Sunday, August 21, 2011
PUASA&BERBUKA+KESEHATAN
5 Kiat Hadapi "Cobaan" Berpuasa
Dini | | Kamis, 18 Agustus 2011 | 08:47 WIB
Dibaca: 6559Komentar: 6
| Share:
KOMPAS.COM/FELICITAS HARMANDINI
Tidak jarang kita memandang waktu berbuka sebagai ajang "balas dendam". Makan banyak dan serba manis jadi jawabannya.
TERKAIT:
14 Menu Sehat Puasa yang Melangsingkan
7 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Lama
Menu Buka Puasa untuk yang Maag
4 Makanan Pengusir Bau Mulut
"Berbukalah dengan yang Manis": Keliru!
GramediaShop: Mencegah & Mengatasi Penyakit Tiroid
GramediaShop: Paus Terakhir
KOMPAS.com - Bulan puasa sudah memasuki minggu ketiga, sudahkah Anda lancar melaksanakannya? Selain lancar mempersiapkan hati dan iman, mari lancarkan bulan suci kali ini dengan menciptakan strategi pola makan yang tepat. Kuncinya: Maksimalkan asupan nutrisi dan penuhi kebutuhan cairan, agar sistem metabolisme tubuh tetap normal. Langkah pertamanya adalah dengan mengenali 5 "cobaan" umum yang kerap terjadi. Setelah itu, temukan cara terbaik untuk mengatasinya.
Cobaan #1 Kalap saat berbuka
Penyebab: Persepsi kita yang menyimpulkan harus makan banyak setelah tak makan satu harian.
Tidak jarang kita memandang waktu berbuka sebagai ajang "balas dendam". Alih-alih karena seharian tidak mengisi perut dengan makanan dan minuman, ketika berbuka malah kita sering meningkatkan porsi makan jadi dobel. Belum lagi kadar gula darah yang menurun drastis, membuat kita berpandangan dengan makan banyak akan mengembalikan gula darah kita ke kondisi normal. Dan akan menjadi bahaya jika kita memilih makan yang bergula tinggi.
Sebaiknya pilihlah asupan berelektrolit saat sahur. “Elektrolit sifatnya dapat menahan cairan tubuh, sehingga kita tak mudah dehidrasi selama puasa seharian,” ujar dr Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, dokter pemerhati gaya hidup sekaligus behavior scientist dan weight control specialist.
Kemudian, pilih juga menu sahur dengan bahan-bahan yang memiliki nilai indeks glikemik (IG) yang rendah, seperti oats, beras merah, roti gandum, sup, soto, pisang, dan makanan berprotein atau berserat tinggi lainnya. Lalu lengkapi juga dengan meminum susu rendah lemak atau jus, plus air putih yang cukup. Makanan ber- IG yang rendah mampu menaikkan kadar gula darah secara perlahan, dan menahan cukup lama untuk dicerna. Artinya, kita bisa merasa kenyang lebih lama.
Kita tidak perlu takut kadar gula akan drop selama puasa. Mengapa? Karena ketika kita sudah berhasil menjalankan ibadah puasa sehari penuh, artinya kebutuhan gula di tubuh sudah terpenuhi. Jika benar-benar drop, isilah dengan asupan gula secukupnya saja, tutur dr Grace. Buanglah pikiran, kalau mengonsumsi makanan berkadar gula tinggi banyak-banyak bisa jadi tabungan kita selama berpuasa.
Cobaan #2 Tubuh lemas selama berpuasa
Penyebab: Memiliki jadwal makan yang "baru".
Pola makan yang baru membuat minggu-minggu awal puasa terasa berat. Badan menjadi mudah lemas dan mengantuk di siang hari. Tapi tenang, itu hanya bersifat sementara dan tubuh kita akan otomatis beradaptasi seiring dengan kita berpuasa.
Sebaiknya bantu dengan mengonsumsi suplemen saat sahur. Berkonsultasilah dengan dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan suplemen yang tepat dan sesuai yang kita butuhkan. Minimal pilihlah suplemen yang membuat tubuh prima hingga waktu berbuka dan tidak merusak lambung. Vitamin C dan vitamin B merupakan pilihan yang tepat. Untuk multivitamin, pilihlah yang mengandung zinc dan selenium, saran dr Grace.
Cobaan #3 Bau mulut
Penyebab: Kurangnya jumlah cairan di dalam mulut.
Bau mulut yang kurang sedap memang menjadi tantangan tersendiri saat berpuasa. Larangan untuk minum membuat tubuh kita dehidrasi dan rongga mulut menjadi kering. Berpuasa juga membuat produksi saliva atau air liur juga mengalami penurunan. Kondisi ini membuat bakteri di dalam mulut semakin mudah untuk berkembang biak.
Sebaiknya pilihlah makanan yang tepat saat sahur. Makanan seperti seledri, keju, jamur shiitake, dan biji wijen, ternyata memiliki kemampuan dalam melindungi rongga mulut, serta membunuh bakteri yang memicu timbulnya plak penyebab bau mulut. Lana Rozenberg, DDS, seorang ahli kesehatan gigi holistik dan pendiri Rozenberg Dental Day Spa di New York City menyatakan, mengunyah seledri atau wortel secara rutin sekali setiap hari, sudah bisa memberikan perlindungan bagi gigi dan gusi. Lalu maksimalkan dengan berkumur obat antiseptik, melakukan flossing gigi usai sahur, dan hindarilah mengonsumsi makanan yang berbau tajam, seperti bawang, asparagus, petai, dan jengkol.
Cobaan #4 Konstipasi
Penyebab: Tidak makan seharian.
Jeda waktu makan yang cukup jauh antara sahur dan berbuka, membuat organ dalam saluran pencernaan memiliki banyak waktu untuk istirahat. Kondisi ini menyebabkan daerah usus tidak berkontraksi, sehingga menimbulkan konstipasi.
Sebaiknya perbanyak asupan air putih. Meminum banyak air putih, sayuran, buah, dan makanan berserat lainnya akan membantu kita meningkatkan proses pengeluaran sisa makanan di tubuh. Sebenarnya konstipasi tidak selalu terjadi karena kurangnya asupan serat saja, melainkan juga disebabkan oleh melambatnya ritme kontraksi. Perubahan proses pembuangan saat berpuasa sangatlah wajar. Yang terpenting, selalu berikan tubuh kita asupan sayuran, buah, dan air putih yang cukup.
Cobaan # 5 Masih kenyang saat sahur
Penyebab: Memiliki jam makan tambahan antara pukul 21.00 hingga tengah malam.
