اليد فإنه يلحق بالضمان الاجتماعي ويصرف له، وإذا كان مدمنا فإنه يوجه للعلاج، وإذا كان يعاني من البطالة فإنه يساعد حتى يجد وظيفة ملائمة. وأوضح آل طاوي إلى أن المعنفين من النساء الكبيرات اللاتي يتعرضن لعنف من أبنائهن فإنهن يلحقن بدار الحماية حتى تحل مشاكلهن.
واتفق مدير فرع جمعية حقوق الإنسان في منطقة مكة المكرمة الدكتور حسين الشريف مع رأي آل طاوي بأن قضايا العقوق لا تشكل ظاهرة في المجتمع، مبينا أن دور الجمعية يقتصر على التدخل في حال وجود ظلم من قبل أحد الطرفين بحق الطرف الآخر، مشيرا إلى أن الجمعية تدرس القضية وتتبناها في حال ثبت الظلم لرفعه عن الجهة المظلومة، موضحا وجود حالات ينتهك فيها الآباء حق أبنائهم أو العكس، وقد يحكم القاضي بحكم يخالف الحقيقة، فدورنا حينها التدخل ومحاولة إعطاء كل ذي حق حقه.
وشدد الشريف على أن الجمعية تشدد على منع استخدام الأبوين أو الأبناء حقوقهم في رفع القضايا في المحاكم على بعضهم أو استخدام العنف، مطالبا الشؤون الإسلامية والمدراس ووسائل الإعلام بإيلاء مسألة ارتفاع قضايا العقوق أهمية في حلها، إضافة لتعزيز دور الجهات البحثية.
بحوث علمية
بدوره، اعترف عميد معهد البحوث والدراسات الاستشارية في جامعة أم القرى الدكتور سمير بن حسن قاري بوجود قصور من قبل الجهات الأكاديمية في حل المشاكل الاجتماعية، مشيرا إلى أن مسار البحث العلمي في مجال الدراسات الاجتماعية في المنطقة يتضمن احتمالات وفرص تقدم كبيرة، نظرا لجديته وامتلاكه آليات تصحيح ذاتي سوف تنعكس بشكل إيجابي على مساراته في المستقبل، وإن ما يعزز إمكانات تحققها وجود نماذج رائدة وناجحة كنموذج مركز البحوث والدراسات الاستشارية في جامعة أم القرى.
وأشار قاري إلى أن مسؤولية المجتمع العلمي الأكاديمي تبرز في وضع حقل دراسات ظاهرة العقوق على خارطة البحث العلمي الجاد، ما يؤدي إلى زيادة الوعي بمشاكلها، ويؤدي إلى اتخاذ خطوات عملية نحو إنهاء معاناة الكثير من الأسر المسلمة. واشترط قاري أن يكون البحث العلمي في هذا المجال مستوفيا شروط البحث العلمي والتقييم الموضوعي النقدي للظاهرة، ومنتهيا دائما بنتائج ومقترحات عملية مرتبة وفقا لشروط تحقيقها وإمكانياته ومصاغة بلغة واضحة قابلة للتنفيذ أو للترجمة في سياسات وخطط اجتماعية سديدة واقتراح حلول ناجحة، الأمر الذي يتطلب أولا حوارا متصلا ومتواصلا بين الأكاديميين والمؤسسات الاجتماعية والجهات المعنية لصياغة رؤية مشتركة ووضع برامج بحثية على درجة عالية من الواقعية.
من جانبه، أشار مدير عام إدارة الدراسات والنشر في مركز الملك عبد العزيز للحوار الوطني الدكتور محمد الشويعر أن المركز لاحظ هناك فجوة كبيرة في المجتمع فأطلق مشروع الحوار الأسري، حيث وجد إقبالا كبيرا وحماسا من المجتمع بكافة أطيافه وكان له أثر طيب في ردم الهوة، مما يساهم في تقليل قضايا العقوق.
ولفت الشويعر إلى أنهم في المركز أعدوا دراسة تحت الطبع تحوي أبرز المشاكل الأسرية وغطينا فيها جميع الجوانب، وأوضح الشويعر أن المركز يتعامل مع المشاكل من الجانب الفكري، مشيرا إلى أنهم قد يدرسون قضية ازدياد العقوق في المجتمع إن دعت الحاجة لذلك.
التوصيات
وخلص الباحثون المشاركون في القضية إلى ضرورة دراسة هذه القضايا من قبل الجهات البحثية لوضع الحلول، إضافة لتضافر جهود جميع الجهات المعنية للحد من المشكلة قبل تزايدها، ونشر ثقافة الحوار الأسري في المجتمع، وشددوا على أهمية تعزيز دور المسجد والعلماء والدعاة بالترغيب في البر والترهيب من العقوق، وأكدوا على دور المدرسة والمنهج والأنشطة في تعزيز الانتماء الأسري.
كما شددوا على ضرورة إيجاد حلول لما يعانيه الشباب من بطالة وفراغ ومشاكل حياتية، وتعزيز دور مراكز الأحياء والعمد في احتواء المشاكل الأسرية، وأكدوا على أهمية عمل دورات للمقبلين على الزواج بطرق التعامل مع الأبناء، والتشديد على مسألة تحمل الآباء لمسؤولياتهم تجاه أبنائهم وأداء حقوقهم، والإكثار من الأناشيد والكليبات والأفلام والبرامج في وسائل الإعلام التي تدعو لبر الوالدين وتحذر من العقوق.
Thursday, November 18, 2010
الوقت عمرك
Home Kajian Gaya Hidup Muslim
Waktumu adalah Umurmu!
Monday, 18 October 2010 09:12
Tanda orang yang merugi adalah banyak berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Banyak berbasa-basi, bercanda, dan banyak bicara
Dari Ibnu 'Abbas ra, Rasulullah bersabda:
الْفَرَاغُ والصِّحَّةُ:النَّاسِ مِنَ كَثِيْرٌ فِيْهِمَا مَغْبُوْنٌ نِعْمَتَانِ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhori). (HR. Bukhori no.6412, At-Tirmidzi no.2304, Ibnu Majah no.4170, Ahmad no. I/258-344), Ad-Darimi no.II/297, Al-Hakim no.IV/306)
Waktu adalah ukuran zaman. Hari-hari yang kita lewati adalah umur kita. Apabila ia berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita. Waktu adalah karunia terbesar dan paling berharga bagi manusia. Waktu menjadi rahasia berbagai prestasi cemerlang bagi seseorang ketika mampu menatanya dengan seksama.
Mumpung seseorang masih punya kesempatan waktu muda, maka seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Masa muda sebagai waktu emas, saat masih memiliki kekuatan semangat, pikiran masih jernih, kesibukan masih sedikit, dan tekat yang kuat. Sebaliknya pada usia tua, jasad semakin lemah, beban semakin berat, penyakit sering mampir, dan kekuatan pun kian berkurang.
Semua bentuk tindakan, kesungguhan, kekuatan, kemuliaan, kenikmatan, dan pencapaian tujuan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika badan sehat dan adanya waktu luang. Kewajiban yang seharusnya kita tunaikan teramat banyak, sementara waktu terluang sangat terbatas. Dengan waktu pula, betapa banyak lahan yang bisa diolah, berapa banyak perusahaan yang bisa didirikan, berapa ribu orang yang bisa dibantu dan yayasan yang bisa dikembangkan. Namun betapa banyak pula yang sudah puas dengan sedikit kualitas, sudah bangga dengan amal yang belum ada apa-apanya.
Tidaklah Allah bersumpah dalam al-Quran dengan meggunakan kata waktu, wal-‘ashri, wad-dhuha, wal-laili, bis-syafaqi, wal-fajri, dan sebagainya, kecuali semuanya mengisyaratkan tentang betapa pentingnya waktu. Dimaksudkan agar manusia disiplin penuh perhatian terhadap masa hidupnya.
Waktu yang Allah berikan kepada kita lebih berharga daripada emas karena ia adalah kehidupan itu sendiri. Seorang Muslim tidak pantas menyia-nyiakan waktu luangnya untuk hanya bercanda, bergurau, main-main, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena ia tidak akan pernah mampu mengganti waktunya yang telah berlalu. Siapa yang mengabaikan waktunya, maka semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana kerugian orang sakit, dia merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.
Seorang Muslim yang pada dirinya terkumpul dua nikmat ini, yakni kesehatan badan dan waktu luang, maka hendaknya menunaikan hak keduanya untuk melakukan ketaatan dan meraih kedekatan kepada-Nya. Tapi jika menyia-nyiakannya maka sebenarnya ia adalah manusia yang tertipu. Sebab, kesehatan akan digantikan dengan sakit dan waktu luang akan digantikan dengan kesibukan. Sebagaimana seorang pedagang yang memiliki modal, yaitu kesehatan dan waktu luang, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan modalnya yang ada padanya selain ketaatan kepada Allah.
Seseorang yang memiliki badan yang sehat tanpa menggunakannya untuk tindakan yang berguna dan tidak pula berbuat untuk akhiratnya adalah orang yang merugi. Dalam kenyataan memang kebanyakan manusia tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang. Mereka malah membuang usia dan mempermainkan umur. Kadang-kadang manusia juga tidak memiliki waktu luang. Waktunya habis hanya untuk mencari makan dan kebutuhan periuk nasi. Sebaliknya terkadang memiliki waktu luang namun badannya sakit, jiwanya juga sakit, malas, loyo, tidak bergairah yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan.
Seorang Muslim hendaknya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia tidak boleh menunda-nunda kesempatan melakukan amal kebaikan.
Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar pernah berkata; "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al-Bukhariy no.6416)
Ibnu Qoyyim berkata: ”Ada 4 hal yang dapat merusak hati, yaitu berlebihan dalam berbicara, berlebihan makan, berlebihan tidur, dan berlebihan dalam bergaul.” (Al-fawaid hal 262).
Beliau juga berkata: ”Pintu taufiq tertutup bagi seseorang karena melakukan 6 perkara, yaitu (1) meninggalkan syukur kepada Allah dengan menggunakan karunia bukan pada jalan-Nya, (2) gemar terhadap ilmu namun tidak mau mengamalkannya, (3) menunda-nunda taubat, (4) berteman dengan orang sholih tapi tidak mau meneladani mereka, (5) mengejar-ngejar dunia padahal dunia akan meninggalkannya, (6) berpaling dari akhirat padahal akhirat akan mendatanginya.” (Al-Fawaid)
Ucapan Salaful ummah tentang waktu
Muhammad bin Abdul Baqi’ (535 H) mengatakan: ”Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktu yang pernah berlalu dari umurku untuk main-main dan berbuat sia-sia.” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/26)
Imam Hasan Al-bashri mengatakan: “Wahai anak cucu Adam, dirimu sebenarnya adalah hari-harimu yang kau alami, jika harimu berlalu maka berkuranglah sebagian hidupmu, sungguh aku pernah bertemu dengan suatu kaum, mereka lebih mengutamakan, mencintai dan menghargai waktu melebihi dari apa yang kau lakukan terhadap dinar dan dirham.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Aku tidak pernah menyesal atas hari yang berlalu, kecuali ketika matahari terbenam dan usiaku berkurang, tetapi ilmuku tidak bertambah di hari itu.”
Al-Kholil bin Ahmad (160H) mengatakan; “Waktu itu ada tiga bagian, waktu yang sudah berlalu darimu dan tak akan kembali, waktu sekarang yang sedang kau alami dan ia juga akan berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu yang bisa jadi engkau tidak bakal mendapatkannya.” (Thobaqotul hanaabilah hal.35-36)
Kisah Dawud bin Abi Hindun (139 H) adalah di antara contoh yang mengagumkan. Beliau berkata: “Ketika kecil aku berkeliling pasar. Ketika pulang kuusahakan diriku untuk selalu berdzikir kepada Allah ta’ala hingga tempat tertentu. Jika telah sampai kuusahakan lagi dariku untuk berdzikir kepada Allah hingga tempat selanjutnya…hingga sampai di rumah. Tujuannya agar kugunakan waktu dalam umurku.” (Siyar A’lamin Nubala’ VI/378)
Ibnu Rojab Al-hambali berkata: “Seorang pelajar hendaknya seorang yang cepat dalam berjalan, menulis, membaca ketika makan.” (Thobaqot Al-hanabilah). Terbiasa cepat dalam berjalan maka akan sehat di waktu tuanya, cepat membaca maka akan menghemat waktu belajarnya, sekaligus lebih banyak mendapatkan ilmu.
Contoh Salaful ummah menggunakan waktu
Di dalam perjalanan para ulama’ terdahulu terdapat banyak contoh yang mencengangkan bagaimana mereka menggunakan umurnya yang mampu mendorong kita agar benar-benar menjaga detik-detik ini. Para pendahulu kita dengan keterbatasan dana, teknologi, tidak ada listrik, printer, dan sejenisnya, namun amal mereka tak mampu ditandingi oleh manusia sekarang. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk berjuang di jalan Allah, menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, melakukan amalan sunnah, berdzikir, bertasbih, beristighfar, mengajar, dan amal-amal ketaatan lainnya.
Abu Bakar Al-Baqilani pernah tidak tidur sebelum menulis sebanyak 35 halaman dari hafalannya. Abu Nashr Al-Farabi tinggal di Damaskus dekat taman dan kolam air. Di sinilah beliau pergunakan untuk menulis kitab-kitabnya. Imam Abu Yusuf sahabat Imam Abu hanifah menjelang detik-detik kematiannya masih sempat membahas masalah fiqh.
Seorang murid dari Al Alusi Al-hafidh, Bahjah Al-Atsari berkata: “Saya teringat bahwa saya tidak datang belajar pada suatu hari karena hujan dan angin kencang. Kami kira Al-Alusi tidak datang mengajar. Keesokan harinya beliau berkata: “Tidak ada kebaikan bagi orang yang terpengaruh oleh panas dan hujan untuk tidak belajar”.
Di antara sikap yang menakjubkan dalam menghargai waktu adalah Ibnu Taimiyah (590 H). Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu tanpa mengajar, menulis, dan ibadah lainnya. Pada waktu masuk kamar kecil pun beliau meminta seseorang untuk membacakan kitab kepadanya dari luar.
Ibnu Rojab berkata: “Hal ini menunjukkan betapa kuat dan tingginya kecintaan beliau untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu”. Murid beliau, Ibnu Qoyyim menyebutkan bahwa beliau di saat sakitpun masih sempat membaca dan menelaah ilmu. (Roudhotut Tholibin)
Daud At-Tho’i diriwayatkan membaca lima puluh ayat ketika makan roti. Seorang bijak mengatakan; “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan memotongmu. Bila engkau tidak menggunakan waktu yang ada, maka engkau akan celaka layaknya seseorang yang terkena sabetan pedang. Jika kamu tidak menggunakannya dalam kebaikan maka engkau akan dirusak di dalamnya.” (Bahjatus-nufus, Ibnu Abi Jamroh 3/96).
Sarri As-Saqoti ketika didatangi dan dikerumuni oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan dan hanya berbasa-basi saja, maka dikatakan mereka: “Anda telah dikerumuni oleh orang-orang yang tidak punya tindakan, jika orang yang didatangi lemah maka mereka akan duduk berlama-lama dan akibatnya kerugian waktupun tak terhindarkan. Padahal kalian punya kewajiban-kewajiban yang banyak”.
Imam Amir bin Qois kedatangan seseorang dan mengajaknya untuk duduk-duduk saja, maka dikatakan kepadanya: “Saya akan berbicara denganmu namun tolonglah hentikan matahari terlebih dahulu”
Umur yang sia-sia
Banyak waktu terbuang dengan sia-sia. Ini adalah tanda utama orang-orang yang dianggap merugi. Hilangnya waktu, juga menyebabkan hilangnya umur secara sia-siapa. Beberapa hal di antara kesia-siaan itu adalah banyak berkunjung dan berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Duduk-duduk hanya untuk berbasa-basi, berlebih-lebihan dalam bergaul, banyak bercanda dan tertawa, banyak jalan-jalan, banyak bicara lebih dari keperluan, minum kopi 1 gelas sampai berjam-jam, meng-ghibah dan bersantai-santai membuang usia sehingga terlepaslah darinya manfaat yang banyak.