Ada dua alasan yang membuat sahur kita berantakan. Pertama, kebiasaan kalap saat berbuka yang membuat tubuh kita cepat lapar dan mendorong untuk makan kembali saat malam harinya. Yang kedua, memang tak terbiasa makan di waktu subuh.
Sebaiknya berbuka dengan menu benar. Anjuran, “Berbukalah dengan yang manis”, mungkin hanya pas diterapkan pada orang yang mengalami hipoglikemik atau kekurangan kadar gula dalam darah. Sedangkan untuk yang lain, mengonsumsi buah kurma segar dan segelas air putih bisa menjadi tajil yang ideal.
Studi klinis yang dipublikasikan di International Journal of Food Science and Nutrition, menyatakan kurma mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Salah satunya Beta D-Glucan, yaitu serat larut air yang memberikan rasa kenyang serta baik untuk kesehatan pencernaan kita. Agar perut tidak "bawel" saat malam hari, usai makan kurma beri jeda 15-30 menit sebelum menyantap makanan utama yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang seimbang.
Jangan biarkan puasa menghambat aktivitas kita sehari-hari, mari lancarkan bulan suci tahun ini dengan memahami 5 "cobaan" di bulan puasa dan cara mengatasi dengan maksimal. Selamat berpuasa!
PUASA&BERBUKA+KESEHATAN
5 Kiat Hadapi "Cobaan" Berpuasa
Dini | | Kamis, 18 Agustus 2011 | 08:47 WIB
Dibaca: 6559Komentar: 6
| Share:
KOMPAS.COM/FELICITAS HARMANDINI
Tidak jarang kita memandang waktu berbuka sebagai ajang "balas dendam". Makan banyak dan serba manis jadi jawabannya.
TERKAIT:
14 Menu Sehat Puasa yang Melangsingkan
7 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Lama
Menu Buka Puasa untuk yang Maag
4 Makanan Pengusir Bau Mulut
"Berbukalah dengan yang Manis": Keliru!
GramediaShop: Mencegah & Mengatasi Penyakit Tiroid
GramediaShop: Paus Terakhir
KOMPAS.com - Bulan puasa sudah memasuki minggu ketiga, sudahkah Anda lancar melaksanakannya? Selain lancar mempersiapkan hati dan iman, mari lancarkan bulan suci kali ini dengan menciptakan strategi pola makan yang tepat. Kuncinya: Maksimalkan asupan nutrisi dan penuhi kebutuhan cairan, agar sistem metabolisme tubuh tetap normal. Langkah pertamanya adalah dengan mengenali 5 "cobaan" umum yang kerap terjadi. Setelah itu, temukan cara terbaik untuk mengatasinya.
Cobaan #1 Kalap saat berbuka
Penyebab: Persepsi kita yang menyimpulkan harus makan banyak setelah tak makan satu harian.
Tidak jarang kita memandang waktu berbuka sebagai ajang "balas dendam". Alih-alih karena seharian tidak mengisi perut dengan makanan dan minuman, ketika berbuka malah kita sering meningkatkan porsi makan jadi dobel. Belum lagi kadar gula darah yang menurun drastis, membuat kita berpandangan dengan makan banyak akan mengembalikan gula darah kita ke kondisi normal. Dan akan menjadi bahaya jika kita memilih makan yang bergula tinggi.
Sebaiknya pilihlah asupan berelektrolit saat sahur. “Elektrolit sifatnya dapat menahan cairan tubuh, sehingga kita tak mudah dehidrasi selama puasa seharian,” ujar dr Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, dokter pemerhati gaya hidup sekaligus behavior scientist dan weight control specialist.
Kemudian, pilih juga menu sahur dengan bahan-bahan yang memiliki nilai indeks glikemik (IG) yang rendah, seperti oats, beras merah, roti gandum, sup, soto, pisang, dan makanan berprotein atau berserat tinggi lainnya. Lalu lengkapi juga dengan meminum susu rendah lemak atau jus, plus air putih yang cukup. Makanan ber- IG yang rendah mampu menaikkan kadar gula darah secara perlahan, dan menahan cukup lama untuk dicerna. Artinya, kita bisa merasa kenyang lebih lama.
Kita tidak perlu takut kadar gula akan drop selama puasa. Mengapa? Karena ketika kita sudah berhasil menjalankan ibadah puasa sehari penuh, artinya kebutuhan gula di tubuh sudah terpenuhi. Jika benar-benar drop, isilah dengan asupan gula secukupnya saja, tutur dr Grace. Buanglah pikiran, kalau mengonsumsi makanan berkadar gula tinggi banyak-banyak bisa jadi tabungan kita selama berpuasa.
Cobaan #2 Tubuh lemas selama berpuasa
Penyebab: Memiliki jadwal makan yang "baru".
Pola makan yang baru membuat minggu-minggu awal puasa terasa berat. Badan menjadi mudah lemas dan mengantuk di siang hari. Tapi tenang, itu hanya bersifat sementara dan tubuh kita akan otomatis beradaptasi seiring dengan kita berpuasa.
Sebaiknya bantu dengan mengonsumsi suplemen saat sahur. Berkonsultasilah dengan dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan suplemen yang tepat dan sesuai yang kita butuhkan. Minimal pilihlah suplemen yang membuat tubuh prima hingga waktu berbuka dan tidak merusak lambung. Vitamin C dan vitamin B merupakan pilihan yang tepat. Untuk multivitamin, pilihlah yang mengandung zinc dan selenium, saran dr Grace.
Cobaan #3 Bau mulut
Penyebab: Kurangnya jumlah cairan di dalam mulut.
Bau mulut yang kurang sedap memang menjadi tantangan tersendiri saat berpuasa. Larangan untuk minum membuat tubuh kita dehidrasi dan rongga mulut menjadi kering. Berpuasa juga membuat produksi saliva atau air liur juga mengalami penurunan. Kondisi ini membuat bakteri di dalam mulut semakin mudah untuk berkembang biak.
Sebaiknya pilihlah makanan yang tepat saat sahur. Makanan seperti seledri, keju, jamur shiitake, dan biji wijen, ternyata memiliki kemampuan dalam melindungi rongga mulut, serta membunuh bakteri yang memicu timbulnya plak penyebab bau mulut. Lana Rozenberg, DDS, seorang ahli kesehatan gigi holistik dan pendiri Rozenberg Dental Day Spa di New York City menyatakan, mengunyah seledri atau wortel secara rutin sekali setiap hari, sudah bisa memberikan perlindungan bagi gigi dan gusi. Lalu maksimalkan dengan berkumur obat antiseptik, melakukan flossing gigi usai sahur, dan hindarilah mengonsumsi makanan yang berbau tajam, seperti bawang, asparagus, petai, dan jengkol.