Di antara menyia-nyiakan umur pula adalah sibuk dengan sesuatu yang tidak penting. Berasyik-ria dengan kegiatan yang remeh temeh. Seperti main catur, domino, menonton TV, baca desas-desus berita koran, nonton berita ghibah, SMS atau bicara di HP dengan sesuatu yang tidak penting. Sehingga banyak ketinggalan ilmu yang seharusnya ia miliki.
Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap ilmu?” Beliau menjawab: “Ibarat seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya dan ia tidak memiliki anak kecuali anak tersebut.” (Adabus-Syafi’I wanaqibuh, Ar-Rozi, dinukil dari Ma’aalim fit-thoriqi thlabil ‘ilmi hal.41).
Bandingkanlah pemandangan antara Imam Syafi’I yang haus ilmu dengan orang-orang sekarang. Di kantor ia banyak ngobrol, meski banyak orang sedang membutuhkannya. Di rumah ia hanya nonton TV padahal banyak waktu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Bahkan nongkrong malam hari hanya untuk mengejak kesia-siaan.
Waktu lewat begitu saja dengan kelebihan jam tidur, banyak makan, banyak berleha-leha dan santai. Sehingga yang timbul justru panjang angan-angan, menunda-nunda pekerjaan, menunda taubat. Terutama antara adzan dan iqomah tidak digunakan untuk berdo’a, atau berdzikir, membaca al-Qur’an, mengulang hafalan, muhasabah, muroja’ah dan sebagainya.
Dalam kenyataan, kita saksikan manusia menggunakan umurnya dengan sesuatu yang aneh, membaca buku yang sama sekali tidak berguna, menyaksikan hiburan yang sungguh sia-sia, lawakan, berlama-lama istirahat, berhura-hura ke tempat keramaian dan sebagainya. Lebih aneh lagi kita sendiri menganggap aneh melihat seseorang yang mempersiapkan amal untuk perjalannya yang panjang, berpacu dengan cepatnya putaran waktu.
Imam Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaknya seseorang membagi waktu malam dan siangnya, memanfaatkan sisa umur karena umur yang tersisa tidak ada bandingannya.”
Akhirul kalam, biasakanlah bertanya pada diri sendiri. Apa yang telah kita lakukan di waktu-waktu sehat dan luang kita? Apakah digunakan untuk tujuan kesehatan, kemanfaatan ilmu, untuk ibadah, atau hanya terbuang secara percuma?
Jika hanya kesia-siaan belakan, sepatutnya kita memohon kepada Allah agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengisi usia ini sebagus-bagusnya. Amiin. [Abu Hasan Husain/hidayatullah.com]
Waktumu adalah Umurmu!
Monday, 18 October 2010 09:12
Tanda orang yang merugi adalah banyak berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Banyak berbasa-basi, bercanda, dan banyak bicara
Dari Ibnu 'Abbas ra, Rasulullah bersabda:
الْفَرَاغُ والصِّحَّةُ:النَّاسِ مِنَ كَثِيْرٌ فِيْهِمَا مَغْبُوْنٌ نِعْمَتَانِ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhori). (HR. Bukhori no.6412, At-Tirmidzi no.2304, Ibnu Majah no.4170, Ahmad no. I/258-344), Ad-Darimi no.II/297, Al-Hakim no.IV/306)
Waktu adalah ukuran zaman. Hari-hari yang kita lewati adalah umur kita. Apabila ia berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita. Waktu adalah karunia terbesar dan paling berharga bagi manusia. Waktu menjadi rahasia berbagai prestasi cemerlang bagi seseorang ketika mampu menatanya dengan seksama.
Mumpung seseorang masih punya kesempatan waktu muda, maka seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Masa muda sebagai waktu emas, saat masih memiliki kekuatan semangat, pikiran masih jernih, kesibukan masih sedikit, dan tekat yang kuat. Sebaliknya pada usia tua, jasad semakin lemah, beban semakin berat, penyakit sering mampir, dan kekuatan pun kian berkurang.
Semua bentuk tindakan, kesungguhan, kekuatan, kemuliaan, kenikmatan, dan pencapaian tujuan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika badan sehat dan adanya waktu luang. Kewajiban yang seharusnya kita tunaikan teramat banyak, sementara waktu terluang sangat terbatas. Dengan waktu pula, betapa banyak lahan yang bisa diolah, berapa banyak perusahaan yang bisa didirikan, berapa ribu orang yang bisa dibantu dan yayasan yang bisa dikembangkan. Namun betapa banyak pula yang sudah puas dengan sedikit kualitas, sudah bangga dengan amal yang belum ada apa-apanya.
Tidaklah Allah bersumpah dalam al-Quran dengan meggunakan kata waktu, wal-‘ashri, wad-dhuha, wal-laili, bis-syafaqi, wal-fajri, dan sebagainya, kecuali semuanya mengisyaratkan tentang betapa pentingnya waktu. Dimaksudkan agar manusia disiplin penuh perhatian terhadap masa hidupnya.
Waktu yang Allah berikan kepada kita lebih berharga daripada emas karena ia adalah kehidupan itu sendiri. Seorang Muslim tidak pantas menyia-nyiakan waktu luangnya untuk hanya bercanda, bergurau, main-main, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena ia tidak akan pernah mampu mengganti waktunya yang telah berlalu. Siapa yang mengabaikan waktunya, maka semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana kerugian orang sakit, dia merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.
Seorang Muslim yang pada dirinya terkumpul dua nikmat ini, yakni kesehatan badan dan waktu luang, maka hendaknya menunaikan hak keduanya untuk melakukan ketaatan dan meraih kedekatan kepada-Nya. Tapi jika menyia-nyiakannya maka sebenarnya ia adalah manusia yang tertipu. Sebab, kesehatan akan digantikan dengan sakit dan waktu luang akan digantikan dengan kesibukan. Sebagaimana seorang pedagang yang memiliki modal, yaitu kesehatan dan waktu luang, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan modalnya yang ada padanya selain ketaatan kepada Allah.
Seseorang yang memiliki badan yang sehat tanpa menggunakannya untuk tindakan yang berguna dan tidak pula berbuat untuk akhiratnya adalah orang yang merugi. Dalam kenyataan memang kebanyakan manusia tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang. Mereka malah membuang usia dan mempermainkan umur. Kadang-kadang manusia juga tidak memiliki waktu luang. Waktunya habis hanya untuk mencari makan dan kebutuhan periuk nasi. Sebaliknya terkadang memiliki waktu luang namun badannya sakit, jiwanya juga sakit, malas, loyo, tidak bergairah yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan.
Seorang Muslim hendaknya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia tidak boleh menunda-nunda kesempatan melakukan amal kebaikan.
Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar pernah berkata; "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al-Bukhariy no.6416)
Ibnu Qoyyim berkata: ”Ada 4 hal yang dapat merusak hati, yaitu berlebihan dalam berbicara, berlebihan makan, berlebihan tidur, dan berlebihan dalam bergaul.” (Al-fawaid hal 262).
Beliau juga berkata: ”Pintu taufiq tertutup bagi seseorang karena melakukan 6 perkara, yaitu (1) meninggalkan syukur kepada Allah dengan menggunakan karunia bukan pada jalan-Nya, (2) gemar terhadap ilmu namun tidak mau mengamalkannya, (3) menunda-nunda taubat, (4) berteman dengan orang sholih tapi tidak mau meneladani mereka, (5) mengejar-ngejar dunia padahal dunia akan meninggalkannya, (6) berpaling dari akhirat padahal akhirat akan mendatanginya.” (Al-Fawaid)
Ucapan Salaful ummah tentang waktu
Muhammad bin Abdul Baqi’ (535 H) mengatakan: ”Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktu yang pernah berlalu dari umurku untuk main-main dan berbuat sia-sia.” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/26)
Imam Hasan Al-bashri mengatakan: “Wahai anak cucu Adam, dirimu sebenarnya adalah hari-harimu yang kau alami, jika harimu berlalu maka berkuranglah sebagian hidupmu, sungguh aku pernah bertemu dengan suatu kaum, mereka lebih mengutamakan, mencintai dan menghargai waktu melebihi dari apa yang kau lakukan terhadap dinar dan dirham.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Aku tidak pernah menyesal atas hari yang berlalu, kecuali ketika matahari terbenam dan usiaku berkurang, tetapi ilmuku tidak bertambah di hari itu.”