Cobaan #4 Konstipasi
Penyebab: Tidak makan seharian.
Jeda waktu makan yang cukup jauh antara sahur dan berbuka, membuat organ dalam saluran pencernaan memiliki banyak waktu untuk istirahat. Kondisi ini menyebabkan daerah usus tidak berkontraksi, sehingga menimbulkan konstipasi.
Sebaiknya perbanyak asupan air putih. Meminum banyak air putih, sayuran, buah, dan makanan berserat lainnya akan membantu kita meningkatkan proses pengeluaran sisa makanan di tubuh. Sebenarnya konstipasi tidak selalu terjadi karena kurangnya asupan serat saja, melainkan juga disebabkan oleh melambatnya ritme kontraksi. Perubahan proses pembuangan saat berpuasa sangatlah wajar. Yang terpenting, selalu berikan tubuh kita asupan sayuran, buah, dan air putih yang cukup.
Cobaan # 5 Masih kenyang saat sahur
Penyebab: Memiliki jam makan tambahan antara pukul 21.00 hingga tengah malam.
Ada dua alasan yang membuat sahur kita berantakan. Pertama, kebiasaan kalap saat berbuka yang membuat tubuh kita cepat lapar dan mendorong untuk makan kembali saat malam harinya. Yang kedua, memang tak terbiasa makan di waktu subuh.
Sebaiknya berbuka dengan menu benar. Anjuran, “Berbukalah dengan yang manis”, mungkin hanya pas diterapkan pada orang yang mengalami hipoglikemik atau kekurangan kadar gula dalam darah. Sedangkan untuk yang lain, mengonsumsi buah kurma segar dan segelas air putih bisa menjadi tajil yang ideal.
Studi klinis yang dipublikasikan di International Journal of Food Science and Nutrition, menyatakan kurma mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Salah satunya Beta D-Glucan, yaitu serat larut air yang memberikan rasa kenyang serta baik untuk kesehatan pencernaan kita. Agar perut tidak "bawel" saat malam hari, usai makan kurma beri jeda 15-30 menit sebelum menyantap makanan utama yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang seimbang.
Jangan biarkan puasa menghambat aktivitas kita sehari-hari, mari lancarkan bulan suci tahun ini dengan memahami 5 "cobaan" di bulan puasa dan cara mengatasi dengan maksimal. Selamat berpuasa!
Monday, August 15, 2011
حكمة الإسراء والمعراج
Catatan Akhir Pekan ke-312
Share |
Isra’ Mi’raj Tidak Masuk Akal?
Ahad, 10 Juli 2011
Oleh: Dr. Adian Husaini
DALAM sebuah acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, di Jakarta, pembawa acara menyampaikan narasi, bahwa Isra’ Mi’raj adalah adalah sebuah peristiwa yang harus diterima dengan iman dan tidak bisa diterima dengan akal, karena peristiwa itu memang tidak masuk akal. Mungkin, kita sering mendengar ungkapan serupa; bahwa hal-hal yang ghaib harus diterima dengan iman, bukan dengan akal. Benarkah pernyataan seperti itu?
Ketika itu, saya menguraikan, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj memang tidak masuk di akalnya Abu Jahal. Tetapi, peristiwa tersebut masuk di akalnya Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.. Abu Jahal bahkan menjadikan Isra’ Mi’raj sebagai senjata untuk menarik kembali orang-orang Quraisy dari keimanan Islam. Dan memang, sejumlah orang akhirnya keluar dari Islam, karena menganggap cerita Isra’ Mi’raj sebagai kebohongan dan tidak masuk akal.
Tetapi, provokasi Abu Jahal dan beberapa tokoh kafir Quraisy tidak ‘mempan’ untuk membatalkan keimanan Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau cukup berlogika sederhana: Jika yang menyampaikan berita itu adalah Muhammad saw, pasti cerita itu benar adanya. Bahkan, lebih dari itu pun Abu Bakar ash-Shiddiq percaya. Jadi, Isra’ Mi’raj sangat masuk di akalnya Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, dan tidak masuk pada akalnya akalnya Abu Jahal.
Persoalan akal mendapatkan kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Orang dibebani kewajiban menjalankan syariat jika dia sudah “mukallaf”, artinya, dia sudah baligh (dewasa) dan mempunyai akal. Jika hilang akalnya, maka dia bebas syariat. Itulah karunia Allah! Manusia bisa saja menuntut bebas dari melaksanakan syariat Allah, asalkan mereka sudah kehilangan akal.
Memang, dengan akal-lah manusia dikatakan sebagai manusia. Laulal aqlu la-kaanal-insaanu kal-bahaaim. Begitu sebuah ungkapan Arab yang bermakna: tanpa akal, maka manusia ibarat binatang. Manusia menjadi manusia, karena akalnya, bukan karena jasadnya. Lihatlah, seorang ahli fisika Inggris Stephen Hawking! Meskipun tubuhnya sudah lemah lunglai, terhempas di kursi roda, tanpa bisa berkata apa-apa, jalan pikirannya tetap diperhatikan oleh dunia. Meskipun dia sekular, tetapi dia tetap dipandang sebagai manusia. Akalnya masih ada!
Bandingkan dengan seorang yang masih gagah perkasa atau cantik jelita, jika hilang akalnya, maka hilang pula nilainya sebagai manusia. Karena itu, kita melihat ada hal yang kontradiktif pada kaum sekular yang memandang manusia hanya dari segi fisiknya saja. Tengoklah buku-buku sejarah atau Biologi yang diajarkan kepada anak-anak kita! Tatkala membahas tentang asal-usul manusia, mereka hanya berbicara tentang sejarah fisik atau tubuh manusia. Yang mereka teliti hanya sejarah tulang belulang. Mereka hanya meneliti fosil, karena hanya itu yang bisa mereka lihat.
Mereka tidak mengakui adanya RUH yang justru merupakan inti dari manusia. Sedangkan jasad adalah “tunggangan” RUH. Saat bicara tentang sejarah manusia, maka harusnya mereka sampai pada satu momen penting dari sejarah manusia, yaitu tatkala manusia membuat perjanjian dengan Allah di alam arwah. Ketika itu, Allah bertanya: “Apakah Aku ini Tuhanmu?” maka serentak manusia menjawab: “Benar, kami menjadi saksi!” (QS 7:172).