Al-Kholil bin Ahmad (160H) mengatakan; “Waktu itu ada tiga bagian, waktu yang sudah berlalu darimu dan tak akan kembali, waktu sekarang yang sedang kau alami dan ia juga akan berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu yang bisa jadi engkau tidak bakal mendapatkannya.” (Thobaqotul hanaabilah hal.35-36)
Kisah Dawud bin Abi Hindun (139 H) adalah di antara contoh yang mengagumkan. Beliau berkata: “Ketika kecil aku berkeliling pasar. Ketika pulang kuusahakan diriku untuk selalu berdzikir kepada Allah ta’ala hingga tempat tertentu. Jika telah sampai kuusahakan lagi dariku untuk berdzikir kepada Allah hingga tempat selanjutnya…hingga sampai di rumah. Tujuannya agar kugunakan waktu dalam umurku.” (Siyar A’lamin Nubala’ VI/378)
Ibnu Rojab Al-hambali berkata: “Seorang pelajar hendaknya seorang yang cepat dalam berjalan, menulis, membaca ketika makan.” (Thobaqot Al-hanabilah). Terbiasa cepat dalam berjalan maka akan sehat di waktu tuanya, cepat membaca maka akan menghemat waktu belajarnya, sekaligus lebih banyak mendapatkan ilmu.
Contoh Salaful ummah menggunakan waktu
Di dalam perjalanan para ulama’ terdahulu terdapat banyak contoh yang mencengangkan bagaimana mereka menggunakan umurnya yang mampu mendorong kita agar benar-benar menjaga detik-detik ini. Para pendahulu kita dengan keterbatasan dana, teknologi, tidak ada listrik, printer, dan sejenisnya, namun amal mereka tak mampu ditandingi oleh manusia sekarang. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk berjuang di jalan Allah, menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, melakukan amalan sunnah, berdzikir, bertasbih, beristighfar, mengajar, dan amal-amal ketaatan lainnya.
Abu Bakar Al-Baqilani pernah tidak tidur sebelum menulis sebanyak 35 halaman dari hafalannya. Abu Nashr Al-Farabi tinggal di Damaskus dekat taman dan kolam air. Di sinilah beliau pergunakan untuk menulis kitab-kitabnya. Imam Abu Yusuf sahabat Imam Abu hanifah menjelang detik-detik kematiannya masih sempat membahas masalah fiqh.
Seorang murid dari Al Alusi Al-hafidh, Bahjah Al-Atsari berkata: “Saya teringat bahwa saya tidak datang belajar pada suatu hari karena hujan dan angin kencang. Kami kira Al-Alusi tidak datang mengajar. Keesokan harinya beliau berkata: “Tidak ada kebaikan bagi orang yang terpengaruh oleh panas dan hujan untuk tidak belajar”.
Di antara sikap yang menakjubkan dalam menghargai waktu adalah Ibnu Taimiyah (590 H). Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu tanpa mengajar, menulis, dan ibadah lainnya. Pada waktu masuk kamar kecil pun beliau meminta seseorang untuk membacakan kitab kepadanya dari luar.
Ibnu Rojab berkata: “Hal ini menunjukkan betapa kuat dan tingginya kecintaan beliau untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu”. Murid beliau, Ibnu Qoyyim menyebutkan bahwa beliau di saat sakitpun masih sempat membaca dan menelaah ilmu. (Roudhotut Tholibin)
Daud At-Tho’i diriwayatkan membaca lima puluh ayat ketika makan roti. Seorang bijak mengatakan; “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan memotongmu. Bila engkau tidak menggunakan waktu yang ada, maka engkau akan celaka layaknya seseorang yang terkena sabetan pedang. Jika kamu tidak menggunakannya dalam kebaikan maka engkau akan dirusak di dalamnya.” (Bahjatus-nufus, Ibnu Abi Jamroh 3/96).
Sarri As-Saqoti ketika didatangi dan dikerumuni oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan dan hanya berbasa-basi saja, maka dikatakan mereka: “Anda telah dikerumuni oleh orang-orang yang tidak punya tindakan, jika orang yang didatangi lemah maka mereka akan duduk berlama-lama dan akibatnya kerugian waktupun tak terhindarkan. Padahal kalian punya kewajiban-kewajiban yang banyak”.
Imam Amir bin Qois kedatangan seseorang dan mengajaknya untuk duduk-duduk saja, maka dikatakan kepadanya: “Saya akan berbicara denganmu namun tolonglah hentikan matahari terlebih dahulu”
Umur yang sia-sia
Banyak waktu terbuang dengan sia-sia. Ini adalah tanda utama orang-orang yang dianggap merugi. Hilangnya waktu, juga menyebabkan hilangnya umur secara sia-siapa. Beberapa hal di antara kesia-siaan itu adalah banyak berkunjung dan berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Duduk-duduk hanya untuk berbasa-basi, berlebih-lebihan dalam bergaul, banyak bercanda dan tertawa, banyak jalan-jalan, banyak bicara lebih dari keperluan, minum kopi 1 gelas sampai berjam-jam, meng-ghibah dan bersantai-santai membuang usia sehingga terlepaslah darinya manfaat yang banyak.
Di antara menyia-nyiakan umur pula adalah sibuk dengan sesuatu yang tidak penting. Berasyik-ria dengan kegiatan yang remeh temeh. Seperti main catur, domino, menonton TV, baca desas-desus berita koran, nonton berita ghibah, SMS atau bicara di HP dengan sesuatu yang tidak penting. Sehingga banyak ketinggalan ilmu yang seharusnya ia miliki.
Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap ilmu?” Beliau menjawab: “Ibarat seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya dan ia tidak memiliki anak kecuali anak tersebut.” (Adabus-Syafi’I wanaqibuh, Ar-Rozi, dinukil dari Ma’aalim fit-thoriqi thlabil ‘ilmi hal.41).
Bandingkanlah pemandangan antara Imam Syafi’I yang haus ilmu dengan orang-orang sekarang. Di kantor ia banyak ngobrol, meski banyak orang sedang membutuhkannya. Di rumah ia hanya nonton TV padahal banyak waktu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Bahkan nongkrong malam hari hanya untuk mengejak kesia-siaan.
Waktu lewat begitu saja dengan kelebihan jam tidur, banyak makan, banyak berleha-leha dan santai. Sehingga yang timbul justru panjang angan-angan, menunda-nunda pekerjaan, menunda taubat. Terutama antara adzan dan iqomah tidak digunakan untuk berdo’a, atau berdzikir, membaca al-Qur’an, mengulang hafalan, muhasabah, muroja’ah dan sebagainya.
Dalam kenyataan, kita saksikan manusia menggunakan umurnya dengan sesuatu yang aneh, membaca buku yang sama sekali tidak berguna, menyaksikan hiburan yang sungguh sia-sia, lawakan, berlama-lama istirahat, berhura-hura ke tempat keramaian dan sebagainya. Lebih aneh lagi kita sendiri menganggap aneh melihat seseorang yang mempersiapkan amal untuk perjalannya yang panjang, berpacu dengan cepatnya putaran waktu.
Imam Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaknya seseorang membagi waktu malam dan siangnya, memanfaatkan sisa umur karena umur yang tersisa tidak ada bandingannya.”
Akhirul kalam, biasakanlah bertanya pada diri sendiri. Apa yang telah kita lakukan di waktu-waktu sehat dan luang kita? Apakah digunakan untuk tujuan kesehatan, kemanfaatan ilmu, untuk ibadah, atau hanya terbuang secara percuma?
Jika hanya kesia-siaan belakan, sepatutnya kita memohon kepada Allah agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengisi usia ini sebagus-bagusnya. Amiin. [Abu Hasan Husain/hidayatullah.com]
أبواب المعصية سبعة
Tujuh CARA Tinggalkan Maksiat
Thursday, 28 October 2010 11:01
Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat
“Tiada hari tanpa maksiat”, kata ini mungkin lebih tepat untuk suasana hidup di zaman ini. Di kantor, di kampus, di jalan, bahkan di rumah sendiri, fasilitas maksiat tersedia.
Di kantor, godaan maksiat ada di mana-mana. Teman, orang luar, bahkan diri sendiri. Jika tidak karena iman, bukan mustahil akan mudah bermaksiat di hadapan Allah baik dengan terang-terangan atau tersembunyi. Kesempatan terbuka luas. Jadi kasis kita bisa memanipulasi uang, jadi pemasaran kita bisa memanipulasi dan korupsi waktu.
Televisi kita 24 jam menyediakan tontonan penuh fitnah dan umbar aurat. Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat.
Memang, meninggalkan maksiat adalah pekerjaan yang tidak ringan. Ia lebih berat daripada mengerjakan taat (menjalankan yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya), karena mengerjakan taat disukai oleh setiap orang, tetapi meninggalkan syahwat (maksiat) hanya dapat dilaksanakan oleh para siddiqin (orang-orang yang benar, orang-orang yang terbimbing hatinya).
Terkait dengan hal tersebut Rasulullah Sallallahu aalaihi wa sallam. bersabda: "Orang yang berhijrah dengan sebenarnya ialah orang yang berhijrah dari kejahatan. Dan mujahid yang sebenarnya ialah orang yang memerangi hawa nafsunya."
Apabila seseorang menjalankan sesuatu tindak maksiat, maka sebenarnya ia melakukan maksiat itu dengan menggunakan anggota badannya. Orang yang seperti ini sejatinya telah menyalahgunakan nikmat anggota tubuh yang telah dianugerahkan Allah pada dirinya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan, ia telah berkhianat atas amanah yang telah diberikan kepadanya.
Setiap kita berkuasa penuh atas anggota tubuh kita, pikiran dan jiwa kita. Akan tetapi, terkadang, kita begitu susah menggendalikan apa yang menjadi ‘milik kita’ itu. Tangan, mata, kaki dan anggota tubuh yang lain, kerap bergerak diluar kendali diri, yang tak jarang bertentangan dengan idealisme atau nilai-nilai keyakinan yang kita anut dan kita yakini. Padahal, rekuk relung kalbu kita bersaksi bahwa semua anggota tubuh itu, kelak akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di Padang Mahsyar.
Firman Allah SWT : "Pada hari ini (Kiamat) Kami tutup mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan (di dunia dahulu)." (Yassin: 65).
Bagaimana agar kita selamat dari maksiat?
Di bawah ini beberapa ikhtiar, yang bila dijalankan secara sungguh-sungguh, insya Allah membawa faedah.
1. Menjaga Mata
Peliharalah mata dari menyaksikan pemandangan yang diharamkan oleh Allah SWT seperti melihat perempuan yang bukan mahram. Hindari, atau minimal kurangi-- untuk pelan-pelan tinggalkan sejauh-jauhnya-- melihat gambar-gambar yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Termasuk menjaga mata, janganlah memandang orang lain dengan pandangan yang rendah(sebelah mata/menghina) dan melihat keaiban orang lain.
2. Menjaga Telinga
Menjaga telinga dari mendengar perkataan yang tidak berguna seperti: ungkapan-ungkapan mesum/kotor/jahat. Poin kesatu dan kedua ini menjadi tidak mudah di saat di mana gosip telah menjadi komuditas ekonomi. Gosip telah menjadi kejahatan berjamaah yang dianggap hal yang lumrah dilakukan, dan wajib ditonton dan disimak. Kehadirannya disokong dana yang tidak sedikit, dimanajeri, ada penulis skenarionya, ada kepala produksinya, ada reporternya dan seterusnya.
Rasulullah S.A.W. bersabda : "Sesungguhnya orang yang mendengar (seseorang yang mengumpat orang lain) adalah bersekutu (di dalam dosa)dengan orang yang berkata itu. Dan dia juga dikira salah seorang daripada dua orang yang mengumpat."
Oleh karenanya, menjaga mata-telinga adalah pekerjaan yang memerlukan energi dan kesungguhan yang kuat dan gigih.
3.Menjaga Lidah
Lidah adalah anggota tubuh tanpa tulang yang kerap mengantarkan pada perkara-perkara besar. Kehancuran rumah tangga, pertengkaran sahabat karib, hingga peperangan antar negara, dapat dipicu dari sepotong daging kecil di celah mulut kita ini.
Rasulullah Saw. bersabda : “Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya.” (Riwayat Athabrani dan Al Baihaqi)
Jagalah lidah dari perkara-perkara seperti berbohong, ingkar janji, mengumpat, bertengkar / berdebat / membantah perkataan orang lain, memuji diri sendiri, melaknat(mncela) makhluk Allah, mendoakan celaka bagi orang lain dan bergurau( yang mengandung memperolok atau mengejek) orang lain.
4. Menjaga Perut
Yang hendaknya selalu di ingat: perut kita bukan tong sampah! Input yang masuk ke dalam perut akan berpengaruh langsung/tidak langsung terhadap tingkah laku/sikap/tindakan kita. Karenanya, peliharalah perut dari makanan yang haram atau yang syubahat. Sekalipun halal, hindari memakannya secara berlebihan. Sebab hal itu akan menumpulkan pikiran dan hati nurani. Obesitas (kelebihan berat badan) adalah penyakit modern sebagai akibat lain dari tidak terkontrolnya urusan perut.
5. Menjaga Kemaluan
Kendalikan sekuat daya dorongan melakukan apa-apa yang diharam kan oleh Allah SWT. Firman Allah-Nya:"Dan mereka yang selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau apa-apa yang mereka miliki (daripada hamba jariah) maka mereka tidak tercela." (Al Mukminun: 5-6)
6.Menjaga Dua Tangan
Kendalikan kedua tangan dari melukai seseorang (kecuali dengan cara hak seperti berperang, atau melakukan balasan yang setimpal). Katakan “stop”, pada tangan, ketika akan bertindak sesuatu yang diharamkan, atau menyakiti makhluk Allah, atau menulis sesuatu yang diharamkan atau menyakiti perasaan orang lain.
7.Menjaga Dua Kaki
Memelihara kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan atau berjalan menuju kelompok orang atau penguasa yang zalim tanpa ada alasan darurat karena sikap dan tindakan itu dianggap menghormati kezaliman mereka, sedangkan Allah menyuruh kita berpaling dari orang yang zalim.
Firman Allah SWT. : "Dan jangan kamu cenderung hati kepada orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh oleh api neraka." (Hud: 113)
Pintu-pintu bagi masuknya maksiat terbuka lebar pada ketujuh anggota tubuh di atas. Pun kunci-kuncinya ada dalam genggaman tangan kita untuk membendungnya. Jadi, semua kembali kepada manusianya. Tentu hamba Allah yang cerdik, adalah mereka yang mempergunakan amanah tubuh untuk senantiasa berjalan di atas rel keridhaan-Nya.
Akhirul kalam, ada sebuah hadits Nabi mengatakan, “Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya.” (Riwayat Abu Ya’li). Nah, bagaimana dengan kita? [Ali Athwa/hidayatullah.com]
Thursday, 28 October 2010 11:01
Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat
“Tiada hari tanpa maksiat”, kata ini mungkin lebih tepat untuk suasana hidup di zaman ini. Di kantor, di kampus, di jalan, bahkan di rumah sendiri, fasilitas maksiat tersedia.
Di kantor, godaan maksiat ada di mana-mana. Teman, orang luar, bahkan diri sendiri. Jika tidak karena iman, bukan mustahil akan mudah bermaksiat di hadapan Allah baik dengan terang-terangan atau tersembunyi. Kesempatan terbuka luas. Jadi kasis kita bisa memanipulasi uang, jadi pemasaran kita bisa memanipulasi dan korupsi waktu.