Itulah sebuah momen penting dari sejarah manusia. Bukan hanya menelusuri sejarah tulang belulang. Sayangnya, kaum sekularis dan materialis tidak mengakui informasi yang berasal dari wahyu sebagai “Ilmu”. Bagi mereka informasi wahyu dianggap sebagai dogma, yang tidak bisa diilmiahkan. Informasi tentang RUH, alam akhirat, dan alam ghaib lainnya, tidak dikategorikan sebagai ilmu. Karena itulah, dalam struktur keilmuan yang banyak dipelajari di sekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi sekarang, yang dimasukkan dalam kategori “sains” hanyalah hal-hal yang bisa diindera. Mereka tidak mengakui adanya Sains tentang akhirat, sains tentang sorga dan neraka.
Padahal, dalam Islam, informasi tentang sifat-sifat Allah, tentang Akhirat, adanya pahala dan dosa, tentang berkah, dan sebagainya, merupakan bagian dari Ilmu! Informasi tentang kenabian Muhammad saw, bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, adalah merupakan ILMU. Dalam QS 3:19 disebutkan, bahwa kaum ahlul kitab tidak berselisih paham kecuali setelah datangnya ILMU pada mereka, karena sikap iri dan dengki. Jadi, bukti kenabian Muhammad saw adalah suatu ILMU, yakni suatu informasi yang pasti kebenarannya.
Jadi, informasi tentang hal-hal ghaib adalah ILMU dan masuk akal. Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasinya adalah pasti (khabar shadiq/true report), makan nilai informasi itu pun menjadi pasti pula. Sebenarnya, fenomena semacam ini terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kita percaya, bahwa kedua orang tua kita sekarang ini, benar-benar orang tua kita, juga berdasarkan informasi dari orang-orang yang kita percayai. Karena semua orang yang kita percayai memberikan informasi yang sama – bahwa mereka adalah orang tua kita – maka kita pun percayai, meskipun kita tidak melakukan tes golongan darah atau tes DNA.
Mungkin ada mahasiswa yang berlagak kritis dan rasional dalam segala hal. Dia mau mengkritisi semua hal. Katanya, “Saya hanya percaya kepada hal-hal yang bisa diindera secara langsung atau yang rasional. Di luar itu, saya tidak percaya!”
Kita jawab: “Anda pun tidak kritis pada diri Anda sendiri. Coba tanyakan dengan cara yang sesopan mungkin kepada kedua orang tua Anda, apa bukti ilmiah yang empiris dan rasional bahwa Anda benar-benar anak mereka?”
Seorang mahasiswa tidak akan pernah menjadi sarjana, jika dia bersikap kritis. Saat dosennya menyatakan, bahwa ini adalah rumus Phytagoras atau hukum ini ciptaan Archimides, maka si mahasiswa yang mengaku kritis tadi, harusnya bertanya kepada dosennya, bagaimana Bapak tahu, bahwa rumus itu berasal dari Phytagoras? Bagaimana membuktikannya? Apakah Bapak melihat sendiri? Kenapa Bapak percaya begitu saja.
Saat seorang dosen atau guru fisika menerangkan bahwa kecepatan cahaya adalah 270 ribu sekian km/detik, maka si mahasiswa harusnya bertanya, “Bagaimana Bapak bisa mengatakan seperti itu. Apa buktinya?”
Syahdan, dulu ada seorang ilmuwan di Indonesia yang terkenal sangat rasional dan “Western oriented”. Dia hanya mau menerima hal-hal yang empiris dan rasional. Suatu ketika, sang ilmuwan ini akan balik kampong dan menaiki Kapal Laut. Maka, temannya, yang seorang cendekiawan Muslim mengingatkan dia: “Jika kamu rasional, harusnya kamu tidak naik kapal, tetapi berenang. Sebab, ketika naik kapal, kamu sudah tidak rasional, karena kamu percaya saja kepada nakhoda atau petugas kapal yang kamu tidak kenal sama mereka!”
Tatkala kita menaiki pesawat terbang, kita dipaksa menjadi tidak rasional dan tidak kritis.Saat diumumkan, bahwa pesawat ini akan menuju suatu kota dengan ketinggian sekian, dengan pilot Si Fulan, maka kita pun percaya begitu saja! Padahal, kita tidak kenal sama sekali dengan para awak pesawat, tidak mengecek langsung, apakah si pilot benar-benar pilot atau pelawak.
Itulah anehnya manusia. Kadangkala, mereka percaya kepada dukun yang jelas-jelas mengaku bodho, percaya kepada ilmuwan fosil yang belum tentu jujur, percaya kepada pramugari pesawat yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetai, ajaibnya, mereka tidak percaya kepada seorang “manusia” yang kejujurannya diakui oleh bangsanya, diakui oleh kawan maupun lawannya. Bahkan, sejak umur 25 tahun, kaumnya sudah member gelar istimewa “al-Amin”, manusia yang terpercaya.
Jika dukun yang menamakan dirinya sebagai orang bodho bisa dipercaya, mengapa kita tidak percaya kepada Nabi Muhammad saw? Itulah akal Abu Bakar ash-Shiddiq r.a., yaitu akal yang jernih; akal yang sanggup mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Saat berita Isra’ Mi’raj itu tiba padanya, maka Sayyidina Abu Bakar cukup menggunakan logika yang sederhana: Jika yang mengatakan itu adalah Muhammad saw, pasti itu benar adanya!
Ada lagi sebagian kalangan yang berlagak kiritis kepada Nabi Muhammad saw, kritis kepada sahabat Nabi dan para ulama terkemuka. “Kita harus kiritis!” katanya. Bahkan, masih kata dia lagi, “Kita harus berani kritis terhadap pikiran kita sendiri!”
Dalam acara bedah Novel Kemi di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 28 Juni 2011, ada seorang mahasiswa bertanya kepada saya: Apa definisi iman, kafir, dan sebagainya?”
Tentu saja, saya cukup keheranan. Bagaimana seorang yang belajar agama Islam pada level perguruan tinggi masih belum tahu, ada definisi iman dan kafir. Saya jawab, “Kenapa kita tidak merujuk saja kepada pendapat para ulama yang mu’tabarah tentang definisi-definisi tersebut? Lihat saja pendapat Imam al-Syafii, Imam al-Ghazali, dan sebagainya!”
Si mahasiswa tadi sebenarnya sedang menghadapi krisis otoritas. Dia menolak otoritas para ulama Islam, tetapi mengakui otoritas Nasr Hamid Abu Zaid, dan para orientalis. Dia lebih percaya kepada pendapat orientalis ketimbang pendapat ulama. Padahal, setiap bidang ilmu selalu menempatkan otoritas-otoritas tertentu. JIka kita belajar Fisika, maka kita diminta menerima otoritas keilmuan yang dimiliki ilmuwan-ilmuwan besar di bidang Fisika. Sama halnya dengan otoritas di bidang ilmu ekonomi, ilmu Sosiologi, dan sebagainya. Ironisnya, saat ini, otoritas keilmuan di Perguruan Tinggi kadangkala diletakkan kepada gelar formal, dan bukan pada kualitas keilmuan seseorang. Meskipun bodoh dan kurang ilmu, tetapi karena sudah bergelar professor maka dia diberikan otoritas keilmuan di bidangnya.
Jika mahasiswa tidak mengakui otoritas keilmuan seseorang, maka dia tidak akan pernah menjadi sarjana, sebab saat menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, pasti dia mengutip sana-sini, pendapat-pendapat dari orang-orang yang dianggap mempunyai otoritas tertentu di bidangnya. Saat membahas tafsir UUD 1945, tentu kita lebih percaya kepada tafsiran Prof. Dr. Jimly ash-Shiddiqy dibandingkan tafsiran Inul atau Thukul.
Untuk menundukkan akal manusia agar menerima kebenaran misi kenabian, maka Allah memberikan bukti-bukti nyata berupa mu’jizat pada para utusan-Nya. Dengan itu, diharapkan, akal manusia akan menerima kebenaran yang berasal dari Allah, yang merupakan sumber kebenaran. Jadi, berita tentang misi kenabian adalah suatu Ilmu dan ilmiah. Adalah ironis, jika berita kenabian tidak dianggap sebagai ILMU, sedangkan informasi tentang kehidupan di bumi jutaan tahun lalu, dianggap sebagai ILMU.
Pintu masuk seorang menjadi Muslim adalah “syahadat”: saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Konsekuensinya, seorang Muslim pasti percaya kepada apa pun yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. Allah adalah sumber ILMU. Allah yang mengajarkan Ilmu kepada manusia, baik yang disampaikan melalui para nabinya, maupun yang diberikan kepada manusia dalam bentuk ilham, dan sebagainya.
Yang jelas, tatkala mendapatkan ILMU, maka kita yakin, bahwa Ilmu itu adalah anugerah Allah. Ilmu adalah karunia Allah. Meskipun manusia bekerja keras, jika Allah tidak menghendaki dia meraih ilmu, maka suatu ilmu tidak akan sampai padanya. Bertemunya upaya manusia dan anugerah Allah akan datangnya suatu makna pada diri manusia, itulah yang dikatakan Prof Syed Naquib al-Attas sebagai suatu Ilmu. Di sini terpadu unsur upaya manusia, sebagai syariat untuk meraih ilmu. Tetapi, pada sisi lain, bagaimana pun, keberhasilan manusia untuk meraih satu ilmu tertentu adalah merupakan anugerah Allah SWT.
Jadi, seorang Muslim adalah seorang yang sangat menghargai akalnya, dan mampu menempatkan akal manusia pada tempatnya. Akal adalah anugerah Allah. Akal digunakan untuk berpikir yang tujuan tertingginya adalah untuk mengenal Sang Pencipta (ma’rifatullah). Pengakuan akan ke-Tuhanan Allah SWT dan kenabian Muhammad saw itulah yang membedakan akal orang mukmin dengan akal orang kafir. Orang mukmin mengarahkan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah.
Orang mukmin paham akan tujuan dan makna hidup yang sebenarnya. Dengan akalnya, orang mukmin paham, bahwa kebahagiaan tertinggi di dunia ini adalah mengenal dan berzikir kepada Allah; bukan menuruti semua tuntutan syahwat. Dengan akalnya, manusia dapat mengenal Sang Pencipta. Dengan akalnya, manusia dapat memahami cara-cara menyembah Sang Pencipta, sebagaimana diajarkan oleh utusan Allah.
Jadi, meskipun sama-sama berakal, ada perbedaan yang mendasar antara akal Abu Bakar ash-Shiddiq dan akal Abu Jahal. Akal Abu Bakar adalah akal yang jernih, akal yang benar (aqlun shahihun), sedangkan akal Abu Jahal adalah akal yang salah, akal yang buruk, akal yang tidak mampu mengantarkan manusia kepada pengenalan Sang Pencipta. Wallahu a’lam bil-shawab. (***).
Hukum Nikah melalui telipon
Senin, 15 Agustus 2011
Follow :
Home Konsultasi Fiqih kontemporer
“Menikah Lewat Telpon”
Senin, 22 Desember 2008
Pengirim :
Saya bekerja di luar Hongkong dan punya calon pria Solo. Untuk menenangkan pikiran, bolehkah menikah melalui telpon?
Ustadz ....saya sedang bekerja jadi TKW di Honkong masa kontrak saya masih 2 tahunan sementara saya punya kenalan di Solo. Kami berdua sudah saling cinta dan berjanji langsung akan menikah setelah kontrak saya habis.
Masalahnya, sudah dua bulan ini saya sudah gak sabar dan was-was saya termasuk orang pencemburu karena itu, agar menenangkan kami berdua kami mengusulkan untuk menikah melalui telepon setidaknya meski kami tdak bertemu, kami bisa tenang dan sudah syah sebagai suami-istri. Bolehkan saya lakukan hal seperti ini dalam Islam??
Iqlimah-Hongkong
Jawaban :
Proses pernikahan dalam Islam mempunyai aturan- aturan yang ketat. Sebuah akad pernikahan yang syah harus terpenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Rukunnya adalah ijab dan qabul, sedang syaratnya adalah ijin dari wali perempuan dan kehadiran dua orang saksi. Ini semuanya harus dilakukan dengan jelas dan transparan, sehingga tidak ada unsur penipuan dan pengelabuhan. Oleh karena itu calon suami atau wakilnya harus hadir di tempat, begitu juga wali perempuan atau wakilnya harus hadir di tempat, dan kedua saksipun harus hadir di tempat untuk menyaksikan akad pernikahan.
Ketika seseorang menikah lewat telpon, maka banyak hal yang tidak bisa terpenuhi dalam akad nikah lewat telpon tadi, diantaranya : tidak adanya dua saksi, tidak adanya wali perempuan, dan tidak ketemunya calon penganten ataupun wakilnya. Ini yang menyebabkan akad pernikahan tersebut menjadi tidak syah.