Televisi kita 24 jam menyediakan tontonan penuh fitnah dan umbar aurat. Bahkan di saat istirahat dan di tempat yang kita anggap aman dari gangguan mata, masih saja ada kesempatan bermaksiat.
Memang, meninggalkan maksiat adalah pekerjaan yang tidak ringan. Ia lebih berat daripada mengerjakan taat (menjalankan yang diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya), karena mengerjakan taat disukai oleh setiap orang, tetapi meninggalkan syahwat (maksiat) hanya dapat dilaksanakan oleh para siddiqin (orang-orang yang benar, orang-orang yang terbimbing hatinya).
Terkait dengan hal tersebut Rasulullah Sallallahu aalaihi wa sallam. bersabda: "Orang yang berhijrah dengan sebenarnya ialah orang yang berhijrah dari kejahatan. Dan mujahid yang sebenarnya ialah orang yang memerangi hawa nafsunya."
Apabila seseorang menjalankan sesuatu tindak maksiat, maka sebenarnya ia melakukan maksiat itu dengan menggunakan anggota badannya. Orang yang seperti ini sejatinya telah menyalahgunakan nikmat anggota tubuh yang telah dianugerahkan Allah pada dirinya. Dalam bahasa lain dapat dikatakan, ia telah berkhianat atas amanah yang telah diberikan kepadanya.
Setiap kita berkuasa penuh atas anggota tubuh kita, pikiran dan jiwa kita. Akan tetapi, terkadang, kita begitu susah menggendalikan apa yang menjadi ‘milik kita’ itu. Tangan, mata, kaki dan anggota tubuh yang lain, kerap bergerak diluar kendali diri, yang tak jarang bertentangan dengan idealisme atau nilai-nilai keyakinan yang kita anut dan kita yakini. Padahal, rekuk relung kalbu kita bersaksi bahwa semua anggota tubuh itu, kelak akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di Padang Mahsyar.
Firman Allah SWT : "Pada hari ini (Kiamat) Kami tutup mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan (di dunia dahulu)." (Yassin: 65).
Bagaimana agar kita selamat dari maksiat?
Di bawah ini beberapa ikhtiar, yang bila dijalankan secara sungguh-sungguh, insya Allah membawa faedah.
1. Menjaga Mata
Peliharalah mata dari menyaksikan pemandangan yang diharamkan oleh Allah SWT seperti melihat perempuan yang bukan mahram. Hindari, atau minimal kurangi-- untuk pelan-pelan tinggalkan sejauh-jauhnya-- melihat gambar-gambar yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Termasuk menjaga mata, janganlah memandang orang lain dengan pandangan yang rendah(sebelah mata/menghina) dan melihat keaiban orang lain.
2. Menjaga Telinga
Menjaga telinga dari mendengar perkataan yang tidak berguna seperti: ungkapan-ungkapan mesum/kotor/jahat. Poin kesatu dan kedua ini menjadi tidak mudah di saat di mana gosip telah menjadi komuditas ekonomi. Gosip telah menjadi kejahatan berjamaah yang dianggap hal yang lumrah dilakukan, dan wajib ditonton dan disimak. Kehadirannya disokong dana yang tidak sedikit, dimanajeri, ada penulis skenarionya, ada kepala produksinya, ada reporternya dan seterusnya.
Rasulullah S.A.W. bersabda : "Sesungguhnya orang yang mendengar (seseorang yang mengumpat orang lain) adalah bersekutu (di dalam dosa)dengan orang yang berkata itu. Dan dia juga dikira salah seorang daripada dua orang yang mengumpat."
Oleh karenanya, menjaga mata-telinga adalah pekerjaan yang memerlukan energi dan kesungguhan yang kuat dan gigih.
3.Menjaga Lidah
Lidah adalah anggota tubuh tanpa tulang yang kerap mengantarkan pada perkara-perkara besar. Kehancuran rumah tangga, pertengkaran sahabat karib, hingga peperangan antar negara, dapat dipicu dari sepotong daging kecil di celah mulut kita ini.
Rasulullah Saw. bersabda : “Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya.” (Riwayat Athabrani dan Al Baihaqi)
Jagalah lidah dari perkara-perkara seperti berbohong, ingkar janji, mengumpat, bertengkar / berdebat / membantah perkataan orang lain, memuji diri sendiri, melaknat(mncela) makhluk Allah, mendoakan celaka bagi orang lain dan bergurau( yang mengandung memperolok atau mengejek) orang lain.
4. Menjaga Perut
Yang hendaknya selalu di ingat: perut kita bukan tong sampah! Input yang masuk ke dalam perut akan berpengaruh langsung/tidak langsung terhadap tingkah laku/sikap/tindakan kita. Karenanya, peliharalah perut dari makanan yang haram atau yang syubahat. Sekalipun halal, hindari memakannya secara berlebihan. Sebab hal itu akan menumpulkan pikiran dan hati nurani. Obesitas (kelebihan berat badan) adalah penyakit modern sebagai akibat lain dari tidak terkontrolnya urusan perut.
5. Menjaga Kemaluan
Kendalikan sekuat daya dorongan melakukan apa-apa yang diharam kan oleh Allah SWT. Firman Allah-Nya:"Dan mereka yang selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau apa-apa yang mereka miliki (daripada hamba jariah) maka mereka tidak tercela." (Al Mukminun: 5-6)
6.Menjaga Dua Tangan
Kendalikan kedua tangan dari melukai seseorang (kecuali dengan cara hak seperti berperang, atau melakukan balasan yang setimpal). Katakan “stop”, pada tangan, ketika akan bertindak sesuatu yang diharamkan, atau menyakiti makhluk Allah, atau menulis sesuatu yang diharamkan atau menyakiti perasaan orang lain.
7.Menjaga Dua Kaki
Memelihara kedua kaki dari berjalan ke tempat yang diharamkan atau berjalan menuju kelompok orang atau penguasa yang zalim tanpa ada alasan darurat karena sikap dan tindakan itu dianggap menghormati kezaliman mereka, sedangkan Allah menyuruh kita berpaling dari orang yang zalim.
Firman Allah SWT. : "Dan jangan kamu cenderung hati kepada orang yang zalim, nanti kamu akan disentuh oleh api neraka." (Hud: 113)
Pintu-pintu bagi masuknya maksiat terbuka lebar pada ketujuh anggota tubuh di atas. Pun kunci-kuncinya ada dalam genggaman tangan kita untuk membendungnya. Jadi, semua kembali kepada manusianya. Tentu hamba Allah yang cerdik, adalah mereka yang mempergunakan amanah tubuh untuk senantiasa berjalan di atas rel keridhaan-Nya.
Akhirul kalam, ada sebuah hadits Nabi mengatakan, “Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya.” (Riwayat Abu Ya’li). Nah, bagaimana dengan kita? [Ali Athwa/hidayatullah.com]
توبة الأعضاء
Home Kajian
Enam Taubatnya Anggota Tubuh
Monday, 11 October 2010 13:20
Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan. Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji
oleh: Ali Akbar bin Agil*
MENJAGA hati merupakan pekerjaan berat. Butuh kesungguhan dalam menghadapi godaan yang datang secara bertubi-tubi yang terkadang membuat kita terkapar menyerah dengan keadaan yang ada. Padahal, hati laksana mahkota dalam jiwa.
Hati, sebagaimana diungkap oleh Syaikh Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adalah raja seluruh angota tubuh. Hati merupakan sumber akidah, akhlaq, niat yang tercela maupun terpuji. “Seseorang tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali sanggup menyucikan hatinya dari keburukan dan kehinaan serta menghiasinya dengan kebaikan dan keutamaan,” tulisnya.
Di sinilah, sekali lagi, pentingnya menata hati. Dalam diri kita, seperti menirukan sabda Nabi Muhamad SAW, “Ada segumpal daging. Jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Supaya tidak terjerumus dalam kubangan maksiat yang membuahkan penyesalan tiada terperihkan, ada baiknya kita melakukan langkah-langkah berikut ini.
Pertama, jangan memulai berbuat maksiat. Proses terjadinya maksiat diceritakan secara detail oleh Ibnu Qayyim. Katanya, “Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia akan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu! Jika tidak, ia akan menjadi syahwat. Perangilah syahwat itu! Jika tidak, ia akan menjadi `azimah (hasrat). Apabila ini juga tidak dilawan, ia akan berubah menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak Anda temukan lawannya maka ia akan menjadi kebiasaan, dan setelah itu sulit bagimu meninggalkannya.”