Seandainya dia menghadirkan dua saksi dan wali perempuan dalam akad ini, tetap saja akad pernikahan tidak syah. Karena kedua saksi tersebut tidak menyaksikan apa-apa kecuali orang yang sedang menelpun, begitu juga wali perempuan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Suara yang ada ditelpun itu belum tentu suara calon suami atau istri. Ringkasnya bahwa akad pernikahan melalui telpon berpotensi untuk salah, atau rentan terjadinya penipuan dan manipulasi.
Disarankan siapa saja yang ingin menikah jarak jauh, untuk mewakilkan kepada orang yang dipercaya. Seandainya dia sebagai perempuan yang bekerja di luar negri, maka cukup walinya sebagai wakil darinya untuk menikahkan dengan lelaki yang diinginkannya, dan harus ada dua saksi yang hadir. Bagi seorang laki-laki yang ingin menikah dengan perempuan jarak jauh, maka hendaknya dia mewakilkan dirinya kepada orang yang dipercaya, seperti adik, kakak, atau saudaranya dengan dihadiri wali perempuan dan kedua saksi. Seandainya ada laki-laki dan perempuan yang ingin menikah di luar negeri dan jauh dari wali perempuan, maka wali tersebut bisa mewakilkan kepada orang yang dipercayai. Wakil dari wali tersebut beserta kedua saksi harus hadir di dalam akad pernikahan. Semua proses pemberian kuasa untuk mewakili hendaknya disertai dengan bukti-bukti dari instasi resmi terkait, supaya tidak disalah gunakan.
Wallahu A’lam
Jawab :
Hukum Nikah melalui telipon
Senin, 15 Agustus 2011
Follow :
Home Konsultasi Fiqih kontemporer
“Menikah Lewat Telpon”
Senin, 22 Desember 2008
Pengirim :
Saya bekerja di luar Hongkong dan punya calon pria Solo. Untuk menenangkan pikiran, bolehkah menikah melalui telpon?
Ustadz ....saya sedang bekerja jadi TKW di Honkong masa kontrak saya masih 2 tahunan sementara saya punya kenalan di Solo. Kami berdua sudah saling cinta dan berjanji langsung akan menikah setelah kontrak saya habis.
Masalahnya, sudah dua bulan ini saya sudah gak sabar dan was-was saya termasuk orang pencemburu karena itu, agar menenangkan kami berdua kami mengusulkan untuk menikah melalui telepon setidaknya meski kami tdak bertemu, kami bisa tenang dan sudah syah sebagai suami-istri. Bolehkan saya lakukan hal seperti ini dalam Islam??
Iqlimah-Hongkong
Jawaban :
Proses pernikahan dalam Islam mempunyai aturan- aturan yang ketat. Sebuah akad pernikahan yang syah harus terpenuhi rukun dan syarat-syaratnya. Rukunnya adalah ijab dan qabul, sedang syaratnya adalah ijin dari wali perempuan dan kehadiran dua orang saksi. Ini semuanya harus dilakukan dengan jelas dan transparan, sehingga tidak ada unsur penipuan dan pengelabuhan. Oleh karena itu calon suami atau wakilnya harus hadir di tempat, begitu juga wali perempuan atau wakilnya harus hadir di tempat, dan kedua saksipun harus hadir di tempat untuk menyaksikan akad pernikahan.
Ketika seseorang menikah lewat telpon, maka banyak hal yang tidak bisa terpenuhi dalam akad nikah lewat telpon tadi, diantaranya : tidak adanya dua saksi, tidak adanya wali perempuan, dan tidak ketemunya calon penganten ataupun wakilnya. Ini yang menyebabkan akad pernikahan tersebut menjadi tidak syah.
Seandainya dia menghadirkan dua saksi dan wali perempuan dalam akad ini, tetap saja akad pernikahan tidak syah. Karena kedua saksi tersebut tidak menyaksikan apa-apa kecuali orang yang sedang menelpun, begitu juga wali perempuan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Suara yang ada ditelpun itu belum tentu suara calon suami atau istri. Ringkasnya bahwa akad pernikahan melalui telpon berpotensi untuk salah, atau rentan terjadinya penipuan dan manipulasi.
Disarankan siapa saja yang ingin menikah jarak jauh, untuk mewakilkan kepada orang yang dipercaya. Seandainya dia sebagai perempuan yang bekerja di luar negri, maka cukup walinya sebagai wakil darinya untuk menikahkan dengan lelaki yang diinginkannya, dan harus ada dua saksi yang hadir. Bagi seorang laki-laki yang ingin menikah dengan perempuan jarak jauh, maka hendaknya dia mewakilkan dirinya kepada orang yang dipercaya, seperti adik, kakak, atau saudaranya dengan dihadiri wali perempuan dan kedua saksi. Seandainya ada laki-laki dan perempuan yang ingin menikah di luar negeri dan jauh dari wali perempuan, maka wali tersebut bisa mewakilkan kepada orang yang dipercayai. Wakil dari wali tersebut beserta kedua saksi harus hadir di dalam akad pernikahan. Semua proses pemberian kuasa untuk mewakili hendaknya disertai dengan bukti-bukti dari instasi resmi terkait, supaya tidak disalah gunakan.
Wallahu A’lam
Jawab :
من هم أهل السنة والجماعة
Home Konsultasi Fiqih kontemporer
Apa itu Ahlus Sunnah Wal Jamaah?
Rabu, 23 Desember 2009
Pengirim :
Assalam’alaikum, ustadz. Saya sering mendengar ceramah yang berisi ajakan untuk kembali kepada ajaran salaf sholeh. Apa maksudnya? Bagaimana Islam yang salafi tersebut? [Hakim-Jakarta. Pertanyaan senada pernah diajukan M. Abduh (Surabaya), Prita (Malang)]
Jawaban:
Pengertian Salaf Sholeh
Untuk memahami maksud salaf sholeh, terlebih dahulu kita harus memahami artinya:
Salaf secara bahasa adalah orang dahulu atau setiap orang yang mendahului kita. Maka Salaf Sholeh adalah setiap orang yang sholeh dan telah mendahului kita.
Adapun secara istilah, Salaf Sholeh ialah para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in yang hidup di masa tiga abad pertama yang dimuliakan, yang terdiri dari kalangan para imam yang telah diakui keimaman, kebaikan, dan kepahaman mereka terhadap sunnah dan keteguhan mereka di dalam menjalankan sunnah tersebut, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup mereka.
Dasar dari pengertian tersebut adalah firman Allah swt:
??????????????? ???????????? ???? ??????????????? ???????????? ??????????? ???????????? ??????????? ??????? ?????? ???????? ????????? ?????? ????????? ?????? ???????? ??????? ????????? ??????????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????????? ??????????
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah: 100)
Begitu juga firman Allah swt :
????? ????????? ?????????? ??? ?????? ??? ????????? ???? ???????? ??????????? ?????? ??????? ?????????????? ????????? ??? ???????? ?????????? ????????? ???????? ????????
“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
Hal itu dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw:
????????? ???? ??? ????? ?????? ??? ????? ??????
“Sebaik-baik manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (generasi Sahabat), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salaf Sholeh ini mempunyai nama-nama lain, di antaranya adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang disebutkan oleh Abdullah bin Abbas ra, ketika menafsirkan firman Allah swt:
?????? ????????? ??????? ??????????? ???????
“Pada hari yang di waktu itu, ada muka yang putih berseri dan adapula muka yang hitam muram.” (QS.3:106)
Abdullah bin Abbas berkata: “Muka yang putih berseri adalah muka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan muka yang hitam muram adalah ahli bid’ah dan furqoh (perselisihan).”
Pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Untuk memahami Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita harus mengetahui dahulu masing-masing dari Sunnah dan Jama’ah.
1. Pengertian Sunnah
Pengertian as-Sunnah secara bahasa (etimologi) : as-Sunnah berasal dari kata ??? ???? dan ???? ????
Yang berarti ???????? (jalan, metode, pandangan hidup) dan ??????? (perilaku) yang terpuji ataupun yang tercela.
Adapun dasar dari pengertian ini adalah sabda Rasulullah saw:
???????? ??? ?? ??? ????? ?????????????? ?????
“Sungguh kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta...”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun as-Sunnah secara istilah (terminologi), yaitu: petunjuk yang telah ditempuh Rasulullah saw dan para sahabatnya baik berkenaan dengan ilmu, aqidah, perkataan, perbuatan maupun ketetapan.
Kata sunnah juga merupakan lawan dari bid’ah.
2. Pengertian Jama’ah:
Jama’ah secara bahasa diambil dari kata ??? (mengumpulkan), atau ???????? (perkumpulan), lawan dari kata ???????? (perceraian) dan ?????? (kelompok ).
Adapun pengertian jama’ah secara istilah (terminologi) adalah: perkumpulan orang-orang beriman yang memegang teguh ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Salaf Sholeh juga, yaitu perkumpulan yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in yang hidup di masa tiga abad pertama yang dimuliakan, yang terdiri dari kalangan para imam yang telah diakui keimaman, kebaikan, dan kepahaman mereka terhadap sunnah dan keteguhan mereka didalam menjalankan sunnah tersebut, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup mereka.
Atau bisa diartikan, mereka yang berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad saw, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka, baik dalam hal aqidah, perkataan, maupun perbuatan. Juga mereka yang istiqomah (konsisten) dalam berittiba’ (mengikuti sunnah Nabi saw) dan menjauhi perbuatan bid’ah.
Kenapa disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Karena mereka selalu memegang teguh As Sunah dan mengamalkannya, serta selalu bersatu dan bekerjasama di dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam.
Pengertian Muslim Salaf
Dari keterangan di atas, kita bisa mengetahui bahwa Muslim Salaf adalah setiap muslim yang berpegang teguh dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana yang dipahami oleh Salaf Sholeh dan para pengikut sesudahnya. Atau dengan kata lain, muslim salafi adalah setiap muslim yang berpegang teguh kepada prinsip-prinsip yang telah diletakkan oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Agar lebih jelas, perlu disebutkan di sini beberapa karakteristik Ahlu Sunnah wal Jama’ah secara umum, di antaranya adalah:
1. Sumber pengambilan hukum mereka hanyalah Al-Quran dan As-Sunnah.
2. Mereka bersikap pertengahan di antara sifat melampui batas (berlebih-lebihan) dan sifat meremehkan, dalam segala hal, baik dalam masalah aqidah, hukum, maupun akhlak.
3. Mereka tidak mempunyai imam, pemimpin, ataupun tokoh yang dikultuskan, kecuali Rasulullah saw.
4. Mereka berkeyakinan bahwa semua pendapat atau perkataan dari siapapun juga, bisa ditolak ataupun diterima (bisa salah dan benar), kecuali perkataan Rasulullah saw.
5. Mereka menghormati dan menjunjung tinggi para Salafush Shalih (Sahabat, Tabi’in dan Tabi’u Tabi’in) dan berkeyakinan bahwa manhaj hidup mereka adalah manhaj yang paling lurus dan selamat. Mereka paling banyak ilmunya dan paling bijaksana dalam mengambil sikap.
6. Mereka menolak takwil (penyelewengan suatu nash dari makna yang sebenarnya), khususnya dalam Asma’ dan Sifat.
7. Mereka menyerahkan diri secara bulat-bulat kepada syariat Islam, walaupun kadang mereka tidak bisa mencerna hikmah yang terkandung di dalamnya.
8. Mereka lebih mendahulukan nash yang shahih daripada akal (logika) belaka dan menjadikan akal di bawah nash.
9. Mereka memadukan antara seluruh nash-nash dalam satu permasalahan dan mengembalikan (ayat-ayat) yang mutasyabihat (ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian/tidak jelas) kepada yang muhkam (ayat-ayat yang jelas dan tegas maksudnya).
Setelah kita mengetahui pengertian Salaf Sholeh dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, serta beberapa karakteristiknya secara global, maka bisa kita katakan bahwa ormas NU, Muhammadiyah, dan Persis termasuk dalam katagori Ahlu Sunnah wal Jama’ah secara umum, dalam arti mereka bukanlah termasuk kelompok Syi’ah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Khowarij, atau kelompok-kelompok sesat lainnya.
Adapun dalam pengertian Ahlu Sunnah wal Jama’ah atau Salaf Sholeh secara khusus, sebagian ormas Islam tersebut belum bisa secara sempurna, jika di pengertiannya sesuai sesuai dengan apa yang dipahami oleh Salaf Sholeh. Umpamanya, dalam menyikapi Asma’ dan Sifat Allah, masih berbeda dengan madzhab Sahabat, atau Ahlus Sunah wal Jama’ah atau Salafush Shaleh. Sebagian ormas Islam, misalnya, masih menyelisihi prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti terlalu mengandalkan logika daripada nash, terutama dalam masalah aqidah dan lain-lainnya, yang rinciannya tentunya tidak bisa disebut di sini satu persatu.