Sekecil apapun peluang maksiat, tutup segera. Membuka hati untuk maksiat sama saja mempersilakan diri kita dijarah oleh setan dan dosa. Sebuah maksiat akan melahirkan maksiat berikutnya. Demikian seterusnya, lambat laun ia menjadi sebuah tren dalam denyut kehidupan seseorang. Sehingga membutuhkan energi yang luar biasa untuk menghentikan luapan maksiat tersebut.
Kedua, menjernihkan hati. Hati yang jernih membuat kita lebih sensitif terhadap maksiat. Menjernihkan hati diawali dengan zuhud. Hidup zuhud bukan berarti lari dari dunia, menjauhi manusia. Tapi menjalani pola hidup dengan kebersahajaan, kesejajaran, tidak berlebihan, proposional, dan sesuai kebutuhan bukan yang selaras keinginan.
Ibrahim bin Adham ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mendapatkan zuhud?” Ibrahim menjawab, “Dengan tiga perkara: (1) Saya melihat keadaan kubur yang mengerikan sedang belum kudapati pelipur (2) Saya melihat sebuah jalan yang panjang sementara belum kumiliki bekal (3) Dan saya melihat Allah yang Maha Perkasa mengadili, padahal saya belum memiliki hujjah (argumentasi).”
Kejernihan hati menjadi sumber ketenteraman hidup. Tidak gusar dan gelisah atas apa yang tidak ada serta selalu bersyukur dengan apa yang ada. Sebaliknya, kegersangan hati sebagai akibat ketidakmampuan mengendalikan diri, membuat gerakan dan nafas tersenggal-senggal, terseok-seok tak tentu arah.
Ketiga, bertaubat. Tidak ada manusia suci selain para Nabi dan Rasul. Jika suatu saat kita melakukan maksiat baik disengaja ataupun tidak, solusinya adalah dengan bertaubat, memohon ampun kepada Allah. Inilah cara ketiga.
Taubat dari segala tindak tanduk maksiat, mulai anggota tubuh hingga ke dalam hati. Dzun Nun Al-Misri menjelaskan cara taubat secara menyeluruh. Ia berkata, “Setiap anggota tubuh manusia ada ‘jatah’ taubatnya: (1) Taubatnya hati dengan berniat meninggalkan hal-hal yang dilarang (2) Taubatnya mata dengan menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram (3) Taubatnya kedua tangan dengan meninggalkan penggunaan sesuatu yang bukan haknya (4) Taubatnya kedua kaki dengan meninggalkan usaha berjalan ke tempat-tempat yang membuat lalai kepada Allah (5) Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan (6) Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji.”
Tiga cara tersebut merupakan upaya mengorganisasikan kembali hatiku, hatimu, dan hati kita yang centang-perenang. Semoga.
Enam Taubatnya Anggota Tubuh
Monday, 11 October 2010 13:20
Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan. Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji
oleh: Ali Akbar bin Agil*
MENJAGA hati merupakan pekerjaan berat. Butuh kesungguhan dalam menghadapi godaan yang datang secara bertubi-tubi yang terkadang membuat kita terkapar menyerah dengan keadaan yang ada. Padahal, hati laksana mahkota dalam jiwa.
Hati, sebagaimana diungkap oleh Syaikh Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adalah raja seluruh angota tubuh. Hati merupakan sumber akidah, akhlaq, niat yang tercela maupun terpuji. “Seseorang tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali sanggup menyucikan hatinya dari keburukan dan kehinaan serta menghiasinya dengan kebaikan dan keutamaan,” tulisnya.
Di sinilah, sekali lagi, pentingnya menata hati. Dalam diri kita, seperti menirukan sabda Nabi Muhamad SAW, “Ada segumpal daging. Jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Supaya tidak terjerumus dalam kubangan maksiat yang membuahkan penyesalan tiada terperihkan, ada baiknya kita melakukan langkah-langkah berikut ini.
Pertama, jangan memulai berbuat maksiat. Proses terjadinya maksiat diceritakan secara detail oleh Ibnu Qayyim. Katanya, “Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia akan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu! Jika tidak, ia akan menjadi syahwat. Perangilah syahwat itu! Jika tidak, ia akan menjadi `azimah (hasrat). Apabila ini juga tidak dilawan, ia akan berubah menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak Anda temukan lawannya maka ia akan menjadi kebiasaan, dan setelah itu sulit bagimu meninggalkannya.”
Sekecil apapun peluang maksiat, tutup segera. Membuka hati untuk maksiat sama saja mempersilakan diri kita dijarah oleh setan dan dosa. Sebuah maksiat akan melahirkan maksiat berikutnya. Demikian seterusnya, lambat laun ia menjadi sebuah tren dalam denyut kehidupan seseorang. Sehingga membutuhkan energi yang luar biasa untuk menghentikan luapan maksiat tersebut.
Kedua, menjernihkan hati. Hati yang jernih membuat kita lebih sensitif terhadap maksiat. Menjernihkan hati diawali dengan zuhud. Hidup zuhud bukan berarti lari dari dunia, menjauhi manusia. Tapi menjalani pola hidup dengan kebersahajaan, kesejajaran, tidak berlebihan, proposional, dan sesuai kebutuhan bukan yang selaras keinginan.
Ibrahim bin Adham ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mendapatkan zuhud?” Ibrahim menjawab, “Dengan tiga perkara: (1) Saya melihat keadaan kubur yang mengerikan sedang belum kudapati pelipur (2) Saya melihat sebuah jalan yang panjang sementara belum kumiliki bekal (3) Dan saya melihat Allah yang Maha Perkasa mengadili, padahal saya belum memiliki hujjah (argumentasi).”
Kejernihan hati menjadi sumber ketenteraman hidup. Tidak gusar dan gelisah atas apa yang tidak ada serta selalu bersyukur dengan apa yang ada. Sebaliknya, kegersangan hati sebagai akibat ketidakmampuan mengendalikan diri, membuat gerakan dan nafas tersenggal-senggal, terseok-seok tak tentu arah.
Ketiga, bertaubat. Tidak ada manusia suci selain para Nabi dan Rasul. Jika suatu saat kita melakukan maksiat baik disengaja ataupun tidak, solusinya adalah dengan bertaubat, memohon ampun kepada Allah. Inilah cara ketiga.
Taubat dari segala tindak tanduk maksiat, mulai anggota tubuh hingga ke dalam hati. Dzun Nun Al-Misri menjelaskan cara taubat secara menyeluruh. Ia berkata, “Setiap anggota tubuh manusia ada ‘jatah’ taubatnya: (1) Taubatnya hati dengan berniat meninggalkan hal-hal yang dilarang (2) Taubatnya mata dengan menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram (3) Taubatnya kedua tangan dengan meninggalkan penggunaan sesuatu yang bukan haknya (4) Taubatnya kedua kaki dengan meninggalkan usaha berjalan ke tempat-tempat yang membuat lalai kepada Allah (5) Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan (6) Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji.”
Tiga cara tersebut merupakan upaya mengorganisasikan kembali hatiku, hatimu, dan hati kita yang centang-perenang. Semoga.
توبة الأعضاء
Home Kajian
Enam Taubatnya Anggota Tubuh
Monday, 11 October 2010 13:20
Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan. Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji
oleh: Ali Akbar bin Agil*
MENJAGA hati merupakan pekerjaan berat. Butuh kesungguhan dalam menghadapi godaan yang datang secara bertubi-tubi yang terkadang membuat kita terkapar menyerah dengan keadaan yang ada. Padahal, hati laksana mahkota dalam jiwa.
Hati, sebagaimana diungkap oleh Syaikh Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adalah raja seluruh angota tubuh. Hati merupakan sumber akidah, akhlaq, niat yang tercela maupun terpuji. “Seseorang tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali sanggup menyucikan hatinya dari keburukan dan kehinaan serta menghiasinya dengan kebaikan dan keutamaan,” tulisnya.
Di sinilah, sekali lagi, pentingnya menata hati. Dalam diri kita, seperti menirukan sabda Nabi Muhamad SAW, “Ada segumpal daging. Jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Supaya tidak terjerumus dalam kubangan maksiat yang membuahkan penyesalan tiada terperihkan, ada baiknya kita melakukan langkah-langkah berikut ini.
Pertama, jangan memulai berbuat maksiat. Proses terjadinya maksiat diceritakan secara detail oleh Ibnu Qayyim. Katanya, “Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia akan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu! Jika tidak, ia akan menjadi syahwat. Perangilah syahwat itu! Jika tidak, ia akan menjadi `azimah (hasrat). Apabila ini juga tidak dilawan, ia akan berubah menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak Anda temukan lawannya maka ia akan menjadi kebiasaan, dan setelah itu sulit bagimu meninggalkannya.”
Sekecil apapun peluang maksiat, tutup segera. Membuka hati untuk maksiat sama saja mempersilakan diri kita dijarah oleh setan dan dosa. Sebuah maksiat akan melahirkan maksiat berikutnya. Demikian seterusnya, lambat laun ia menjadi sebuah tren dalam denyut kehidupan seseorang. Sehingga membutuhkan energi yang luar biasa untuk menghentikan luapan maksiat tersebut.
Kedua, menjernihkan hati. Hati yang jernih membuat kita lebih sensitif terhadap maksiat. Menjernihkan hati diawali dengan zuhud. Hidup zuhud bukan berarti lari dari dunia, menjauhi manusia. Tapi menjalani pola hidup dengan kebersahajaan, kesejajaran, tidak berlebihan, proposional, dan sesuai kebutuhan bukan yang selaras keinginan.
Ibrahim bin Adham ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mendapatkan zuhud?” Ibrahim menjawab, “Dengan tiga perkara: (1) Saya melihat keadaan kubur yang mengerikan sedang belum kudapati pelipur (2) Saya melihat sebuah jalan yang panjang sementara belum kumiliki bekal (3) Dan saya melihat Allah yang Maha Perkasa mengadili, padahal saya belum memiliki hujjah (argumentasi).”
Kejernihan hati menjadi sumber ketenteraman hidup. Tidak gusar dan gelisah atas apa yang tidak ada serta selalu bersyukur dengan apa yang ada. Sebaliknya, kegersangan hati sebagai akibat ketidakmampuan mengendalikan diri, membuat gerakan dan nafas tersenggal-senggal, terseok-seok tak tentu arah.
Ketiga, bertaubat. Tidak ada manusia suci selain para Nabi dan Rasul. Jika suatu saat kita melakukan maksiat baik disengaja ataupun tidak, solusinya adalah dengan bertaubat, memohon ampun kepada Allah. Inilah cara ketiga.
Taubat dari segala tindak tanduk maksiat, mulai anggota tubuh hingga ke dalam hati. Dzun Nun Al-Misri menjelaskan cara taubat secara menyeluruh. Ia berkata, “Setiap anggota tubuh manusia ada ‘jatah’ taubatnya: (1) Taubatnya hati dengan berniat meninggalkan hal-hal yang dilarang (2) Taubatnya mata dengan menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram (3) Taubatnya kedua tangan dengan meninggalkan penggunaan sesuatu yang bukan haknya (4) Taubatnya kedua kaki dengan meninggalkan usaha berjalan ke tempat-tempat yang membuat lalai kepada Allah (5) Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan (6) Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji.”
Tiga cara tersebut merupakan upaya mengorganisasikan kembali hatiku, hatimu, dan hati kita yang centang-perenang. Semoga.
Enam Taubatnya Anggota Tubuh
Monday, 11 October 2010 13:20
Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan. Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji
oleh: Ali Akbar bin Agil*
MENJAGA hati merupakan pekerjaan berat. Butuh kesungguhan dalam menghadapi godaan yang datang secara bertubi-tubi yang terkadang membuat kita terkapar menyerah dengan keadaan yang ada. Padahal, hati laksana mahkota dalam jiwa.
Hati, sebagaimana diungkap oleh Syaikh Abdullah bin Alwi Al-Haddad, adalah raja seluruh angota tubuh. Hati merupakan sumber akidah, akhlaq, niat yang tercela maupun terpuji. “Seseorang tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali sanggup menyucikan hatinya dari keburukan dan kehinaan serta menghiasinya dengan kebaikan dan keutamaan,” tulisnya.
Di sinilah, sekali lagi, pentingnya menata hati. Dalam diri kita, seperti menirukan sabda Nabi Muhamad SAW, “Ada segumpal daging. Jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Supaya tidak terjerumus dalam kubangan maksiat yang membuahkan penyesalan tiada terperihkan, ada baiknya kita melakukan langkah-langkah berikut ini.
Pertama, jangan memulai berbuat maksiat. Proses terjadinya maksiat diceritakan secara detail oleh Ibnu Qayyim. Katanya, “Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia akan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu! Jika tidak, ia akan menjadi syahwat. Perangilah syahwat itu! Jika tidak, ia akan menjadi `azimah (hasrat). Apabila ini juga tidak dilawan, ia akan berubah menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak Anda temukan lawannya maka ia akan menjadi kebiasaan, dan setelah itu sulit bagimu meninggalkannya.”
Sekecil apapun peluang maksiat, tutup segera. Membuka hati untuk maksiat sama saja mempersilakan diri kita dijarah oleh setan dan dosa. Sebuah maksiat akan melahirkan maksiat berikutnya. Demikian seterusnya, lambat laun ia menjadi sebuah tren dalam denyut kehidupan seseorang. Sehingga membutuhkan energi yang luar biasa untuk menghentikan luapan maksiat tersebut.
Kedua, menjernihkan hati. Hati yang jernih membuat kita lebih sensitif terhadap maksiat. Menjernihkan hati diawali dengan zuhud. Hidup zuhud bukan berarti lari dari dunia, menjauhi manusia. Tapi menjalani pola hidup dengan kebersahajaan, kesejajaran, tidak berlebihan, proposional, dan sesuai kebutuhan bukan yang selaras keinginan.
Ibrahim bin Adham ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mendapatkan zuhud?” Ibrahim menjawab, “Dengan tiga perkara: (1) Saya melihat keadaan kubur yang mengerikan sedang belum kudapati pelipur (2) Saya melihat sebuah jalan yang panjang sementara belum kumiliki bekal (3) Dan saya melihat Allah yang Maha Perkasa mengadili, padahal saya belum memiliki hujjah (argumentasi).”
Kejernihan hati menjadi sumber ketenteraman hidup. Tidak gusar dan gelisah atas apa yang tidak ada serta selalu bersyukur dengan apa yang ada. Sebaliknya, kegersangan hati sebagai akibat ketidakmampuan mengendalikan diri, membuat gerakan dan nafas tersenggal-senggal, terseok-seok tak tentu arah.
Ketiga, bertaubat. Tidak ada manusia suci selain para Nabi dan Rasul. Jika suatu saat kita melakukan maksiat baik disengaja ataupun tidak, solusinya adalah dengan bertaubat, memohon ampun kepada Allah. Inilah cara ketiga.
Taubat dari segala tindak tanduk maksiat, mulai anggota tubuh hingga ke dalam hati. Dzun Nun Al-Misri menjelaskan cara taubat secara menyeluruh. Ia berkata, “Setiap anggota tubuh manusia ada ‘jatah’ taubatnya: (1) Taubatnya hati dengan berniat meninggalkan hal-hal yang dilarang (2) Taubatnya mata dengan menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram (3) Taubatnya kedua tangan dengan meninggalkan penggunaan sesuatu yang bukan haknya (4) Taubatnya kedua kaki dengan meninggalkan usaha berjalan ke tempat-tempat yang membuat lalai kepada Allah (5) Taubatnya pendengaran dengan tidak menyimak kebatilan (6) Taubatnya kemaluan dengan berhenti berbuat keji.”
Tiga cara tersebut merupakan upaya mengorganisasikan kembali hatiku, hatimu, dan hati kita yang centang-perenang. Semoga.
Subscribe to:
Posts (Atom)