Untuk menjadi bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara lebih utuh, atau agar berada di dalam manhaj Salaf Sholeh secara lebih sempurna, maka ormas-ormas tersebut perlu mengadakan kajian-kajian yang lebih intensif dan mendalam khususnya dalam masalah-masalah aqidah, manhaj, maupun fiqh. Wallahu A’alam. [www.hidayatullah.com]
Jawab :
Sunday, August 14, 2011
كيفية تحديد ليلة القدر عند ابن عباس
أولا ً p ما استـنبطه ابن عـباس t i
{ عـن ابن عـباس ٍ t قال : سورة القـدر ثلا ثون كـلمة
وأن كلمة ( هي ) ترتيبها السابع والعـشرون وأيضا ً
قال t : أن كـلمة ليلة القـدر مُـكونه من تسعة حُروف
وتـكررت ثلاث مرات فـيكون ذلك سبعة وعـشرين وكان
ذلك اجتهادا ً منه لمعرفة في أي ليلة تأتي ليلة القدر }*
و استـَـنبط أيضا ً ابن عـباس t أنها تـدور حول العَـدد سبعة أي تأتي في أول أو آخر السبـع الأواخر من رمضان حيث للعَـدد سبعـة ( دلا ئـل كثـيرة )** مثـل : السماوات سبع ، والأرضين سبع ، وأيام الأسبوع سبعة ويسجد الإ نسان على سبعة أعـضاء والطواف
بالكعـبة ثم السعي سبـعة أشواط ، ورمي الجمار سبـع حصوات.
ثانيا ً p ترتـيب السورة في المُصحف i
مكان سورة القدر في المُصحف بعـد سورة العَـلق وكأن الله تعالى يقول لنا : أن أول ما نزل من القرآن في سورة العلق قـد نزل في هذه الليلة المباركة في السورة التي تـليها وهي سورة القـدر ، مثـلما نجد سورة الشَرح بعـد سورة الضُحى.
ثالثا ً p عَـدد آيات وترتيب السورة i
فعـدد آيات سورة القدر ( 5 ) وترتيـبها في المُصحف رقم ( 97 ) وهذه الأعـداد خمسة وسبعة وتسعة هي مُعظم الليالي التي تأتي فيها ليلة القدر و ذلك في الليالي العـَشر الأخيرة من رمضان.
ـــــــــــــــــــــــــــــــ
* التـفـسير الكبـير للرازي ( سورة القـدر )
** تفـسير ابن كثـير للسورة ــ عـندما سأل عُـمر بن الخطاب ابن عـباس y
رابعا ً p عَـدد حُروف سورة القدر i
عَدد حُروف السورة ( 114 ) حرفا ً وهو نفس عَـدد سور القـُرآن الكريم وكأن الله تعالى يُخبرنا أن عَـدد سور القرآن الذي بدأ نـُزوله في هـذه اللـيلة سيكون هو نفـسُه عـدد حروف سورة القـدر ،
وهـذه الحروف هي عـلى التـوالي في الخمس آيات :
( 21 + 19 + 20 + 36 + 18 = 114 حرفـا ً ) وأوضح للقارئ أن الهَـمزة في كـلمة مَلآئِـكة هي في الأصل
ألف مَهموز ( ملأ كـَة ) وهي جمع ملأ ك كقول الشاعـر :
كـلُ أهـل السماءِ يدعـو عـليكمُ
من نبي ٍ وملأ ك ٍ ورسول ٍ
ولذلك كلمة ملآئِكة مُكونه من ( 5 حروف ) فقـط0
وأصل الفعـل هـو [ فـعـل أ لـَـك ]*
والرسالة في اللغة تسمى ألوك وحامل الرسالة يُسمى مأ لـك ثم قـُدِمَت اللام فأصبحت مَََلأ ك والجمع مَلأ كَة كقول الشاعر :
أبلغ النـُعـمان عـني ملأ كا ً إنه قـد طال حبسي وانتـظاري
ثم حُذِفـَت الهَمزة من ملأ ك فأصبحت مَلا ك أو مَـلـَك ، ولكن عـند الجَمع رُدَت الهَـمزة فأصبحت ملآ ئـِكة.
وكـُلنا نعلم أن الملآئِكة تحمل رسائِل الله كما في قوله تعالى
} { [ المُرسلات : 1 ]
} { [ فاطر : 1 ]
ملحوظة : ــ من يُخبرنا بالنبأ يُسمى نـَبـِيء ثم حُـذِ فـَت الهَمزة أيضا ً لنقـول : نبي وعـند الجَمع رُدَت الهَمزة أنبـياء
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
* المُعجم الوجيز لمَجمع اللغة العـربية ومُعجم لسان العـرب لابن منظور
خامسا ً p توافـُق السورة مع سور أ ُخرى i
[ أ ] بُمقارنة سورة القـدر بأول سورة الدُخان نجد الآتي :ـ
}
{ [ سورة الدُخـَان ]
(1) الآية الثـالثة من سورة الدُخان تـصف لـنا اللـيلة بأنها لـيلة
مُباركة فإذا انتـقـلنا إلى الآية الثالثة أيضا ً من سورة القدر لوجدنا مقـدار هذه البركة بأنها خيرٌ من ألف شهر.
(2) الآية الرابعة من سورة الدُخان نجد قول الله عز وجل
( فـيها يُـفرقُ كلُ أمر ) فإذا انتقـلنا إلى الآية الرابعة أيضا ً
من سورة القـدر لوجدنا قـوله تعالى ( فـيها من كل أمر )
ولذلك ليس من المَعـقول والمقـبول أن نقول أن الليلة التي في سورة الدُخـَان هي ليلة النصف من شهر شعـبان ،
لأن قول الله ( إنا أنزلناه ) في أول الآية أي نزول القـُرآن في شهر رمضان وليس شهر شعـبان كما في قوله تعالى
} { [ البقرة : 185 ]
[ ب] بُمقارنة سورة القدر أيضا ً بقوله تعالى في أول سورة الفجر
} { [ سورة الفجر ]
(1) الآية الثالثة تـُشير إلى الوقـت التي تأتي فـيه ليلة القـدر
( فهي تأتي في ليلة شفع أو وتـر ) فـسُبحان الله تعالى الذي
جمع الشفع والوتـر في ليلة واحدة.
(2) الآية الرابعة تـُـشير إلى ليلة القـدر ذاتها حيث تسري فـيها
رحمة الله حتى مطلع الفجر ( آخر سورة القـدر )
بل إن اسم السورة ذاته يُـشير إلى أول فجر للإسلام بعـد أن أنزل الله تعالى القــُرآن في ليلة القـدر الأولى بغار حرآء بمكة المكرمة ،
فأقـسم الله بهذا الفجر الأول للإسلام في أول سورة الفجر.
Subscribe to:
Posts (Atom)
